BERITA TERBARU
Apple Peringatkan Bahaya Agen AI, Bisa Picu Tuntutan Hukum dan Rusak Reputasi Persija Jakarta dan PSM Makassar Masuk Daftar Klub Penunggak Gaji Pemain Warga Iran Sorak Kemenangan Demokrat di Pemilu AS, Trump Kena Pukulan Politik Wamen Ossy Laporkan Progres Dukungan Kementerian ATR/BPN dalam Percepatan Pembangunan KSPEAN di Empat Provinsi Prioritas Alasan BGN Rekrut Pejabat KPK, Sudaryono: Perkuat Komitmen Anti Korupsi Optimalkan Pemanfaatan Tanah, Plh. Dirjen PPTR: Manfaat Nyata untuk Masyarakat BGN Pastikan Gaji Pengawas Gizi dan Keuangan Tak Dipotong dari Anggaran Operasional Rp3.000 Mentan Amran Dorong FKPPI Gerakkan Ekonomi Anggota Lewat Pertanian BAZNAS RI: Bantuan KSrelief Perkuat Pemulihan Penyintas Gempa NTT Kementerian PU Dorong INACOLD Perkuat Tata Kelola Bendungan Nasional, 945 Ahli Tersertifikasi
TREN

NASA Deteksi Karbon Monoksida Tinggi di Indonesia, Ini Bahaya bagi Tubuh

NASA Deteksi Karbon Monoksida Tinggi di Indonesia, Ini Bahaya bagi Tubuh
dok. portal jtv

Citra satelit Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjukkan konsentrasi karbon monoksida (CO) yang tinggi di atmosfer Indonesia. Gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau ini dapat menghambat pasokan oksigen ke organ tubuh hingga menyebabkan keracunan fatal.

Peta pada platform Eyes on the Earth milik NASA memperlihatkan warna merah tua mendominasi wilayah atmosfer Indonesia, mulai dari Sumatra hingga Papua. Warna tersebut menunjukkan konsentrasi CO berada pada bagian atas skala pemetaan.

Kendati demikian, data satelit itu menggambarkan konsentrasi karbon monoksida pada ketinggian sekitar 5.500 meter. Karena itu, data tersebut belum dapat digunakan untuk menentukan tingkat paparan langsung yang dialami masyarakat di permukaan.

Konsentrasi CO yang tinggi terpantau sejak awal Oktober. Sebaran gas tersebut diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). NASA menyebut kebakaran hutan sebagai salah satu sumber karbon monoksida, selain kendaraan bermotor, aktivitas vulkanik, serta pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna.

Mengutip laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), karbon monoksida yang terhirup dapat berikatan dengan hemoglobin dalam sel darah merah. Ikatan tersebut membentuk karboksihemoglobin (COHb) yang mengurangi kemampuan darah mengangkut oksigen ke jaringan tubuh.

Kondisi ini dapat menyebabkan hipoksia atau kekurangan oksigen. Organ seperti otak dan jantung menjadi sangat rentan karena membutuhkan pasokan oksigen yang memadai untuk menjalankan fungsinya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga menjelaskan hemoglobin memiliki ikatan yang lebih kuat dengan karbon monoksida dibandingkan oksigen. Paparan CO bahkan dapat memperburuk kekurangan oksigen pada otot jantung, terutama pada orang dengan riwayat penyakit jantung koroner.

Bahaya karbon monoksida semakin besar karena gas ini sulit dikenali tanpa alat pendeteksi. Gejala keracunannya meliputi sakit kepala, mual, muntah, kelelahan, pusing, dan sesak napas. Pada kondisi berat, korban dapat mengalami kebingungan, gangguan penglihatan, kehilangan koordinasi, kejang, koma, hingga meninggal dunia.

Paparan CO tidak hanya berasal dari kebakaran di luar ruangan. Kompor gas, pemanas berbahan bakar minyak tanah, cerobong bocor, serta gas buang kendaraan juga dapat menjadi sumber keracunan, terutama di ruangan tertutup dengan ventilasi buruk.

Jika dicurigai terjadi keracunan karbon monoksida, korban harus segera dijauhkan dari sumber gas apabila aman dilakukan dan mendapatkan pertolongan medis. Pemberian oksigen harus dilakukan oleh tenaga terlatih. Penolong juga perlu menghindari memasuki area tercemar tanpa perlindungan yang memadai.