Kementan Dorong Lompatan Produksi Daging, Kontes Sapi APPSI Jadi Etalase Ternak Unggul
Bogor, DARIM.ID – Upaya meningkatkan produksi daging nasional tidak cukup hanya dengan menambah populasi sapi. Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong perbaikan kualitas genetik dan produktivitas ternak agar peternak mampu menghasilkan sapi dengan performa lebih baik dan nilai ekonomi lebih tinggi.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan pentingnya pengembangan sapi unggul berbasis teknologi genetika untuk mendorong lompatan produksi daging nasional. Salah satunya melalui pengembangan sapi Belgian Blue yang memiliki potensi pertumbuhan dan bobot tinggi.
Hal tersebut sejalan dengan semangat Kontes Sapi APPSI Piala Presiden 2026 yang digelar di kawasan Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/10/2026). Ajang ini tidak sekadar mencari sapi terbaik, tetapi menjadi ruang untuk menampilkan hasil kerja peternak dalam meningkatkan kualitas bibit, reproduksi, pakan, kesehatan, perawatan, hingga performa ternak.

Ratusan peternak dari berbagai daerah hadir membawa sapi-sapi unggulan mereka. Kontes yang digelar Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) tersebut mempertemukan peternak, komunitas, pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan pecinta sapi dalam satu ekosistem pengembangan peternakan nasional.
Ketua MPR RI sekaligus Ketua Dewan Pembina APPSI, Ahmad Muzani, mengatakan tingginya partisipasi peternak dari berbagai daerah menunjukkan semakin kuatnya minat masyarakat untuk mengembangkan usaha peternakan sekaligus meningkatkan kualitas ternak.
Menurut Muzani, para peternak terus melakukan berbagai inovasi, termasuk melalui persilangan berbagai jenis sapi unggul untuk menghasilkan ternak dengan kualitas dan produktivitas yang semakin baik.
Kontes ternak, kata dia, juga menjadi sarana untuk mendorong peternak agar semakin kreatif dan mengembangkan pola peternakan yang lebih modern.
“Karena ternyata beternak sapi itu menyenangkan, menggembirakan, menguntungkan dan memberi harapan terhadap masa depan,” kata Muzani.
Muzani juga menyoroti meningkatnya partisipasi peternak Jawa Barat dalam kontes tahun ini. Dari lebih dari 250 peserta, lebih dari 100 peserta berasal dari Jawa Barat. Kondisi tersebut dinilai positif karena selama ini kontes ternak banyak didominasi peternak dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Menurutnya, peningkatan partisipasi tersebut membuka peluang bagi peternak Jawa Barat untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing.
“Sehingga Jawa Barat ingin mengambil pasar itu dan itu saya kira bagus, sehingga ada persaingan sehat di antara para peternak,” ujarnya.
Kabupaten Bogor sendiri dinilai memiliki potensi untuk mendukung pengembangan usaha sapi, terutama dari sisi lingkungan dan ketersediaan pakan. Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat kawasan peternakan dan meningkatkan skala usaha peternak.
Di sisi lain, penguatan peternakan nasional tidak hanya diarahkan pada sapi potong. APPSI juga mulai memperluas perhatian pada pengembangan sapi perah untuk menjawab kebutuhan susu nasional yang terus meningkat, terutama seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Setelah ini APPSI akan berkonsentrasi kepada upaya untuk melakukan swasembada susu karena ini sangat penting,” kata Muzani.
Ia menilai kebutuhan susu dalam negeri menjadi peluang besar bagi peternak untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkuat usaha peternakan rakyat.
“Kebutuhan susu kita kurang itu sejak sebelum ada MBG, apalagi ada MBG, lebih banyak lagi,” ujarnya.
Karena itu, Muzani berharap pengembangan peternakan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, hingga peternak kecil, menengah, dan besar.
“Harapannya ke depan pemerintah daerah terlibat semua, peternak kecil, besar, menengah terlibat dan kita semua terlibat,” katanya.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda hadir mewakili Mentan Amran dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan pemerintah terus memperkuat ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir, termasuk peningkatan mutu genetik, produktivitas, kesehatan ternak, pembiayaan, pakan, hingga akses pasar.
Penguatan genetik menjadi salah satu fondasi penting karena produktivitas ternak sangat ditentukan oleh kualitas bibit. Kementan sendiri tengah memperkuat sistem seleksi genetik sapi pedaging dan sapi perah agar proses pemuliaan ternak semakin terukur dan berbasis data.
Dukungan konkret juga diberikan melalui Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang yang menghibahkan dua ekor sapi kepada APPSI. Masing-masing sapi memiliki bobot sekitar 1 ton.
Hibah tersebut menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap komunitas dan peternak yang aktif mendorong peningkatan kualitas ternak sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi sapi unggul kepada masyarakat.
Bagi Kementan, ukuran keberhasilan pengembangan peternakan bukan hanya terlihat dari sapi yang tampil sebagai juara di arena kontes. Lebih jauh, peningkatan kualitas genetik harus bermuara pada produktivitas yang lebih tinggi, efisiensi usaha, kesehatan ternak, kepastian pasar, dan peningkatan pendapatan peternak.
Dengan demikian, kontes ternak dapat menjadi etalase inovasi sekaligus pemicu lahirnya lebih banyak peternak yang mampu menghasilkan sapi berkualitas dan berdaya saing untuk memperkuat kemandirian protein nasional.


