BERITA TERBARU
Ubah Limbah Sawit Jadi Pakan Bernilai, TEP UNAIR Dampingi Peternak di Prafi Kementerian PU Gerak Cepat Pulihkan Konektivitas Aceh – Sumut yang Terdampak Longsor Kemenpar Gelar AK-RT 2026 untuk Tingkatkan Kunjungan Wisatawan ASEAN dan Korea Kementerian PU Tinggikan Jalan Nasional Semarang-Demak, Kurangi Genangan Rob Kaligawe Jelang Nataru 2026/2027 Dari Jagung SPHP hingga Pengawasan Integrator, Mentan Amran Tegas Perkuat Peternak Rakyat Perkuat Sinergi, Mendag Busan Buka Pasar Murah di Mataram Jaga Harga Bapok Soroti Insiden Penembakan di Pulo Keunari, Tgk Ahmada: Rakyat Harus Dilindungi, Bukan Ditakuti! DPD RI Perkuat Perjuangan Aspirasi Daerah melalui Legislasi, Pengawasan, dan Dialog Publik Mendag Busan Pantau Pasar Kebon Roek Mataram, Cabai dan Telur Ayam Surplus Jelang Nataru Dendeng Balado dan Sambal Cumi Racikan Khas Minangkabau Dapurnya Ami Berhasil Menjangkau Pasar Lebih Luas bersama linkumkm by BRI
GAYA

Pil KB untuk Atasi Jerawat, Perempuan Ini Tak Sadar Ada Kanker Rahim

Pil KB untuk Atasi Jerawat, Perempuan Ini Tak Sadar Ada Kanker Rahim
dok. alodokter

Seorang perempuan berusia 37 tahun asal Miami, Florida, Amerika Serikat (AS), Claudia Pereira, tak menyangka pil KB yang dikonsumsinya untuk mengatasi jerawat justru membuat kanker langka di rahimnya terdeteksi.

Pereira awalnya menggunakan pil KB untuk mengatasi adult acne atau jerawat yang muncul pada usia dewasa. Namun, setelah mulai mengonsumsi obat tersebut, ia mengalami pendarahan berkepanjangan selama berbulan-bulan.

Dokter yang meresepkan pil KB sempat mengatakan tubuhnya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Meski demikian, pendarahan terus berlangsung hingga Pereira mengalami anemia setelah enam bulan.

“Saya berpikir, ‘Oke, apakah ini normal?’ Ini terlalu banyak. Saya jadi anemia setelah enam bulan,” kata Pereira, dikutip dari USA Today.

Kondisinya semakin memburuk ketika pendarahan berubah menjadi cairan kental. Pereira kemudian mendatangi unit gawat darurat dan menjalani serangkaian pemeriksaan.

Hasil pemeriksaan menemukan massa berukuran 7 sentimeter di rahimnya. Pemeriksaan patologi memastikan massa tersebut bukan tumor jinak, melainkan leiomyosarcoma uterus, jenis kanker langka yang berkembang pada otot polos rahim.

Ahli onkologi medis sarkoma di Sylvester Comprehensive Cancer Center, Gina D’Amato, menjelaskan kanker tersebut dapat memiliki reseptor estrogen dan progesteron. Tumor Pereira diketahui positif memiliki reseptor tersebut.

Menurut D’Amato, hormon estrogen dari siklus menstruasi mungkin telah membantu pertumbuhan kanker. Tambahan hormon dari pil KB diduga membuat tumor berkembang lebih cepat hingga akhirnya terdeteksi.

Meski begitu, ia menegaskan Pereira tidak mengonsumsi pil KB dalam waktu lama. Kondisi tersebut justru memungkinkan kanker ditemukan lebih awal.

Tumor kemudian berhasil diangkat. Hasil pemindaian menunjukkan belum ada bukti kanker menyebar ke bagian tubuh lain.

Pada Juli tahun ini, Pereira merayakan satu tahun bebas kanker dengan berlibur ke Bali bersama keluarga.

Ia berharap kisahnya dapat meningkatkan kesadaran terhadap kanker langka dan mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan perubahan tubuh.

“Jangan ragu. Dengarkan tubuhmu. Tubuhmu akan selalu memberitahumu jika ada sesuatu yang salah. Aku adalah buktinya,” ujarnya.

Pereira juga bersyukur jerawat yang ingin diatasinya menjadi alasan kanker tersebut terdeteksi lebih awal.