BERITA TERBARU
Data Center AI 640 MW Dibangun di Jatiluhur, Ditargetkan Beroperasi 2027 Harris Turino Minta Batas Defisit APBN Tetap 3 Persen Elvy Sukaesih Meriahkan HUT ke-70 Muba, Ribuan Warga Padati Lapangan Sekayu Tegaskan Pentingnya Suara Masyarakat, Pemerintah Perbarui Komitmen Sinergi SP4N-LAPOR! KAI Kooperatif dalam Proses Hukum dan Pastikan Pendampingan bagi Masinis Terkait Insiden Bekasi Timur KAI Kooperatif dalam Investigasi Keselamatan dan Tindak Lanjuti Rekomendasi KNKT Bawa Sport Tourism Indonesia ke Panggung Dunia, BRI Dukung Penuh Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) 2026 Melalui BAZNAS RI, MINISO Salurkan Bantuan Rp62,4 Juta untuk Warga Terdampak Gempa NTT dan Ajak Perusahaan Lain Turut Berkolaborasi Lima Kabupaten/Kota Sumut Dipulihkan, Kementerian PU Percepat Layanan Air Minum dan Sanitasi Pascabencana BAZNAS RI Perkuat Legalitas Aset Hibah Muzaki, Optimalkan Manfaat bagi Umat
DAERAH

Olahan Matoa Buka Sumber Penghasilan Baru bagi Ratusan Warga Prafi

Olahan Matoa Buka Sumber Penghasilan Baru bagi Ratusan Warga Prafi
dok. Kementrans

Buah matoa yang sebelumnya kerap dibiarkan membusuk kini menjadi sumber penghasilan baru bagi ratusan warga di Kawasan Transmigrasi Prafi, Manokwari, Papua Barat. Melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga, warga dibekali keterampilan mengolah matoa menjadi produk bernilai jual sekaligus didorong memasuki pasar swalayan, perdagangan digital, hingga pasar ekspor.

Program tersebut telah menjangkau 17 mama Orang Asli Papua (OAP) melalui pelatihan langsung, 104 warga lokal melalui modul pembelajaran, serta lebih dari 200 warga transmigran asal Jawa. Dengan keterampilan tersebut, warga dapat memulai usaha dari rumah dan memperoleh penghasilan tambahan tanpa hanya bergantung pada penjualan hasil kebun dalam bentuk mentah.

Selama ini, potensi ekonomi matoa di Prafi belum dimanfaatkan secara optimal. Pohonnya lebih sering ditebang untuk diambil batangnya sebagai bahan bangunan, sedangkan buahnya banyak dibiarkan terbuang.

“Buah matoa sebenarnya sudah dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia. Namun, kami ingin pengembangan komoditas yang menjadi kebanggaan Papua ini dimulai dari Papua sendiri melalui Tim Ekspedisi Patriot di Manokwari,” kata Ketua TEP UNAIR, Zamal Nasution, Rabu (2/9).

Dalam pelatihan tersebut, mama-mama OAP dan warga transmigran asal Jawa mempelajari pengolahan matoa menjadi beragam produk siap jual. Produk itu meliputi dodol matoa orisinal dan campuran nanas, selai, sambal merah, sambal hijau dan sambal bajak, stik buah, teh matoa orisinal dan herbal, es krim berbahan kelapa lokal, serta camilan kacang matoa.

Tidak berhenti pada pelatihan produksi, TEP UNAIR juga menyiapkan akses pemasaran melalui pasar swalayan, platform e-commerce, dan jaringan reseller. Produk olahan tersebut selanjutnya diarahkan untuk menjangkau pasar nasional melalui jejaring 10 perguruan tinggi negeri serta pasar internasional melalui ASEAN University Network.

“Target selanjutnya adalah menembus pasar nasional melalui kerja sama dengan 10 perguruan tinggi negeri dan membuka akses pasar internasional melalui ASEAN University Network,” ujar Zamal.

Bagi masyarakat, program ini memberikan manfaat konkret berupa keterampilan produksi, peluang membuka usaha rumahan, perluasan akses pemasaran, serta peningkatan nilai jual matoa. Buah yang sebelumnya tidak bernilai kini dapat diolah menjadi produk yang lebih tahan lama dan memiliki harga jual lebih tinggi.

Eta, warga Desa Dindey, mengatakan keterampilan tersebut membuka peluang bagi mama-mama dan generasi muda setempat untuk mengembangkan usaha sendiri.

“Kami berterima kasih kepada kakak-kakak yang sudah datang dari jauh untuk mengajarkan kami di Distrik Warmare cara membuat es krim, sambal, dan dodol. Dengan begitu, mama-mama dan nona-nona bisa lebih tahu cara mengolahnya agar usaha kami semakin besar,” kata Eta, Kamis (3/9/2026).

Produk olahan matoa binaan TEP UNAIR telah diperkenalkan dalam pameran UMKM se-Papua Barat pada 10 Agustus 2026. Usaha tersebut juga telah memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB) yang diserahkan oleh Gubernur Papua Barat. Legalitas itu menjadi modal penting untuk memperluas pemasaran sekaligus menjadikan olahan matoa sebagai buah tangan khas Papua Barat yang terjangkau.

Pengembangan produk matoa ini merupakan bentuk penerapan hilirisasi pada skala masyarakat. Warga tidak lagi hanya menjadi penghasil bahan mentah, tetapi terlibat dalam proses pengolahan, pengemasan, pemasaran, dan pengembangan usaha sehingga memperoleh bagian yang lebih besar dari rantai nilai komoditas lokal.

Langkah tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Program ini juga mencerminkan paradigma baru transmigrasi yang tidak lagi berorientasi pada pemindahan penduduk, melainkan pada penciptaan pusat pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal dan transmigran.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa pembangunan kawasan transmigrasi harus menghubungkan potensi lokal dengan seluruh mata rantai ekonomi, dari produksi hingga pemasaran global.

“Kita tidak boleh berhenti pada menanam dan mengekspor komoditas mentah. Kita harus membangun seluruh ekosistem ekonomi di Indonesia, mulai dari riset dan pembibitan hingga budidaya, pengolahan, logistik, produk hilir, dan pemasaran global,” kata Menteri Iftitah, beberapa waktu lalu.