BERITA TERBARU
Menaker Ajak Perusahaan Serap Penyandang Disabilitas Usai Ikuti Pelatihan Kota Banjar Bidik Teknologi Ultrafiltrasi agar Air PDAM Bisa Langsung Diminum Hadiri Sesi I G20 TMM, Mendag Busan Tegaskan Ketahanan Pangan Bukan Instrumen Tekanan Geopolitik UMKM Kulon Progo Kembangkan Beras Analog Bravo dari Singkong Lokal BAZNAS Awards 2026 Libatkan Tokoh Lintas Sektor sebagai Dewan Juri Prabowo Reshuffle Kabinet Merah Putih, Bahlil hingga Suyudi Dapat Jabatan Baru Kementerian PU Alirkan Air Dengan Pompa Untuk 15 Hektar Sawah di Pinrang Bantu PPAT dalam Manajemen Waktu, PERINTIS 10 Hari Bawa Manfaat bagi Masyarakat DPR Dorong Kesetaraan Gender, Keterwakilan Perempuan di Parlemen Asia Disorot BRI Peduli Sahabat Disabilitas Kembali Digelar, Perluas Kesempatan Kerja Inklusif melalui Pelatihan dan Pemagangan
GAYA

UMKM Kulon Progo Kembangkan Beras Analog Bravo dari Singkong Lokal

UMKM Kulon Progo Kembangkan Beras Analog Bravo dari Singkong Lokal
dok. rri.co.id

Kreativitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus berkembang di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satunya melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Keluarga Sakinah di Padukuhan Panto Kulon, Kalurahan Banjaroyo, Kapanewon Kalibawang, yang mengembangkan produk pangan inovatif berupa Beras Analog Banjaroyo atau Bravo.

Dikutip dari laporan RRI.co.id, beras analog Bravo berbahan dasar singkong lokal dan dikembangkan sebagai alternatif pangan pengganti beras padi. Produk tersebut lahir dari rangkaian pelatihan dan pendampingan yang dimulai sejak akhir 2024 dan kemudian berkembang menjadi kegiatan produksi secara konsisten sepanjang 2025 hingga 2026.

Di bawah kepemimpinan Sri Lestari, KWT Keluarga Sakinah mendapatkan pembinaan dan pendampingan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Rewulu.

Pendampingan tersebut membantu kelompok meningkatkan kualitas produk sekaligus mendorong proses produksi yang lebih higienis dan terstandar.

Bahan baku utama yang digunakan berupa singkong lokal berkualitas, yakni Singkong Mentega yang memiliki warna kekuningan dan Singkong Klenteng berwarna putih. Singkong segar terlebih dahulu dikupas, dicuci, diparut, kemudian dipres untuk mengurangi kadar air.

Ampas hasil pres kemudian dicampur dengan pati dan sejumlah bahan lain, seperti tepung gaplek, tepung kacang hijau, tepung jagung, serta tepung maizena. Adonan selanjutnya dikukus selama sekitar 10 hingga 15 menit untuk mendapatkan tekstur yang menyerupai beras.

Secara tampilan, beras analog Bravo dibuat menyerupai beras pada umumnya. Produk tersebut dapat dikonsumsi sebagai nasi dengan berbagai lauk maupun diolah menjadi nasi goreng.

KWT Keluarga Sakinah juga mengembangkan Bravo sebagai pangan fungsional. RRI mencatat produk tersebut disebut memiliki manfaat yang berkaitan dengan pengendalian kadar gula darah, khususnya bagi penderita diabetes. Namun, klaim manfaat kesehatan tersebut tetap perlu dibedakan dari bukti klinis dan tidak dapat menggantikan pengobatan medis.

Dari sisi ketahanan, beras analog Bravo telah melalui uji penyimpanan dalam kemasan selama tiga bulan. Saat ini, pemasaran produk masih menjangkau lingkungan sekitar melalui pesanan langsung.

Untuk memperluas pasar, KWT Keluarga Sakinah tengah memproses legalitas usaha. Dengan kelengkapan izin edar nantinya, produk pangan lokal asal Banjaroyo tersebut diharapkan dapat dipasarkan lebih luas melalui kanal online maupun ritel modern.