BERITA TERBARU
Kemnaker Uji Coba Pelatihan Terhubung Industri untuk Tekan Kesenjangan Kompetensi Di Tengah Ketidakpastian Global, Pariwisata Indonesia Catat Pertumbuhan Wisman dan Wisnus BP Tapera Perkuat Kolaborasi Lintas Kementerian/Lembaga untuk Percepatan Pembangunan Perumahan Nasional Biaya Haji 2027 Turun, Jemaah Cukup Lunasi Rp23,24 Juta Mentan Amran Pastikan Produksi Pangan Tetap Aman di Tengah Tantangan Iklim 38 UMKM Binaan Pertamina Bidik Pasar Lebih Luas di INACRAFT October 2026 Tinjau KSPEAN Wanam, Menteri Dody Pastikan Panen Perdana Dukung Visi Presiden Prabowo UU Pelindungan Ketenagakerjaan Untuk Pekerja yang Lebih Adil, Aman dan Sejahtera Fermin Aldeguer Ungkap Alasan Pakai Jersey Timnas Indonesia di Mandalika YouTube Ubah Algoritma Shorts, Konten Reupload Bakal Dibatasi
EKONOMI

TEP Unair Latih Warga Transmigrasi Sumalata Budidaya Lebah Trigona

TEP Unair Latih Warga Transmigrasi Sumalata Budidaya Lebah Trigona
dok. Tim 1 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga

Lebah trigona sudah lama ada di Kawasan Transmigrasi Sumalata, tapi selama ini dianggap hama. Sarangnya yang menempel di atap dan dinding rumah kerap dibakar atau diusir, dan sebagian warga percaya lebah kecil itu bisa membuat tuli.

Trigona sebenarnya tidak menyengat, dan madunya pun termasuk yang paling mahal, dijual Rp85.000 per 100 mililiter atau Rp600.000 hingga Rp650.000 per liter.

Untuk mengubah pandangan itu, Tim 1 Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga menggelar pelatihan budidaya trigona pada 18 hingga 20 Agustus 2026. Sebanyak 30 orang ikut serta, terdiri dari 26 warga perwakilan dari 6 SP (satuan permukiman) dan 4 anggota Yonif 824, dengan praktisi trigona, Sudarsono, sebagai pemandu.

“Banyak hal yang sebelumnya kami belum tahu tentang lebah trigona ini. Dengan adanya pelatihan ini, ke depan merupakan prospek yang menjanjikan, yang bisa menambah nilai ekonomi,” ujar Ading Suhana (44), warga Desa Cempaka Putih, Tolinggula, peserta pelatihan budidaya trigona.

“Kami ingin mengubah pandangan bahwa ini bukan hama, tapi lebah penghasil madu yang paling mahal. Harapannya kesejahteraan masyarakat meningkat, tapi alamnya tetap terpelihara,” ujar Johny Alfian Khusyairi, Ketua Tim 1 Ekspedisi Patriot Unair.

Selama dua hari pelatihan, peserta menginap di Desa Cempaka Putih. Desa ini dipilih karena banyak ditumbuhi tanaman buah, sumber pakan alami bagi lebah trigona. Mereka mempelajari karakteristik trigona, cara mengelola koloni, dan teknik pemanenan, sebelum ditutup dengan praktik membuat stup atau rumah lebah dari kayu dan bambu.

Praktik itu ternyata berlanjut di rumah masing-masing. Setiap peserta membuat dua stup sendiri, dan sebagian bahkan berkreasi menyambungkan selang dari sarang alami di pohon kelapa menuju stup buatan mereka.

Tim kemudian membagikan tiga stup berisi koloni dan memantaunya sembilan kali di tujuh lokasi sepanjang Agustus hingga September. Dari pemantauan itu terlihat bahwa ketersediaan pakan sangat menentukan hasil panen.

Muhammad Sholeh, warga Cempaka Putih yang sudah memelihara trigona selama dua tahun, misalnya, baru memanen sekitar 200 mililiter madu karena pakan di sekitar sarangnya kurang. Karena itu warga kini didorong menyisihkan pohon buah yang tidak disemprot pestisida sebagai sumber pakan lebah.

Sisa stup berisi koloni dijadwalkan diserahkan pada Oktober, setelah ketersediaan pakan di lokasi penempatan dipastikan memadai. Adapun panen pertama para peserta diperkirakan mulai November.

Pengelolaan potensi lokal seperti trigona sejalan dengan Asta Cita kedua Presiden Prabowo Subianto tentang kemandirian bangsa.

“Sumber daya alam harus kita olah menjadi nilai tambah dan pekerjaan. Tetapi pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan,” kata Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono di Jakarta, Minggu (06/09/2026).

Kementerian Transmigrasi pun menempatkan kekayaan alam di kawasan transmigrasi sebagai modal yang perlu digarap bersama warganya.

“Kita diberkahi oleh Tuhan dengan dua hal besar: kekayaan sumber daya alam dan bonus demografi yang luar biasa. Ini adalah bahan bakar terbaik untuk kemajuan bangsa, jika kita kelola dengan tepat,” ujar Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara di Jakarta, Rabu (11/06/2025).

Kategori: Ekonomi