BRIN dan ISTIC UNESCO Latih Periset Bangun Kolaborasi Internasional
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong para periset untuk meningkatkan kemampuan komunikasi sains guna memperkuat diplomasi dan membuka peluang kolaborasi internasional. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Short Course on Science and Technology Diplomacy yang bekerja sama dengan ISTIC UNESCO di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Pelatihan ini menjadi wadah bagi para peserta untuk memahami pentingnya menyampaikan hasil riset secara efektif kepada berbagai kalangan, termasuk masyarakat umum dan pengambil keputusan di tingkat internasional.
Direktur Penguatan Kemitraan Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, Joannes Ekaprasetya Tandjung, menjelaskan bahwa komunikasi sains tidak sekadar menyampaikan hasil penelitian. Periset juga perlu mampu menjelaskan inti dan substansi riset menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh audiens nonahli tanpa menghilangkan makna ilmiahnya.
Dikutip dari laman resmi BRIN pada Kamis (24/9/2026), Joannes menegaskan bahwa nilai seorang periset tidak hanya ditentukan oleh invensi yang dihasilkan, tetapi juga kemampuannya mengomunikasikan hasil tersebut kepada masyarakat, termasuk komunitas internasional.
Menurut Joannes, diplomasi sains juga berkaitan erat dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Prinsip tersebut membuka ruang bagi Indonesia untuk membangun kerja sama dan memperkuat jejaring riset dengan berbagai negara.
Ia mencontohkan kerja sama kesiapsiagaan pandemi melalui pendekatan One Health bersama Prancis, Belanda, dan Jerman. Selain itu, terdapat inisiatif pengembangan teknologi kesehatan Cryo-EM bersama Spanyol.
Berbagai kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa kerja sama riset tidak hanya menghasilkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dapat memperkuat hubungan Indonesia dengan negara mitra.
Joannes turut menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing bagi peneliti agar mampu menyampaikan hasil riset secara efektif dalam forum internasional. Pesan yang disampaikan juga perlu disesuaikan dengan karakteristik audiens dan konteks diplomasi.
Dalam kegiatan yang sama, Prof. Zamri Mohamed dari ISTIC UNESCO memandu simulasi untuk melatih peserta mempresentasikan inisiatif diplomasi sains yang relevan bagi Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa presentasi diplomasi perlu disampaikan secara jelas, relevan, dan kredibel, serta memiliki tindak lanjut yang konkret.
Melalui pelatihan ini, BRIN berharap kemampuan komunikasi para periset semakin berkembang sehingga hasil penelitian Indonesia dapat dipahami secara lebih luas dan membuka peluang kolaborasi internasional yang berkelanjutan.


