BERITA TERBARU
Gelar Patriot Cilik di Lima Sekolah Bomberay, TEP Unpad Susun Modul Bahasa Iha Bersama Dewan Adat Grading Dapur SPPG Dimulai, BGN Pastikan Kapasitas Layanan dan Keamanan Pangan Pemerintah Pastikan Pupuk Subsidi Tersedia, Dukung Kelancaran Musim Tanam 2026 Kementerian PU Normalisasi Kantong Lumpur Bendung Notog, Tingkatkan Kapasitas Irigasi 25.180 Hektare di Tegal Mentan Amran Buru Mafia Pangan, 340 Aduan Masuk Lewat Lapor Pak Amran Dai Muda Unisba Apresiasi Mentan Amran Lindungi Peternak, Kepastian Pasokan Pakan Jadi Prioritas 6 Cara Mengosongkan Storage iPhone yang Penuh agar Kinerja HP Kembali Optimal Trump Klaim AS Bisa Jadi Penguasa Iran, Sebut Kuasai Selat Hormuz Tumbuh Bersama Klasterku Hidupku, Komoditas Alpukat Angkat Taraf Hidup Petani di Kecamatan Sumberejo Sertipikat Tanah Masih atas Nama Orang Tua yang Sudah Meninggal? Berikut Ini Risikonya
NASIONAL

Grading Dapur SPPG Dimulai, BGN Pastikan Kapasitas Layanan dan Keamanan Pangan

Grading Dapur SPPG Dimulai, BGN Pastikan Kapasitas Layanan dan Keamanan Pangan
dok. BGN

Badan Gizi Nasional (BGN) akan melakukan penilaian atau grading terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah yang jumlah dapurnya telah melampaui kapasitas maksimal pelayanan kepada penerima manfaat. Langkah ini dilakukan untuk menjamin keamanan pangan sekaligus memastikan pemerataan distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Grading tahap pertama akan menyasar SPPG yang beroperasi di Pulau Jawa.

Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, mengatakan bahwa penataan melalui grading menjadi bagian dari upaya BGN memastikan setiap SPPG beroperasi sesuai kapasitasnya dan juga kebutuhan pelayanan di wilayah masing-masing. Dengan demikian, keberadaan SPPG tidak hanya berorientasi pada jumlah dapur yang beroperasi, tetapi juga mempertimbangkan ketepatan sasaran, kemampuan produksi, serta standar keamanan pangan.

“Grading ini penting untuk memastikan jumlah SPPG di suatu wilayah sebanding dengan kapasitas dan kebutuhan penerima manfaat. Kami ingin memastikan bahwa setiap dapur yang beroperasi mampu memberikan pelayanan secara optimal, baik dari sisi kapasitas produksi, kualitas makanan, terutama pemenuhan standar keamanan pangan,” ujar Prima pada Minggu (8/11).

Menurut Prima, pertumbuhan jumlah SPPG perlu diimbangi dengan pengelolaan yang terukur dan berbasis kebutuhan di lapangan. Sebab, konsentrasi SPPG yang terlalu tinggi di suatu wilayah berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan distribusi layanan, sementara wilayah lain masih membutuhkan penambahan akses pelayanan MBG.

Oleh karena itu, proses grading akan menjadi instrumen evaluasi untuk memetakan kondisi operasional SPPG berdasarkan kapasitas dan kebutuhan penerima manfaat. Hasil penilaian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi BGN dalam menentukan langkah penataan yang tepat, sehingga penyelenggaraan program dapat berjalan lebih efektif dan proporsional.

“Prinsipnya, kami ingin memastikan pelayanan MBG berjalan secara merata. Jangan sampai terdapat wilayah dengan jumlah SPPG yang terlalu padat, sementara di wilayah lain masih terdapat kebutuhan penerima manfaat yang belum terlayani secara optimal. Penataan ini harus dilakukan berdasarkan data dan kondisi riil di lapangan,” jelasnya.

Pelaksanaan grading tahap pertama di Pulau Jawa dipilih dengan mempertimbangkan kebutuhan penataan pada wilayah yang memiliki konsentrasi SPPG relatif tinggi. Evaluasi ini selanjutnya menjadi bagian dari upaya BGN membangun sistem pelayanan yang lebih terstruktur, dengan memperhatikan keseimbangan antara jumlah dapur, kapasitas produksi, jangkauan distribusi, dan jumlah penerima manfaat.

Melalui kebijakan tersebut, BGN menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat tata kelola Program MBG agar tidak hanya menjangkau semakin banyak masyarakat, tetapi juga memastikan setiap layanan memenuhi prinsip keamanan pangan, kualitas gizi, dan pemerataan akses.