BERITA TERBARU
Silaturahmi Alumni Sunan Drajat, Wamen Viva Yoga Ajak Alumni Santri Kembangkan Perekonomian di Kawasan Transmigrasi Hari Kesaktian Pancasila, Kementan Tegaskan Gotong Royong Jadi Kekuatan Swasembada Pangan Pertamina UMK Academy 2026 Hadirkan Pelatihan dan Pendampingan Pengembangan Usaha Penerapan ESG Diakui Dunia, BRI Jadi Satu-satunya Bank di Indonesia yang Masuk S&P Global Sustainability Yearbook 2026 Ajinomoto dan BAZNAS Hadirkan Dapur Umum Bantu Warga Terdampak Bencana di Flores Banjir Bangkok Ganggu 330 Penerbangan Thai Airways, 5.600 Bagasi Tertahan PT Asahimas Chemical dan 7 SMA/SMK Kunjungi PIPB, Perkuat Sinergi Pengembangan SDM Industri Petrokimia Pengukuran Terjadwal, Warga Kota Bengkulu Rasakan Presisi Waktu Jadwal Ukur Tanah Prabowo Siapkan BSU Rp900 Ribu untuk 13,3 Juta Pekerja Jaga Keamanan Pangan Sumber Protein, BGN–KKP Perkuat Cold Chain
INTERNASIONAL

Banjir Bangkok Ganggu 330 Penerbangan Thai Airways, 5.600 Bagasi Tertahan

Banjir Bangkok Ganggu 330 Penerbangan Thai Airways, 5.600 Bagasi Tertahan
dok. detiktravel.com

Banjir yang melanda Bangkok, Thailand, pada 24-25 September 2026 mengganggu operasional Thai Airways. Sekitar 5.600 bagasi penumpang tertahan dan berdampak terhadap sekitar 330 penerbangan maskapai tersebut.

Pemerintah Thailand menilai gangguan operasional itu tidak sepenuhnya disebabkan oleh banjir. Kesiapan operasional dan manajemen Thai Airways dalam menghadapi kondisi darurat juga menjadi sorotan.

Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand, Surasak Phancharoenworakul, mengatakan banjir memang membuat sejumlah pegawai kesulitan mencapai tempat kerja. Namun, ia menilai Thai Airways seharusnya memiliki rencana operasional yang lebih baik untuk menghadapi situasi tersebut.

“Saya sendiri mengalami masalah ini saat kembali ke Thailand dari Jepang menggunakan Thai Airways,” kata Surasak, seperti dilansir Bangkok Post, Rabu (30/9).

Hujan deras dan banjir membuat ratusan pegawai tidak dapat bekerja serta mengganggu operasional di Bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang. CEO Thai Airways Chai Eamsiri mengakui perusahaan keliru dalam memperkirakan dampak banjir terhadap operasional.

Sekitar 200-300 dari total 500 staf darat Thai Airways tidak dapat masuk kerja selama gangguan berlangsung. Dalam kondisi normal, maskapai mengoperasikan sekitar 110 penerbangan setiap hari.

Akibat kekurangan personel, hampir seluruh penerbangan mengalami keterlambatan. Thai Airways kemudian memangkas sekitar 30 persen penerbangan hariannya untuk memberikan waktu bagi operasional kembali normal.

Maskapai menargetkan penumpukan bagasi dapat diselesaikan dalam tiga hari. Penumpang yang terdampak juga dapat mengajukan klaim kompensasi.

Surasak turut mempertanyakan keputusan Thai Airways mengalokasikan sebagian staf untuk menangani maskapai lain yang menggunakan layanan ground handling mereka. Menurutnya, kebijakan tersebut diduga berkaitan dengan upaya menghindari penalti kontrak.

Pemerintah juga mengkritik lambannya Thai Airways memanfaatkan bantuan eksternal. Personel militer dikerahkan untuk membantu menangani penumpukan bagasi, sementara Airports of Thailand (AOT) menyediakan ruang tambahan.

Thai Airways kemudian menggandeng tiga perusahaan jasa pengiriman, termasuk Thailand Post, untuk mengatasi persoalan bagasi.

Wakil Menteri Transportasi Thailand Siripong Angkasakulki memperingatkan buruknya pelayanan tersebut dapat berdampak terhadap bisnis Thai Airways.

“Jika Thai Airways memilih untuk tidak menjaga kepentingan penumpangnya, dampak bisnis dan kerugian yang ditimbulkan pada akhirnya akan kembali kepada perusahaan itu sendiri,” kata Siripong.