Industri Drakor Korea Selatan Krisis, Produksi Anjlok 30 Persen
Industri drama Korea Selatan tengah menghadapi krisis serius di tengah popularitas gelombang Hallyu yang semakin mendunia. Kenaikan biaya produksi, menyusutnya investasi, hingga dominasi platform streaming global disebut mengancam keberlangsungan industri drakor.
Krisis tersebut disuarakan belasan asosiasi industri dalam konferensi pers di Korea Press Center, Seoul, Rabu (4/11). Mereka menilai persoalan ini bukan sekadar masalah finansial, melainkan ancaman bagi ekonomi Korean Wave secara nasional.
Korea JoongAng Daily melaporkan, Kamis (5/11), Presiden Asosiasi Produksi Drama Korea Song Byeong-joon mengatakan kesuksesan drakor dalam mendorong ekspor makanan, kosmetik, mode, dan pariwisata tidak sejalan dengan kondisi industri produksi domestik.
Menurutnya, biaya produksi yang terus meningkat dan kapasitas investasi yang menurun menciptakan situasi ketika perusahaan justru merugi meski menggelontorkan modal besar.

Dampaknya, jumlah produksi drama Korea anjlok sekitar 30 persen dalam dua tahun, dari 141 judul pada 2022. Produksi stasiun televisi besar seperti KBS, MBC, dan SBS juga mengalami penurunan, dari 91 judul pada 2012 menjadi hanya 32 judul pada 2024.
Pelaku industri turut menyoroti dominasi Netflix dan Disney+ yang dinilai melemahkan kemampuan perusahaan lokal mempertahankan hak kekayaan intelektual. Ancaman AI dan menjamurnya drama pendek juga memperburuk kondisi lapangan kerja bagi penulis, produser, dan kru kreatif.
Anggaran Pemerintah Dipangkas
Ironisnya, anggaran Kementerian Kebudayaan Korea Selatan untuk sektor ini justru dipangkas dari 91,8 miliar won menjadi 87,3 miliar won pada 2027.
Padahal, ekspor Korean Wave pada 2025 mencapai US$18,98 miliar, termasuk US$1,25 miliar dari industri penyiaran dan video.
Asosiasi industri mendesak pemerintah membentuk dana investasi jangka menengah dan panjang sebesar 1 triliun won untuk mendukung produksi drama lokal.
Mereka menilai pemulihan jumlah produksi penting agar talenta muda tetap memiliki kesempatan berkembang dan industri drakor tidak semakin bergantung pada modal asing.


