BERITA TERBARU
Harris Turino Minta Batas Defisit APBN Tetap 3 Persen Elvy Sukaesih Meriahkan HUT ke-70 Muba, Ribuan Warga Padati Lapangan Sekayu Tegaskan Pentingnya Suara Masyarakat, Pemerintah Perbarui Komitmen Sinergi SP4N-LAPOR! KAI Kooperatif dalam Proses Hukum dan Pastikan Pendampingan bagi Masinis Terkait Insiden Bekasi Timur KAI Kooperatif dalam Investigasi Keselamatan dan Tindak Lanjuti Rekomendasi KNKT Bawa Sport Tourism Indonesia ke Panggung Dunia, BRI Dukung Penuh Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) 2026 Melalui BAZNAS RI, MINISO Salurkan Bantuan Rp62,4 Juta untuk Warga Terdampak Gempa NTT dan Ajak Perusahaan Lain Turut Berkolaborasi Lima Kabupaten/Kota Sumut Dipulihkan, Kementerian PU Percepat Layanan Air Minum dan Sanitasi Pascabencana BAZNAS RI Perkuat Legalitas Aset Hibah Muzaki, Optimalkan Manfaat bagi Umat Kemnaker Manfaatkan AI untuk Verifikasi Mitra Penyelenggara dan Peserta MagangHub
GAYA

Ancaman di Balik Layar! Bermedia Sosial Sejak Dini Picu Kecemasan pada Anak

Ancaman di Balik Layar! Bermedia Sosial Sejak Dini Picu Kecemasan pada Anak
dok. capt: Bermedia Sosial Sejak Dini Picu Kecemasan (Foto/Pinterest)

Di era serba terhubung saat ini, tak jarang balita sudah pandai menggulirkan layar ponsel untuk membuka media sosial. Namun di balik kemudahan akses tersebut, tersimpan bahaya yang mengkhawatirkan: penggunaan media sosial sejak usia sangat muda terbukti meningkatkan risiko gangguan kecemasan, ketakutan berlebih, dan tekanan batin yang berbahaya bagi tumbuh kembang anak.

Fenomena anak mengenal media sosial jauh sebelum menginjak usia sekolah kini menjadi pemandangan lumrah. Padahal, paparan dini terhadap konten, interaksi, dan standar yang beredar di dunia maya perlahan mengubah cara kerja pikiran dan perasaan anak. Mereka menjadi mudah cemas, takut tertinggal, khawatir dinilai orang lain, hingga mengalami gelisah berlebih jika sehari tidak membuka aplikasi. Kondisi ini jika dibiarkan dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan yang mengganggu pertumbuhan fisik maupun mentalnya.

Anak-anak yang mulai mengenal dan menggunakan media sosial secara rutin pada usia di bawah 10 tahun menjadi kelompok yang paling rentan. Di usia tersebut, kemampuan memilah informasi dan mengelola emosi belum terbentuk sempurna, sehingga apa yang dilihat dan dialami di dunia maya langsung memengaruhi perasaan dan cara pandangnya terhadap diri sendiri maupun dunia.

Kekhawatiran ini makin mengemuka seiring meluasnya penggunaan gawai di lingkungan keluarga Indonesia, terutama pasca-pandemi. Para ahli kesehatan anak dan psikolog terus menyuarakan temuan tersebut sepanjang tahun 2025–2026, sejalan dengan meningkatnya jumlah anak yang datang berkonsultasi karena keluhan cemas, takut, dan sulit tidur akibat pengaruh konten media sosial.

Media sosial menyuguhkan dunia yang tampak sempurna, penuh pencapaian, dan penuh penilaian. Ketika anak yang belum siap secara mental membandingkan kehidupannya dengan apa yang mereka lihat, timbul perasaan tidak cukup baik, takut tidak disukai, dan cemas berlebih. Selain itu, konten yang cepat berganti, beragam, dan kadang menakutkan membuat pikiran anak terus-menerus berada dalam keadaan siaga, yang lama-kelamaan memicu kecemasan kronis.

Pengaruhnya tidak main-main. Anak menjadi mudah gelisah, sulit berkonsentrasi, menarik diri dari pergaulan nyata, bahkan mengalami gangguan tidur dan nafsu makan. Psikolog anak menyampaikan peringatan tegas dalam kutipan dari laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bahwa semakin muda usia anak mulai menggunakan media sosial, semakin besar pula risiko mengalami gangguan kecemasan dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri di masa depan.

Para ahli menyarankan agar orang tua membatasi penggunaan media sosial sesuai batas usia yang dianjurkan, menemani anak saat mengakses konten, serta memperbanyak aktivitas fisik dan interaksi langsung agar anak tumbuh dengan kepercayaan diri yang sehat.