BERITA TERBARU
Alasan BGN Rekrut Pejabat KPK, Sudaryono: Perkuat Komitmen Anti Korupsi Optimalkan Pemanfaatan Tanah, Plh. Dirjen PPTR: Manfaat Nyata untuk Masyarakat BGN Pastikan Gaji Pengawas Gizi dan Keuangan Tak Dipotong dari Anggaran Operasional Rp3.000 Mentan Amran Dorong FKPPI Gerakkan Ekonomi Anggota Lewat Pertanian BAZNAS RI: Bantuan KSrelief Perkuat Pemulihan Penyintas Gempa NTT Kementerian PU Dorong INACOLD Perkuat Tata Kelola Bendungan Nasional, 945 Ahli Tersertifikasi Perkuat Hubungan Indonesia–Rusia, DPD RI Dorong Kolaborasi Ekonomi Berbasis Potensi Daerah Beruntung Indonesia Sudah Swasmbada, Dunia kini Terancam Krisis Beras Akibat El Niño Irman Gusman Dorong Agam Jadi Percontohan Nasional Pengentasan Kemiskinan Berbasis Nagari Paviliun Wonderful Indonesia Raih “Best Stand Design in Asia” pada bursa pariwisata dunia WTM London 2026
NASIONAL

Beruntung Indonesia Sudah Swasmbada, Dunia kini Terancam Krisis Beras Akibat El Niño

Beruntung Indonesia Sudah Swasmbada, Dunia kini Terancam Krisis Beras Akibat El Niño
dok. Kementan

Keputusan Presiden Prabowo Subianto menjadikan swasembada pangan sebagai prioritas nasional dengan target empat tahun, yang berhasil diwujudkan hanya dalam waktu satu tahun, semakin menunjukkan arti strategisnya di tengah ancaman krisis pangan global. Saat ini, dunia menghadapi tekanan produksi beras akibat fenomena El Niño yang mulai mendorong kenaikan harga dan mengancam pasokan pangan sejumlah negara.

Laporan Bloomberg berjudul “Asian Rice Price Climbs Near Two-Year High in Inflation Threat” mengungkapkan bahwa harga acuan beras Asia telah mencapai level tertinggi dalam hampir dua tahun. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi pangan global karena El Niño mengganggu produksi di sejumlah negara produsen utama.

Berdasarkan data Asosiasi Eksportir Beras Thailand yang dikutip Bloomberg, harga beras putih Thailand dengan tingkat pecahan 5 persen mencapai US$499 per ton pada Rabu, tertinggi sejak Desember 2024. Kenaikan ini menunjukkan tekanan yang semakin besar pada pasar beras internasional.

Di Chicago, kontrak berjangka beras kasar (rough rice futures) bahkan telah meningkat lebih dari 80 persen sejak awal 2026. Kenaikan harga beras tersebut terjadi ketika harga komoditas biji-bijian utama lainnya, termasuk jagung dan gandum, justru mengalami penurunan.

Bloomberg menjelaskan bahwa kenaikan harga tersebut berkaitan erat dengan fenomena El Niño yang berlangsung saat ini. Kondisi cuaca kering yang lebih ekstrem mengganggu pertumbuhan dan produksi tanaman pangan di sebagian besar wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. Padahal, kedua kawasan tersebut menyumbang lebih dari separuh produksi beras dunia.

Tekanan ini semakin serius karena para petani di berbagai negara Asia sedang memasuki masa panen, sementara kondisi cuaca yang lebih kering dari biasanya menjadi kendala produksi. India, yang merupakan eksportir beras terbesar dunia, termasuk negara yang menghadapi tantangan tersebut.

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), sebagaimana dikutip Bloomberg, memperkirakan produksi beras global akan mengalami penurunan pada musim ini untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) juga memperkirakan produksi beras dunia akan menurun pada musim 2026–2027.

Thailand, salah satu eksportir utama beras dunia, juga menghadapi risiko gangguan produksi. Menurut laporan terbaru USDA Foreign Agricultural Service, risiko terbesar berada pada tanaman padi di luar musim tanam utama (off-season crop) yang sangat bergantung pada ketersediaan air irigasi.

Dampak kenaikan harga tersebut bahkan mulai terasa di tingkat konsumen. Bloomberg melaporkan harga beras di Filipina, yang merupakan importir beras terbesar dunia, melonjak 21 persen pada Oktober 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, berdasarkan data pemerintah Filipina.

Bloomberg juga mengingatkan bahwa kenaikan harga di tingkat grosir biasanya membutuhkan waktu sebelum sepenuhnya diteruskan ke pasar ritel. Namun, kenaikan harga di Filipina menjadi indikasi bahwa tekanan pasar internasional mulai dirasakan konsumen.

Situasi ini memperlihatkan betapa rentannya ketahanan pangan dunia terhadap perubahan iklim. Beras merupakan makanan pokok bagi masyarakat di berbagai kawasan Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Gangguan produksi di negara-negara produsen utama berpotensi memengaruhi pasokan dan harga pangan lintas negara.

Di tengah perkembangan tersebut, Indonesia memiliki modal lebih kuat setelah berhasil mencapai swasembada beras pada 2025. Berdasarkan data tetap Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 30,62 juta ton.

Kekuatan produksi tersebut ditopang ketersediaan beras nasional yang mencapai sekitar 25 juta ton. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa jumlah tersebut terdiri atas sekitar 4,5 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog, sekitar 10 juta ton potensi beras dari standing crop atau tanaman padi yang siap dipanen, serta sekitar 10 juta ton stok di sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka).

Dengan kebutuhan beras nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan, total ketersediaan tersebut setara dengan kebutuhan sekitar 10 bulan ke depan, atau hingga Juli–Agustus 2027.

“Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global,” ungkap Amran.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia mempertahankan swasembada beras tanpa impor menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan nasional. Menurutnya, negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri memiliki perlindungan lebih kuat ketika terjadi konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok internasional.

“Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa,” tegasnya.

Untuk menjaga keberlanjutan produksi di tengah ancaman El Niño, pemerintah terus memperkuat optimalisasi lahan, pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, serta penggunaan benih tahan kekeringan. Presiden Prabowo memberikan dukungan kepada petani melalui peningkatan alokasi pupuk bersubsidi menjadi 9,55 juta ton, penurunan harga pupuk sebesar 20 persen, dan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram.

Mentan Amran menekankan bahwa kondisi pangan nasional yang relatif aman harus disyukuri sekaligus dijaga. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi agar Indonesia tidak kembali bergantung pada pasokan pangan negara lain.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur pangan Indonesia aman berkat kebijakan tepat Bapak Presiden. Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi. Ada keringat petani dan ada negara yang hadir,” pungkasnya.

Di tengah ancaman penurunan produksi dan kenaikan harga beras dunia, keberhasilan Indonesia mempercepat swasembada pangan menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas pasokan, melindungi masyarakat dari gejolak harga, serta mempertahankan kedaulatan pangan nasional.

Ketika banyak negara menghadapi ketidakpastian pasokan akibat El Niño, Indonesia memiliki kekuatan produksi dan cadangan pangan sendiri. Swasembada bukan sekadar kemampuan memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga perlindungan strategis agar rakyat Indonesia tidak mudah terdampak gejolak pangan dunia.