Langit Jingga di Indonesia Jadi Sorotan Media Asing, Asap Karhutla Meluas
Fenomena langit berwarna jingga di Kalimantan Tengah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi sorotan sejumlah media internasional. Asap tebal yang menyelimuti wilayah tersebut dilaporkan berkaitan dengan tingginya polusi udara hingga berdampak ke negara-negara tetangga.
Media Singapura, Channel News Asia (CNA), melaporkan langit jingga di Kalimantan Tengah pada 14 Oktober terjadi ketika konsentrasi partikel polutan PM2.5 dilaporkan melampaui 3.000.
PM2.5 merupakan partikel berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan polutan ini berisiko meningkatkan gangguan kesehatan, termasuk penyakit paru-paru dan kardiovaskular.
Sementara itu, media Thailand Bangkok Post menyoroti kabut berwarna kuning dan oranye yang menyelimuti langit Kalimantan Tengah pada Rabu (14/10). Kondisi tersebut dikaitkan dengan kebakaran hutan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Bangkok Post juga melaporkan asap karhutla Indonesia menyebar ke sejumlah negara tetangga, termasuk Malaysia, Singapura, dan Timor Leste. Dampaknya, Timor Leste dilaporkan meliburkan sekolah selama tiga hari akibat kabut asap.
Sorotan serupa datang dari media Barat, seperti BBC, CNN, dan Sky News. BBC menyebut Indonesia menghadapi musim kebakaran hutan yang disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam satu dekade terakhir. Kondisi kekeringan akibat fenomena El Nino dinilai memperparah kebakaran dan menyulitkan proses pemadaman.

BBC juga menyoroti upaya pemerintah Indonesia mengendalikan karhutla, termasuk operasi modifikasi cuaca atau cloud seeding. Namun, upaya tersebut disebut belum mampu mengatasi kebakaran secara menyeluruh.
Pemerintah juga mempertimbangkan penggunaan es kering atau dry ice untuk membantu memecah kabut di atmosfer. Menurut laporan BBC, uji coba tersebut direncanakan menggunakan sekitar 1,5 ton es kering.
Di sisi lain, CNN menyoroti kebakaran yang berlangsung berbulan-bulan di Kalimantan dan dampaknya terhadap kualitas udara di kawasan Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Singapura.
Sky News turut menyoroti risiko kesehatan akibat kabut asap serta peningkatan kasus gangguan pernapasan di sejumlah wilayah terdampak. Media tersebut juga mengutip perkiraan kelompok perlindungan lahan gambut Pantau Gambut yang menyebut 16 juta dari 24 juta hektare lahan gambut Indonesia semakin rentan terhadap kebakaran akibat berbagai faktor, termasuk deforestasi dan penipisan air tanah.
Meluasnya kabut asap kembali menyoroti tantangan Indonesia dalam menangani karhutla, terutama di tengah kondisi kering yang meningkatkan risiko kebakaran dan mengancam kesehatan masyarakat lintas negara.


