BERITA TERBARU
Ubah Limbah Sawit Jadi Pakan Bernilai, TEP UNAIR Dampingi Peternak di Prafi Kementerian PU Gerak Cepat Pulihkan Konektivitas Aceh – Sumut yang Terdampak Longsor Kemenpar Gelar AK-RT 2026 untuk Tingkatkan Kunjungan Wisatawan ASEAN dan Korea Kementerian PU Tinggikan Jalan Nasional Semarang-Demak, Kurangi Genangan Rob Kaligawe Jelang Nataru 2026/2027 Dari Jagung SPHP hingga Pengawasan Integrator, Mentan Amran Tegas Perkuat Peternak Rakyat Perkuat Sinergi, Mendag Busan Buka Pasar Murah di Mataram Jaga Harga Bapok Soroti Insiden Penembakan di Pulo Keunari, Tgk Ahmada: Rakyat Harus Dilindungi, Bukan Ditakuti! DPD RI Perkuat Perjuangan Aspirasi Daerah melalui Legislasi, Pengawasan, dan Dialog Publik Mendag Busan Pantau Pasar Kebon Roek Mataram, Cabai dan Telur Ayam Surplus Jelang Nataru Dendeng Balado dan Sambal Cumi Racikan Khas Minangkabau Dapurnya Ami Berhasil Menjangkau Pasar Lebih Luas bersama linkumkm by BRI
GAYA

Pakar Ingatkan Gen Z, Keseringan Pakai Headphone Bisa Picu Kesepian

Pakar Ingatkan Gen Z, Keseringan Pakai Headphone Bisa Picu Kesepian
dok. media indonesia

Penggunaan headphone dan earbuds kini menjadi bagian dari keseharian Generasi Z (Gen Z). Mulai dari perjalanan menuju kampus, belajar, bekerja, hingga nongkrong di kafe, perangkat audio kerap digunakan untuk menemani berbagai aktivitas. Namun, para pakar mengingatkan kebiasaan memakai headphone secara berlebihan berpotensi mengurangi interaksi sosial dan meningkatkan rasa kesepian.

Persoalannya bukan terletak pada kebiasaan mendengarkan musik, melainkan kesempatan berinteraksi dengan lingkungan sekitar yang semakin berkurang. Ketika seseorang terus menggunakan headphone, peluang untuk menyapa orang lain, memulai percakapan, atau membangun hubungan baru bisa terlewatkan.

Berdasarkan survei Edison Research yang dilakukan di Amerika Serikat pada Mei lalu, kelompok usia 13-34 tahun rata-rata menghabiskan 4,5 jam sehari untuk mendengarkan musik, podcast, maupun konten audio lainnya.

Sementara itu, data Spotify menunjukkan sekitar 56 persen pemutaran musik global di platform tersebut berasal dari Gen Z sepanjang 1 Januari hingga 25 November 2025, seperti dilaporkan CNN Health.

Pendiri sekaligus Direktur Center for Healthy Minds di University of Wisconsin-Madison, Richard Davidson, menyoroti kebiasaan mahasiswa yang terus memakai headphone saat beraktivitas di lingkungan kampus.

Menurut Davidson, kondisi tersebut membuat mahasiswa kehilangan kesempatan untuk berkenalan dengan orang baru dan membangun hubungan sosial dengan individu dari latar belakang berbeda.

Ia juga mengamati banyak orang memilih menatap ponsel ketika menunggu di kedai kopi, alih-alih menyapa orang di sekitarnya.

Di sisi lain, neuropsikolog Dr. Amber Johnston menjelaskan musik dapat merangsang dopamin dan pusat penghargaan di otak. Hal ini membuat aktivitas mendengarkan musik terasa menyenangkan, terutama ketika seseorang menghadapi pekerjaan yang membosankan.

Namun, jika musik selalu digunakan untuk menghindari kebosanan, seseorang bisa semakin sulit menikmati waktu tanpa stimulasi tambahan.

Johnston menyarankan agar seseorang mulai membiasakan diri menghabiskan waktu tanpa terus mencari hiburan. Cara ini dapat membantu meningkatkan toleransi terhadap kebosanan dan mengurangi ketergantungan pada rangsangan eksternal.

Davidson juga mengingatkan pentingnya melatih kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Sesekali melepas headphone saat berjalan, menunggu, atau berada di ruang publik dapat membuka peluang terjadinya interaksi sederhana.

Meski demikian, penggunaan headphone tidak serta-merta menyebabkan kesepian. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan antara menikmati musik dan membangun hubungan sosial.

Dengan mengurangi penggunaan headphone pada momen tertentu, Gen Z dapat lebih hadir dalam aktivitas sehari-hari sekaligus memperbesar kesempatan untuk menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.