BERITA TERBARU
Kemnaker Uji Coba Pelatihan Terhubung Industri untuk Tekan Kesenjangan Kompetensi Di Tengah Ketidakpastian Global, Pariwisata Indonesia Catat Pertumbuhan Wisman dan Wisnus BP Tapera Perkuat Kolaborasi Lintas Kementerian/Lembaga untuk Percepatan Pembangunan Perumahan Nasional Biaya Haji 2027 Turun, Jemaah Cukup Lunasi Rp23,24 Juta Mentan Amran Pastikan Produksi Pangan Tetap Aman di Tengah Tantangan Iklim 38 UMKM Binaan Pertamina Bidik Pasar Lebih Luas di INACRAFT October 2026 Tinjau KSPEAN Wanam, Menteri Dody Pastikan Panen Perdana Dukung Visi Presiden Prabowo UU Pelindungan Ketenagakerjaan Untuk Pekerja yang Lebih Adil, Aman dan Sejahtera Fermin Aldeguer Ungkap Alasan Pakai Jersey Timnas Indonesia di Mandalika YouTube Ubah Algoritma Shorts, Konten Reupload Bakal Dibatasi
TRAVEL

Di Tengah Ketidakpastian Global, Pariwisata Indonesia Catat Pertumbuhan Wisman dan Wisnus

Di Tengah Ketidakpastian Global, Pariwisata Indonesia Catat Pertumbuhan Wisman dan Wisnus
dok. Kemenpar

Pariwisata Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah, dengan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) yang sama-sama tumbuh hingga Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana, didampingi Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa, saat menyampaikan Laporan Bulanan Kinerja Kementerian Pariwisata di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (8/10/2026), mengatakan capaian tersebut menunjukkan fondasi pariwisata Indonesia tetap kuat dan aktivitas pariwisata terus bergerak positif.

“Kita patut bersyukur bahwa di tengah situasi tersebut, pariwisata Indonesia tetap menunjukkan resiliensi dan melanjutkan pertumbuhan positif,” kata Menpar Widiyanti.

Pertumbuhan Wisman

Pada Agustus 2026, Indonesia menerima 1,60 juta kunjungan wisman, meningkat 6,27 persen dibandingkan Agustus 2025. Secara kumulatif sepanjang Januari–Agustus 2026, kunjungan wisman mencapai 10,58 juta atau tumbuh 5,38 persen secara tahunan.

Strategi diversifikasi pasar short-haul dan medium-haul juga menunjukkan perkembangan positif. Kunjungan wisatawan dari kawasan Asia lainnya tumbuh 8,41 persen, Asia Tenggara 7,75 persen, dan Oseania 7,36 persen.

Seiring situasi yang berangsur membaik, kunjungan wisatawan dari kawasan Timur Tengah secara kumulatif juga kembali mencatat pertumbuhan positif sebesar 1,30 persen.

Perjalanan Wisnus

Wamenpar Ni Luh Puspa mengungkapkan perjalanan wisnus pada Agustus 2026 mencapai 104,30 juta perjalanan, meningkat 11,47 persen dibandingkan Agustus tahun sebelumnya. Secara kumulatif sepanjang Januari–Agustus 2026, tercatat 842,15 juta perjalanan wisnus atau tumbuh 4,29 persen.

“Pertumbuhan pariwisata juga ditopang oleh kekuatan dari dalam negeri. Ini menegaskan posisi wisatawan nusantara sebagai salah satu penopang utama ketahanan pariwisata Indonesia. Kita ingin pertumbuhan ini memberikan manfaat bagi semakin banyak daerah. Karena itu, kita akan terus mengajak masyarakat berwisata #diIndonesiaAja sekaligus memperluas distribusi perjalanan wisatawan ke berbagai destinasi,” kata Wamenpar Ni Luh.

Di sisi lain, perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri turun 6,02 persen pada Agustus 2026. Secara kumulatif Januari–Agustus 2026, perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri turun 3,56 persen menjadi 5,91 juta perjalanan.

Surplus antara kunjungan wisman dan perjalanan wisatawan nasional pun melebar menjadi 960 ribu kunjungan pada Agustus 2026, dari 820 ribu pada Agustus 2025. Secara kumulatif, surplus mencapai 4,67 juta kunjungan, lebih tinggi dibandingkan 3,91 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Ini merupakan sinyal yang baik. Semakin banyak wisatawan dunia datang ke Indonesia dan semakin banyak pula masyarakat kita menikmati kekayaan destinasi di negeri sendiri,” kata Wamenpar Ni Luh.

Daya Saing Meningkat

Dalam Travel and Tourism Development Index (TTDI) 2026 yang dirilis World Economic Forum pada September, skor Indonesia meningkat menjadi 4,56 dari 4,46 pada 2024. Indonesia menempati peringkat ke-23 dunia, keenam di Asia Pasifik, dan kedua di Asia Tenggara setelah Singapura.

Indonesia juga menempati peringkat pertama dunia pada pilar Prioritization of Travel & Tourism dengan skor 6,12, peringkat kelima pada Price Competitiveness, kesembilan pada Natural Resources, serta ke-15 pada Cultural Resources dan Socioeconomic Impact.

“Capaian ini menunjukkan kuatnya komitmen pemerintah terhadap sektor pariwisata, sekaligus besarnya modal alam dan budaya yang kita miliki. Namun, TTDI juga memberikan gambaran jelas mengenai pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan, terutama pada infrastruktur dan layanan pariwisata, kesehatan dan kebersihan, kesiapan digital, keterbukaan perjalanan, serta keamanan,” kata Menpar Widiyanti.

Menurut Menpar, pembangunan pariwisata tidak dapat dilakukan oleh satu kementerian karena daya saing pariwisata merupakan hasil kerja bersama seluruh pemangku kepentingan.

Okupansi Hotel Naik

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada Agustus 2026 mencapai 52,52 persen, meningkat 2,01 poin persentase dibandingkan Agustus tahun sebelumnya. Secara kumulatif sepanjang Januari–Agustus 2026, TPK mencapai 49,56 persen atau naik 2,30 poin persentase, dengan peningkatan yang relatif merata pada hotel bintang satu hingga bintang lima.

“Ini menjadi salah satu indikator bahwa industri hospitality kita semakin baik, seiring meningkatnya mobilitas dan aktivitas pariwisata,” ujar Wamenpar Ni Luh.

Pengakuan dunia juga diberikan kepada industri hospitality Indonesia. Sebanyak 47 hotel dan resor Indonesia meraih MICHELIN Keys 2026, meningkat dari 33 properti pada tahun sebelumnya. Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah pemegang MICHELIN Keys terbanyak kedua di Asia Tenggara setelah Thailand.

NIHI Sumba, Amanjiwo, dan Mandapa, a Ritz-Carlton Reserve, meraih tiga MICHELIN Keys dalam kategori An Extraordinary Stay. Sebanyak 11 properti meraih dua Keys dalam kategori An Exceptional Stay, sedangkan 33 properti memperoleh satu Key dalam kategori A Very Special Stay.

Dalam The World’s 50 Best Hotels 2026, Desa Potato Head Bali menempati peringkat ke-21, NIHI Sumba ke-35, dan Mandapa ke-61.

“Penghargaan ini menunjukkan bahwa kualitas _hospitality_ Indonesia semakin diakui dunia, sekaligus memperkuat positioning Indonesia sebagai destinasi pariwisata berkualitas,” ungkap Wamenpar Ni Luh.

Peluang Yachting dan Marina

Pada September 2026, Menpar Widiyanti memimpin delegasi Indonesia dalam The 6th Monaco Smart & Sustainable Marina Rendezvous. Sebagai Guest of Honor, Menpar menyampaikan keynote speech di hadapan perwakilan lebih dari 160 organisasi sekaligus memperkenalkan potensi investasi marina Indonesia.

Indonesia juga menggelar Closed-Door Session bertajuk “Indonesia as an Emerging International Yachting and Marina Destination”. Pembahasan tindak lanjut mencakup pendidikan dan sertifikasi awak kapal, penyusunan master plan maritime tourism, promosi, hingga business matching dengan investor internasional.

“Sebagai negara kepulauan di kawasan Coral Triangle, Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk mengembangkan wisata bahari dan industri maritim, dengan destinasi kelas dunia seperti Raja Ampat dan Labuan Bajo serta lebih dari 700 destinasi selam,” ucap Menpar Widiyanti.

Menpar mengatakan kehadiran Indonesia di Monako membawa pesan mengenai kesiapan Indonesia menjadi salah satu destinasi baru dunia untuk pengembangan yachting dan marina.

“Kita ingin kekuatan ini diterjemahkan menjadi investasi, lapangan kerja, peningkatan kualitas destinasi, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir,” katanya.

Wonderful Indonesia Gastronomy

Kemenpar untuk kedua kalinya menyelenggarakan Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026. Setelah tahun sebelumnya berlangsung di Jakarta dan Bali, tahun ini WIG berfokus di Solo dan Yogyakarta dengan mengangkat tema “From Local Roots to Global Recognition”.

Rangkaian kegiatan mempertemukan chef Indonesia dan chef internasional. Tastemaker Gastronomy Trip melibatkan 18 media dan tastemaker dari 11 negara, sedangkan WIG Talks menghadirkan 22 pakar dari pemerintah dan industri dengan jumlah peserta melampaui target 300 orang.

Artisan Market selama tiga hari menghadirkan 21 tenant brand lokal dan 13 kolaborator serta menarik lebih dari 2.000 pengunjung, jauh melampaui target 1.300 peserta.

Aktivasi lanjutan hingga akhir tahun mencakup Indonesia Restaurant Months, Culinary Festival, dan Chef Collaboration di sejumlah kota yang terbuka untuk publik.

“Kami ingin menunjukkan bahwa akar tradisi dan kekayaan lokal Indonesia dapat menjadi kekuatan untuk membawa gastronomi kita menuju panggung dunia. WIG bukan sekadar festival kuliner, tetapi platform jangka panjang untuk memperkuat ekosistem gastronomi, memperluas pasar produk lokal, membuka peluang bisnis dan kolaborasi, serta menjadikan gastronomi bagian penting dari pengalaman berwisata di Indonesia,” kata Menpar Widiyanti.

Event Gerakkan Ekonomi Daerah

Melalui Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, Kemenpar mendukung 125 event daerah terkurasi di 38 provinsi. Hingga 30 September 2026, sebanyak 89 event telah terselenggara di 34 provinsi.

Dari 78 event yang telah dikaji dampaknya, tercatat 9,97 juta pengunjung dan Rp888,52 miliar transaksi ekonomi langsung, belum termasuk efek pengganda. Penyelenggaraan event tersebut juga melibatkan 19.866 UMKM dan 120.642 pekerja seni serta membuka lapangan kerja bagi 58.077 tenaga kerja.

“Inilah yang ingin kita dorong melalui Event by Indonesia. Event bukan hanya menjadi atraksi, tetapi motor pergerakan wisatawan dan ekonomi daerah,” tutur Wamenpar Ni Luh.

Bertepatan dengan Hari Pariwisata Dunia, Kemenpar juga meluncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027, publikasi yang memuat perkembangan, prospek, dan isu strategis pariwisata Indonesia.

“Geopolitik, perubahan iklim, perkembangan teknologi, hingga perubahan perilaku wisatawan akan menentukan wajah pariwisata ke depan. Karena itu, kita membutuhkan kebijakan dan keputusan industri yang semakin berbasis data, antisipatif, dan adaptif,” kata Wamenpar.

Menurutnya, outlook tersebut diharapkan menjadi referensi bagi pemerintah, industri, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan untuk membangun pariwisata yang berdaya saing, berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.

Investasi Pariwisata Tumbuh

Pada September 2026, Kemenpar menjadi tuan rumah Monthly Economic Diplomatic Breakfast bersama KADIN Indonesia yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan korps diplomatik.

Realisasi investasi pariwisata meningkat dari Rp47,14 triliun pada 2024 menjadi Rp73,56 triliun pada 2025 atau tumbuh 56,05 persen.

“Investasi masih banyak terkonsentrasi di Bali dan Jakarta serta pada sektor amenitas. Karena itu, kami mendorong investasi yang lebih merata ke berbagai destinasi, termasuk 13 Destinasi Pariwisata Prioritas dan Regeneratif serta KEK Pariwisata, sekaligus memperluas investasi pada atraksi wisata,” kata Menpar Widiyanti.

Keselamatan dan Pemulihan Dusun Sade

Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau pada awal September berdampak pada mobilitas penerbangan. Berdasarkan laporan InJourney Airports per 8 September, sebanyak 35 bandara terdampak dengan 4.132 penerbangan dan 454.551 penumpang terdampak.

Kemenpar berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan, termasuk Online Travel Agents, untuk mendorong penerapan force majeure, mempercepat refund, serta menyediakan opsi reschedule tanpa biaya tambahan bagi wisatawan terdampak.

“Pertumbuhan pariwisata harus disertai kesiapsiagaan menghadapi krisis. Prinsip kami jelas, keselamatan wisatawan harus selalu menjadi prioritas,” kata Menpar Widiyanti.

Kemenpar juga mendampingi pemulihan Dusun Sade, Nusa Tenggara Barat, pascakebakaran pada Agustus 2026. Pada 30 September 2026, bantuan usaha dan alat kerja senilai Rp817,5 juta diserahkan dalam bentuk 15 alat tenun gedogan, modal kerja bagi 69 UMKM, 70 paket bahan baku tenun, serta 43 paket alat kerajinan non-tenun.

Dukungan lainnya mencakup penguatan kapasitas pemandu lokal, promosi dan relaunching aktivitas wisata, penyusunan katalog produk, penguatan branding, serta pemasaran digital.

“Pemulihan destinasi tidak cukup hanya dengan membangun kembali fisiknya. Ekonomi masyarakat juga harus kembali hidup. Kita ingin Sade bangkit menjadi destinasi yang lebih aman dan tangguh tanpa kehilangan karakter budaya, kearifan lokal, dan autentisitas yang menjadi kekuatannya,” kata Menpar Widiyanti.

Kontribusi Pariwisata pada PDB

Wamenpar Ni Luh mengungkapkan laporan bulan ini disampaikan menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pada 2025, kontribusi pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 4,78 persen.

“Pariwisata hari ini bukan hanya tentang perjalanan dan destinasi, tetapi tentang lapangan kerja, UMKM, investasi, devisa, konektivitas, budaya, lingkungan, serta ekonomi masyarakat di berbagai penjuru Indonesia. Pariwisata adalah salah satu penggerak perekonomian nasional,” kata Wamenpar Ni Luh.

Menpar Widiyanti menegaskan Kementerian Pariwisata memastikan pariwisata tidak hanya tumbuh dalam angka, tetapi juga tumbuh dalam manfaat. Setiap wisatawan yang datang diharapkan mampu menggerakkan usaha, setiap perjalanan membuka kesempatan, dan setiap destinasi yang berkembang meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga alam, budaya, serta identitas Indonesia.

“Inilah semangat yang akan terus kami bawa, membangun pariwisata Indonesia yang semakin berkualitas, berdaya saing, berkelanjutan, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” kata Menpar Widiyanti.