BERITA TERBARU
Krisis Chip Ganggu Produksi Mobil Fiat di Italia, Stellantis Terancam Setop Pabrik Pelari 24 Tahun Meninggal Usai Kolaps di NYC Marathon 2026, Diduga Rhabdomyolysis Bincang Mendag Busan dengan UMKM di NTB, Dorong Perluasan Pasar Domestik dan Jajaki Ekspor FLPP Ngebut, Realisasi Capai Lebih Dari 200 Ribu Unit Saat Rocky Gerung Sebut DPD RI Sebagai Dewan Penuntun Demokrasi RI Ubah Limbah Sawit Jadi Pakan Bernilai, TEP UNAIR Dampingi Peternak di Prafi Kementerian PU Gerak Cepat Pulihkan Konektivitas Aceh – Sumut yang Terdampak Longsor Kemenpar Gelar AK-RT 2026 untuk Tingkatkan Kunjungan Wisatawan ASEAN dan Korea Kementerian PU Tinggikan Jalan Nasional Semarang-Demak, Kurangi Genangan Rob Kaligawe Jelang Nataru 2026/2027 Dari Jagung SPHP hingga Pengawasan Integrator, Mentan Amran Tegas Perkuat Peternak Rakyat
TEKNO

OpenAI hingga Google Siapkan Aturan Baru untuk Blokir Konten dari Pelatihan AI

OpenAI hingga Google Siapkan Aturan Baru untuk Blokir Konten dari Pelatihan AI
dok. cso online

Sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk OpenAI, Google, Microsoft, dan Anthropic, berkomitmen menghadirkan mekanisme baru bagi media dan pengelola situs untuk menolak penggunaan konten mereka sebagai bahan pelatihan kecerdasan buatan (AI).

Komitmen tersebut diumumkan pada Jumat (30/10) di tengah meningkatnya kekhawatiran penerbit berita terhadap penggunaan artikel dan materi digital oleh perusahaan AI tanpa izin maupun kompensasi.

Dikutip dari AFP, mekanisme baru ini memungkinkan pengelola situs menggunakan satu instruksi standar untuk melarang perusahaan AI mengumpulkan konten demi melatih model mereka. Kebijakan tersebut diharapkan menyederhanakan proses pemblokiran bot yang selama ini harus dilakukan secara terpisah.

Sebelumnya, pemilik situs perlu memasang sejumlah perintah pemblokiran untuk masing-masing bot yang melakukan pengumpulan data atau dikenal dengan istilah scraping. Melalui protokol baru, perusahaan AI yang mengadopsinya dapat mengenali satu instruksi standar dari pengelola situs.

Meski demikian, mekanisme tersebut tidak secara otomatis menghentikan seluruh aktivitas bot maupun semua bentuk pengumpulan konten di internet. Aturan ini secara khusus ditujukan untuk membatasi penggunaan konten dalam pelatihan model AI pada masa mendatang.

Penerapannya juga tidak dilakukan secara bersamaan. Microsoft berencana mulai menerapkan mekanisme tersebut pada 1 Februari 2027. Google menargetkan implementasi sepanjang 2027, sementara OpenAI menyebut kebijakan tersebut akan digulirkan dalam beberapa bulan mendatang.

Anthropic, pengembang chatbot Claude, mengklaim telah mulai menerapkan mekanisme tersebut.

Microsoft menjelaskan bahwa pengumpulan konten untuk pelatihan AI tetap diizinkan secara bawaan sampai pengelola situs mengubah pengaturannya. Dengan demikian, penerbit harus mengambil langkah aktif apabila tidak ingin kontennya digunakan.

Namun, keputusan memblokir pelatihan AI berpotensi berdampak pada visibilitas konten. Microsoft dan Google menyebut pembatasan tersebut dapat mengurangi peluang artikel muncul dalam aplikasi maupun layanan berbasis AI mereka.

Persoalan penggunaan konten media oleh perusahaan AI sebelumnya juga berujung ke jalur hukum. Pada Desember 2023, The New York Times menggugat OpenAI dan Microsoft atas dugaan penggunaan jutaan artikelnya tanpa izin untuk melatih ChatGPT.

Kedua perusahaan tersebut membela penggunaan materi berhak cipta dengan mengacu pada prinsip fair use atau penggunaan wajar.

Di sisi lain, Meta menyatakan mendukung pengembangan standar bersama agar penerbit dapat menyampaikan preferensi penggunaan konten kepada berbagai penyedia AI sekaligus. Langkah ini diharapkan menjadi awal terbentuknya aturan akses konten yang lebih jelas di industri kecerdasan buatan.