BERITA TERBARU
Layanan ATR/BPN Dekat Bantu Masyarakat Pahami Persyaratan dan Prosedur Layanan Pertanahan Gelar Patriot Cilik di Lima Sekolah Bomberay, TEP Unpad Susun Modul Bahasa Iha Bersama Dewan Adat Grading Dapur SPPG Dimulai, BGN Pastikan Kapasitas Layanan dan Keamanan Pangan Pemerintah Pastikan Pupuk Subsidi Tersedia, Dukung Kelancaran Musim Tanam 2026 Kementerian PU Normalisasi Kantong Lumpur Bendung Notog, Tingkatkan Kapasitas Irigasi 25.180 Hektare di Tegal Mentan Amran Buru Mafia Pangan, 340 Aduan Masuk Lewat Lapor Pak Amran Dai Muda Unisba Apresiasi Mentan Amran Lindungi Peternak, Kepastian Pasokan Pakan Jadi Prioritas 6 Cara Mengosongkan Storage iPhone yang Penuh agar Kinerja HP Kembali Optimal Trump Klaim AS Bisa Jadi Penguasa Iran, Sebut Kuasai Selat Hormuz Tumbuh Bersama Klasterku Hidupku, Komoditas Alpukat Angkat Taraf Hidup Petani di Kecamatan Sumberejo
NASIONAL

BGN dan HKTI: Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

BGN dan HKTI: Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
dok. BGN

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sekaligus Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Sudaryono, menegaskan pentingnya sinergi antara penguatan produksi pangan dalam negeri dan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menjaga ketahanan pangan nasional.

Menurutnya, optimalisasi potensi pertanian dan peternakan daerah menjadi kunci dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi petani dan peternak lokal. Hal tersebut disampaikan Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar saat menghadiri pelantikan Pengurus Dewan Pengurus Daerah (DPD) HKTI Provinsi Aceh, Selasa (13/10).

Mas Dar menjelaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBG turut ditopang oleh kemampuan Indonesia menjaga ketersediaan dan meningkatkan produktivitas pangan nasional. Ia mencontohkan perkembangan produksi pertanian di Aceh yang didukung oleh perbaikan irigasi, penyediaan pompa air, pupuk, serta benih.

Menurutnya, intervensi tersebut membantu petani meningkatkan frekuensi panen dan produktivitas lahan, termasuk pada wilayah yang sebelumnya hanya dapat melakukan panen satu kali dalam setahun. Upaya serupa perlu terus diperkuat agar pasokan pangan nasional tetap terjaga di tengah tantangan perubahan iklim dan fenomena El Nino.

Mas Dar menambahkan, pemenuhan kebutuhan pangan dalam pelaksanaan MBG perlu didukung oleh produksi domestik yang kuat, mulai dari sumber karbohidrat hingga protein hewani. Selain beras dan jagung, ketersediaan telur, ayam, ikan, serta susu menjadi bagian penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

Dalam konteks tersebut, keterlibatan petani dan peternak lokal menjadi elemen strategis. Penguatan produksi di tingkat daerah dan pembenahan rantai pasok diharapkan dapat menciptakan hubungan yang saling mendukung antara peningkatan gizi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi sektor pangan.

Melalui sinergi BGN dan HKTI, Mas Dar berharap potensi pertanian dan peternakan daerah dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kebutuhan pangan nasional. Aceh, yang memiliki potensi sebagai salah satu lumbung pangan Indonesia, diharapkan turut mengambil peran dalam memperkuat ketersediaan pangan sekaligus memasok kebutuhan bahan pangan untuk program pemerintah.

Ia menegaskan bahwa pelaksanaan MBG perlu terus dikembangkan dengan tata kelola yang baik, pengadaan bahan pangan yang transparan, serta keterlibatan produsen lokal.

Dengan pendekatan tersebut, program pemenuhan gizi diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi anak-anak sebagai penerima manfaat maupun bagi petani dan peternak sebagai penggerak produksi pangan nasional.