BERITA TERBARU
Data Center AI 640 MW Dibangun di Jatiluhur, Ditargetkan Beroperasi 2027 Harris Turino Minta Batas Defisit APBN Tetap 3 Persen Elvy Sukaesih Meriahkan HUT ke-70 Muba, Ribuan Warga Padati Lapangan Sekayu Tegaskan Pentingnya Suara Masyarakat, Pemerintah Perbarui Komitmen Sinergi SP4N-LAPOR! KAI Kooperatif dalam Proses Hukum dan Pastikan Pendampingan bagi Masinis Terkait Insiden Bekasi Timur KAI Kooperatif dalam Investigasi Keselamatan dan Tindak Lanjuti Rekomendasi KNKT Bawa Sport Tourism Indonesia ke Panggung Dunia, BRI Dukung Penuh Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) 2026 Melalui BAZNAS RI, MINISO Salurkan Bantuan Rp62,4 Juta untuk Warga Terdampak Gempa NTT dan Ajak Perusahaan Lain Turut Berkolaborasi Lima Kabupaten/Kota Sumut Dipulihkan, Kementerian PU Percepat Layanan Air Minum dan Sanitasi Pascabencana BAZNAS RI Perkuat Legalitas Aset Hibah Muzaki, Optimalkan Manfaat bagi Umat
EDUKASI

Cegah Stunting dari Pangan Lokal, TEP UNDIP Ajak Warga Senggi Olah Sagu hingga Petatas Jadi Sajian Bergizi

Cegah Stunting dari Pangan Lokal, TEP UNDIP Ajak Warga Senggi Olah Sagu hingga Petatas Jadi Sajian Bergizi
dok. Kementrans

Pisang, keladi, petatas, hingga sagu yang mudah ditemukan di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, kini diolah menjadi sajian bergizi sekaligus bernilai ekonomi. Melalui program Sagu Sapa (Sajian Gizi Unggul, Lestarikan Pangan Lokal), Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) mengajak masyarakat memanfaatkan kekayaan pangan di sekitar mereka sebagai bagian dari upaya pemenuhan gizi dan pencegahan stunting.

Program tersebut menyasar kader kesehatan dan pelaku UMKM agar pangan lokal tidak hanya dikonsumsi secara konvensional, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih beragam, bergizi, dan memiliki potensi pasar.

Dalam kegiatan yang digelar di Aula UPTD Puskesmas Senggi, Sabtu (12/9) lalu, sebanyak 21 peserta dari unsur kader Posyandu, Posbindu, Malaria, serta pelaku UMKM mengikuti workshop dan praktik langsung pengolahan pangan lokal.

Pisang, keladi, petatas, dan sagu diolah menjadi empat produk inovatif, yakni Sapa Boladi (bolu keladi), Sapa Bronana (brownies pisang), Sapa Kita (cookies petatas), serta Sapa Sagara (cookies sagu dan gula merah). Para peserta dibagi dalam lima kelompok untuk mempraktikkan langsung proses pengolahannya.

Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot UNDIP, Prof. Dr. Diana Nur Afifah, S.T.P., M.Si., mengatakan Sagu Sapa dirancang agar manfaatnya tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Kader kesehatan diharapkan menjadi penggerak edukasi gizi di tengah masyarakat, sementara pelaku UMKM dapat mengembangkan olahan pangan lokal menjadi sumber pendapatan baru.

“Para kader diharapkan dapat menjadi penggerak yang meneruskan pengetahuan dan keterampilan ini kepada keluarga dan masyarakat, sementara pelaku UMKM dapat mengambil peran dalam mengembangkan inovasi pangan lokal menjadi produk yang layak dipasarkan,” ujar Prof. Diana, Jumat (25/9).

Bagi masyarakat Senggi, pelatihan tersebut membuka cara pandang baru terhadap bahan pangan yang selama ini tersedia di sekitar mereka. Pangan lokal yang sebelumnya diolah secara sederhana ternyata dapat dikembangkan menjadi berbagai produk yang lebih menarik dan memiliki nilai tambah.

Mama Mery, Kader Posyandu Kampung Woslay SP 2, mengaku mendapatkan pengetahuan baru yang ingin ia teruskan kepada masyarakat lainnya.

“Mungkin selama ini kami mengolahnya seadanya saja. Kami sangat bersyukur dengan adanya kegiatan ini karena bisa menambah ilmu baru. Mudah-mudahan apa yang kami dapat bisa kami bagikan lagi kepada saudara atau teman-teman yang juga berminat,” kata Mama Mery.

Dari Gizi Keluarga hingga Peluang Ekonomi

Pemanfaatan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk melalui pemenuhan gizi dan pencegahan stunting.

Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya pada puncak HUT ke-28 PAN di JICC, Jakarta, 18 September 2026, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan gizi menjadi bagian penting dalam menjamin masa depan anak-anak Indonesia.

“Saya tidak ingin membiarkan masih ada rakyat Indonesia yang hidup dalam kelaparan atau anak-anak yang kehilangan masa depan akibat kekurangan gizi,” tegas Presiden Prabowo beberapa waktu lalu.

Semangat tersebut juga sejalan dengan pendekatan pembangunan yang tidak hanya menghadirkan infrastruktur, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya.

Dalam forum BRICS pada 25 Juni 2025 lalu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan pentingnya pembangunan yang memberikan kesempatan kepada seluruh lapisan masyarakat.

“Membangun infrastruktur berkelanjutan itu perlu, tetapi belum cukup. Kita juga harus membangun kesempatan. Tidak boleh ada yang tertinggal,” ujar Menko AHY pada saat itu.

Prinsip menghadirkan manfaat yang berkelanjutan juga menjadi pesan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara kepada peserta Tim Ekspedisi Patriot. Dalam arahannya pada 21 September 2026, Menteri Iftitah meminta para peserta TEP tidak berhenti pada kegiatan penelitian, tetapi meninggalkan solusi yang dapat diteruskan masyarakat.

“Jangan hanya meninggalkan laporan. Tinggalkan karya. Tinggalkan solusi. Dan yang paling penting, tinggalkan manfaat yang terus dirasakan masyarakat,” pesan Menteri Iftitah dalam arahannya.

Program Sagu Sapa menjadi salah satu bentuk penerapan semangat tersebut di Kawasan Transmigrasi Senggi. Dari bahan pangan yang tumbuh dan tersedia di sekitar masyarakat, TEP UNDIP mendorong lahirnya sajian bergizi bagi keluarga sekaligus produk bernilai tambah bagi pelaku usaha.

Dengan keterampilan yang diteruskan oleh kader kesehatan dan dikembangkan oleh pelaku UMKM, pangan lokal diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari upaya pemenuhan gizi dan pencegahan stunting, tetapi juga menjadi sumber kemandirian pangan dan peluang ekonomi baru bagi masyarakat Senggi.