BERITA TERBARU
Como Tegaskan Nico Paz Milik Mereka, Real Madrid Masih Punya Klausul Pembelian Kembali Rusia Siapkan 90 Peluncur Rudal Canggih untuk Iran, Senjata Ini Dipakai Perang Ukraina Pasien Obesitas Hadapi Beban Mental, Stigma dan Body Shaming Hambat Pemulihan Apple Peringatkan Bahaya Agen AI, Bisa Picu Tuntutan Hukum dan Rusak Reputasi Persija Jakarta dan PSM Makassar Masuk Daftar Klub Penunggak Gaji Pemain Warga Iran Sorak Kemenangan Demokrat di Pemilu AS, Trump Kena Pukulan Politik Wamen Ossy Laporkan Progres Dukungan Kementerian ATR/BPN dalam Percepatan Pembangunan KSPEAN di Empat Provinsi Prioritas Alasan BGN Rekrut Pejabat KPK, Sudaryono: Perkuat Komitmen Anti Korupsi Optimalkan Pemanfaatan Tanah, Plh. Dirjen PPTR: Manfaat Nyata untuk Masyarakat BGN Pastikan Gaji Pengawas Gizi dan Keuangan Tak Dipotong dari Anggaran Operasional Rp3.000
TREN

Pasien Obesitas Hadapi Beban Mental, Stigma dan Body Shaming Hambat Pemulihan

Pasien Obesitas Hadapi Beban Mental, Stigma dan Body Shaming Hambat Pemulihan
dok. halodoc

Penyintas obesitas tidak hanya harus menghadapi masalah kesehatan fisik, tetapi juga beban mental akibat stigma sosial dan body shaming. Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat proses penurunan berat badan dan pemulihan kesehatan pasien.

Dokter spesialis kesehatan jiwa Putri Nugraheni mengungkapkan dirinya mulai banyak menerima pasien obesitas yang dirujuk oleh dokter spesialis gizi klinik. Rujukan tersebut dilakukan untuk membantu pasien mengatasi persoalan psikologis selama menjalani proses pemulihan.

“Orang obesitas biasanya datangnya ke SpGK, ke Gizi Klinik, tapi saya sudah mulai dapat lumayan banyak rujukan dari dokter Gizi Klinik ke psikiater untuk membantu proses dari obesitas menjadi sehat kembali,” ujar Putri seperti dilaporkan detikHealth.

Selama ini, obesitas masih kerap dianggap sebagai akibat kurangnya kedisiplinan seseorang dalam mengatur pola makan. Tidak sedikit pula masyarakat yang memandang obesitas hanya sebagai persoalan penampilan fisik.

Padahal, obesitas merupakan penyakit kronis yang terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan energi dan energi yang digunakan tubuh. Kondisi ini membutuhkan penanganan jangka panjang dan tidak cukup hanya mengandalkan diet biasa.

Dalam proses pemulihan, pasien obesitas juga harus menghadapi berbagai tekanan sosial. Komentar negatif mengenai berat badan maupun bentuk tubuh sering kali dianggap sebagai candaan, padahal dapat meninggalkan dampak psikologis yang serius.

Putri menjelaskan setiap orang memiliki kemampuan berbeda dalam menghadapi komentar negatif. Sebagian pasien bahkan datang dengan keluhan fisik, tetapi setelah diperiksa ditemukan persoalan kesehatan mental yang perlu ditangani terlebih dahulu.

Masalah tersebut dapat berupa stres berkepanjangan, kecemasan, hingga trauma akibat stigma dan perlakuan diskriminatif dari lingkungan sekitar.

Kondisi psikologis yang tidak tertangani berpotensi membuat perjalanan pasien menuju berat badan yang lebih sehat menjadi semakin sulit. Karena itu, penanganan obesitas perlu memperhatikan kesehatan fisik sekaligus mental.

Putri menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin antara dokter spesialis gizi klinik dan psikiater. Pendekatan tersebut diperlukan agar pasien memperoleh penanganan yang menyeluruh, bukan sekadar berfokus pada angka timbangan.

Dukungan keluarga dan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Masyarakat diharapkan tidak lagi memberikan komentar yang merendahkan bentuk tubuh, melainkan membantu penyintas obesitas menjalani proses hidup sehat tanpa tekanan sosial.