BERITA TERBARU
Ubah Limbah Sawit Jadi Pakan Bernilai, TEP UNAIR Dampingi Peternak di Prafi Kementerian PU Gerak Cepat Pulihkan Konektivitas Aceh – Sumut yang Terdampak Longsor Kemenpar Gelar AK-RT 2026 untuk Tingkatkan Kunjungan Wisatawan ASEAN dan Korea Kementerian PU Tinggikan Jalan Nasional Semarang-Demak, Kurangi Genangan Rob Kaligawe Jelang Nataru 2026/2027 Dari Jagung SPHP hingga Pengawasan Integrator, Mentan Amran Tegas Perkuat Peternak Rakyat Perkuat Sinergi, Mendag Busan Buka Pasar Murah di Mataram Jaga Harga Bapok Soroti Insiden Penembakan di Pulo Keunari, Tgk Ahmada: Rakyat Harus Dilindungi, Bukan Ditakuti! DPD RI Perkuat Perjuangan Aspirasi Daerah melalui Legislasi, Pengawasan, dan Dialog Publik Mendag Busan Pantau Pasar Kebon Roek Mataram, Cabai dan Telur Ayam Surplus Jelang Nataru Dendeng Balado dan Sambal Cumi Racikan Khas Minangkabau Dapurnya Ami Berhasil Menjangkau Pasar Lebih Luas bersama linkumkm by BRI
GAYA

Cipratan Warna Ekspresif Jadi Sumber Penghidupan Tak Terduga

Cipratan Warna Ekspresif Jadi Sumber Penghidupan Tak Terduga
dok. Kemendag

Selembar kain hitam dengan motif putih mirip biji kopi menggantung di tiang bambu. Terlihat juga corak lengkung keemasan yang berdampingan dengan bunga-bunga kecil bermekaran. Di sebelah kain itu, ada sehelai batik lainnya, namun berwarna cokelat, dihiasi corak putih yang menjalar bak akar pohon.

Namanya batik ciprat. Tekniknya sederhana. Warna dipercikkan ke kain hingga membentuk corak yang tak selalu bisa ditebak. Tak ada keharusan untuk menghasilkan motif yang seragam. Justru di situlah letak keistimewaannya.

Kesahajaan kain-kain tersebut lahir dari tangan-tangan istimewa yang tak selalu mampu menggambar garis lurus atau merangkai motif rumit. Dari Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Batik Kinasih dari CV Kinasih Abyudaya membawa kisah tentang para penyandang disabilitas yang menemukan harapan melalui percikan warna.

Karya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Kabupaten Blitar, Jawa Timur, ini ikut dipamerkan di Paviliun Pilihan Busan pada ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41. Pameran dagang internasional tersebut berlangsung pada 14—18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.

Pemilik Batik Kinasih, Dwi Mawadati, mengisahkan bahwa kain-kain batik tersebut mulanya tak dirancang untuk mencari keuntungan. Sebagian pembuatnya merupakan individu dengan sindrom Down, disabilitas intelektual, dan disabilitas mental. Mereka memiliki kemampuan yang berbedabeda. Ada yang mampu mencipratkan warna tetapi kesulitan menyelesaikan proses berikutnya. Ada yang gemar mewarnai, sementara yang lain lebih mampu membantu mencuci kain. Tak mengapa. 

Di Batik Kinasih, setiap kemampuan mendapat tempat. “Teman (yang) itu bisa menciprat, hanya menciprat saja. Kalau yang suka mewarnai, hanya mewarnai saja. Kemudian, yang bisa mencuci, hanya mencuci saja, itu yang mereka bisa lakukan. Selalu dengan pendampingan,” kata Dwi.

Sebelum pandemi Covid-19, para penyandang disabilitas ini berkumpul dan membatik bersama untuk sekadar berekspresi. Namun, muncul persoalan lain setelah berhasil membuat produk. 

“Mereka bisa membuat tapi tidak bisa menjual. Maka, kami membuat sebuah perkumpulan untuk menjualkan. Tujuannya, agar mereka mandiri secara ekonomi dan mandiri secara sosial,” tutur Dwi.

Dari perkumpulan itulah, perlahan tumbuh sebuah usaha. Produk diterima masyarakat, pembeli berdatangan, bahkan Organisasi Perangkat Daerah di Kabupaten Blitar turut mengenakannya.Selembar kain yang dahulu dianggap sebagai hasil kegiatan untuk menyalurkan emosi telah menjelma menjadi sumber penghidupan. Batik Kinasih pun mengembangkan produknya menjadi tas, mukena, sajadah, hingga sarung.

Sejumlah individu yang didampingi bahkan mulai memiliki usaha sendiri. Tiga orang dengan sindrom Down, misalnya, telah mengembangkan merek batik dengan bantuan keluarga. “Ada tiga teman Down syndrome yang dengan bantuan keluarganya sudah mempunyai jenama sendiri,” ungkap Dwi.

Kesempatan kembali datang melalui layar sebuah tautan di media sosial yang mengajak ikut kurasiProduct Placement Pilihan Busan. Program inisiatif Menteri Perdagangan Budi Santoso ini ditujukan untuk membantu promosi produk UMKM. Ketidaktahuan itu tak menghalangi rasa ingin mencoba. 

Batik Kinasih mengikuti proses kurasi dengan harapan agar karya para penyandang disabilitas dari Blitar makin dikenal.

Dari sebuah tautan di media sosial, terbukalah kesempatan untuk memperkenalkan Batik Kinasih melalui Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 melalui Paviliun Product Placement Pilihan Busan. Batik Kinasih juga berharap partisipasinya dalam TEI 2026 dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk melihat kemampuan, bukan semata-mata keterbatasan.