Putin Bertemu Pejabat Iran, Bahas Keamanan Regional dan Situasi Pascaperang
Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan pejabat tinggi keamanan Iran Mohsen Rezaei di Kremlin, Moskow, Kamis (5/11). Pertemuan tersebut berlangsung di tengah upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Pertemuan ini menjadi perhatian di tengah perubahan peta politik AS dan Israel. Partai Republik yang mendukung Presiden Donald Trump kehilangan mayoritas di Kongres setelah pemilu sela 3 November 2026. Sementara itu, Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga kehilangan dukungan mayoritas di parlemen.
Meski demikian, pemerintahan Netanyahu masih menjalankan tugas sebagai pemerintahan sementara hingga pemerintahan baru terbentuk. Di AS, mayoritas baru Demokrat baru berlaku setelah Kongres periode berikutnya mulai bertugas pada Januari 2027.
Dikutip dari Reuters, Jumat (6/11), Rezaei datang ke Kremlin membawa pesan dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei untuk Putin. Kedua pihak membahas sejumlah persoalan regional, pengaturan keamanan setelah perang, serta kerja sama bilateral.
“Masalah-masalah regional penting dibahas dengan Putin, dan percakapan penting terjadi mengenai periode pascaperang dan pengaturan keamanan regional,” kata Rezaei setelah pertemuan tersebut.
Selain membahas situasi geopolitik, kedua negara juga menyinggung rencana pembangunan jalur pipa gas dari Rusia ke Iran. Proyek tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi kekurangan gas di Iran sekaligus membuka peluang ekspor gas Rusia ke negara-negara tetangga Iran.

Pertemuan berlangsung ketika upaya perdamaian Iran dan AS masih menghadapi sejumlah hambatan. Pembahasan kedua negara mencakup masa depan Selat Hormuz, blokade AS terhadap pelabuhan Iran, sanksi ekonomi, serta kemungkinan dimulainya kembali perundingan program nuklir Teheran.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan negaranya tidak akan tunduk kepada tekanan Washington. Dalam pernyataan tertulis pada Rabu (4/11), ia menyatakan tidak boleh ada sedikit pun kecenderungan untuk menyerah kepada AS.
Rezaei juga mengungkapkan Iran telah mengajukan tujuh syarat kepada Washington sebagai bagian dari upaya diplomasi. Ia menegaskan Teheran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz maupun melanjutkan negosiasi sebelum tuntutan tersebut dipenuhi.
“Kami telah mengumumkan tujuh syarat kepada Amerika. Selama mereka tidak melaksanakan tujuh syarat kami, kami tidak akan membuka Selat Hormuz maupun melakukan negosiasi,” ujar Rezaei.
Dengan demikian, pertemuan Rusia dan Iran menjadi salah satu perkembangan penting di tengah ketidakpastian penyelesaian konflik di kawasan Timur Tengah.


