BERITA TERBARU
6 Cara Mengosongkan Storage iPhone yang Penuh agar Kinerja HP Kembali Optimal Trump Klaim AS Bisa Jadi Penguasa Iran, Sebut Kuasai Selat Hormuz Tumbuh Bersama Klasterku Hidupku, Komoditas Alpukat Angkat Taraf Hidup Petani di Kecamatan Sumberejo Sertipikat Tanah Masih atas Nama Orang Tua yang Sudah Meninggal? Berikut Ini Risikonya Menanti Hoegeng di Era Modern: Oase Kapolri Suyudi Oleh: AA LaNyalla Mahmud Mattalitti Shin Tae Yong Bongkar Taktik Persija Atasi Rumput JIS saat Kalahkan Persebaya Keanu Reeves Kembali Jadi John Wick, Kali Ini dalam Film Prekuel Animasi Menaker Tugaskan Pengawas Kawal Kesepakatan Kecelakaan Kerja di Cikarang Tamsil Linrung Apresiasi Ketegasan Kapolri Suyudi, Penegakan Hukum Tak Boleh Pandang Bulu Omoda & Jaecoo Buka Dealer ke-45 di Pancoran, Jakarta Selatan
GAYA

Kemenkes Catat 283.270 Kasus ISPA Akibat Karhutla, Anak-anak Paling Rentan

Kemenkes Catat 283.270 Kasus ISPA Akibat Karhutla, Anak-anak Paling Rentan
dok. suaragarut.id

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sebanyak 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode Agustus hingga 13 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 63.711 kasus dialami anak-anak berusia 0-5 tahun.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI, Then Suyanti, mengatakan kasus ISPA tersebut tersebar di tujuh provinsi yang mencakup 63 kabupaten/kota terdampak karhutla.

“Situasi harian hingga hari ini kasus ISPA sebanyak 3.897 hingga 13 Oktober dan secara kumulatif ini ada total 283.270 kasus ISPA dengan kasus sebanyak 63.711 kasus terjadi pada anak berusia 0 hingga 5 tahun,” ujar Suyanti, seperti dikutip dari Detikhealth, Jumat (16/10).

Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni mencapai 74.636 kasus. Posisi berikutnya ditempati Sumatera Selatan dengan 74.458 kasus.

Suyanti menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Paparan asap tersebut dapat memicu berbagai gangguan pernapasan, seperti batuk, pilek, sesak napas, hingga radang tenggorokan. Kondisi ini juga berpotensi memperburuk penyakit asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Selain gangguan pernapasan, asap karhutla dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit. Paparan polusi udara dalam kondisi tertentu juga meningkatkan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah, termasuk penyakit jantung, stroke, serta tekanan darah tinggi.

Kemenkes pun mengingatkan masyarakat untuk memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, mulai dari anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, hingga pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.

Dampak kabut asap juga dilaporkan di Malaysia. Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan atas sebesar 10,43 persen, dari 3.509 kasus pada minggu epidemiologi ke-39 menjadi 3.875 kasus pada minggu ke-40.

Sementara itu, kasus konjungtivitis atau peradangan pada selaput bening mata meningkat 26,47 persen, dari 102 menjadi 129 kasus pada periode yang sama.

Pemerintah Malaysia menyatakan pemantauan penyakit terkait kabut asap akan terus diperkuat. Masyarakat juga diimbau memantau kualitas udara melalui kanal resmi Departemen Lingkungan Hidup Malaysia serta menyesuaikan aktivitas di luar ruangan dengan kondisi udara setempat.