BERITA TERBARU
Cara Irit BBM Tanpa Ganti Kendaraan, Cukup Ubah Gaya Berkendara Kim Jong Un Pamer Rudal Berteknologi AI, Dunia Mengawasi Ketat Harga Minyak Dunia Turun, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan Darurat Biarkan Kopdes Tumbuh di Pinggir Jalan Perkuat Inklusi Investasi Digital, Rekening Emas BRImo Tumbuh Signifikan Usai Peluncuran Open Bundling Emas Dede Sunandar Pingsan Setelah Dihantam Tinju Vicky Prasetyo, Insiden Jadi Sorotan Publik Gempa Bumi Sumba Barat NTT: Warga Diminta Tetap Waspada Pasca Guncangan Basarnas Hentikan Penyelaman Cari Korban KM Virgo Transport 8 75 WNA Asal China Dievakuasi ke Polda Sulteng Usai Bentrok di Morowali Kementerian PU Salurkan 12.000 Liter Air untuk Dukung Pemadaman Kebakaran TPA Buku Deru-Deru
INTERNASIONAL

Harga Minyak Dunia Turun, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan Darurat

Harga Minyak Dunia Turun, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan Darurat
dok. CNBC Indonesia

Harga minyak mentah dunia turun pada perdagangan Senin (5/10), setelah negara-negara G7 menyepakati pelepasan cadangan minyak darurat di tengah meningkatnya pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka turun 35 sen atau 0,34 persen menjadi US$101,90 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 62 sen atau 0,68 persen menjadi US$90,49 per barel.

Penurunan tersebut terjadi setelah G7 pada Jumat (2/10) menyepakati pelepasan 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menambah pasokan energi global sekaligus meredakan tekanan harga bahan bakar.

Negara-negara G7 juga berkomitmen untuk tidak memberlakukan pembatasan ekspor energi setelah mendapat tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pelepasan cadangan ini akan menambah pasokan di pasar ketika ekspor minyak mentah dari Timur Tengah mulai meningkat.

Data pengiriman menunjukkan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah bahkan telah melampaui tingkat sebelum perang dalam beberapa hari pada pekan terakhir September, meski masih terjadi serangkaian serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz.

Kepala Analis KCM Trade Tim Waterer mengatakan keputusan G7 telah mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dalam jangka pendek. Menurutnya, pemulihan ekspor Arab Saudi ikut memberikan tekanan terhadap harga minyak.

“Kombinasi tersebut cukup untuk menekan harga untuk saat ini, meskipun risiko kerusakan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi di sekitar kawasan Teluk belum hilang,” ujar Tim.

Di sisi lain, Saudi Aramco secara mengejutkan memangkas harga jual minyak mentah untuk pasar Asia pada November ke level terendah dalam enam tahun terakhir.

Namun, risiko geopolitik masih menjadi perhatian pasar. Kelompok Houthi mengklaim melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah fasilitas Saudi Aramco. Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi juga melancarkan operasi militer untuk merebut wilayah yang dikuasai Houthi.

Ketidakpastian tersebut membuat prospek pasokan minyak global masih rentan. OPEC+ juga menunda peninjauan kapasitas produksi yang berkaitan dengan penetapan kuota 2027 akibat konflik yang mengganggu proyek peningkatan kapasitas di Timur Tengah.

Di Eropa, ancaman tambahan terhadap pasokan muncul dari rencana Ukraina meningkatkan serangan terhadap kilang minyak Rusia. Kondisi ini membuat pasar minyak global tetap berada dalam tekanan meski harga mengalami penurunan pada awal pekan.