BERITA TERBARU
Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara Tantangan Belajar Agama di Era Digital Israel Cabut Status Diplomatik Diplomat Belanda, Hubungan Kedua Negara Memanas
DAERAH

Dari Sungai Berjarak 350 Meter ke Air di Depan Rumah: Sumur Bor Ubah Rutinitas Harian Warga Bowi Subur

Dari Sungai Berjarak 350 Meter ke Air di Depan Rumah: Sumur Bor Ubah Rutinitas Harian Warga Bowi Subur
dok. Kementrans

Setiap hari keluarga Ishak Krey di Kampung Bowi Subur, SP6, harus menyusuri jalan sekitar 350 meter menuju sungai di belakang rumah bukan untuk mencari ikan. Melainkan sekadar mengambil air untuk minum, memasak, dan mandi, karena air di rumah mereka berwarna kuning dan tak layak pakai.

Kondisi itulah yang membuat Tim 8 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (Unair) turun ke lapangan. Mereka menyusuri satu per satu rumah warga, melakukan survei kesehatan air minum rumah tangga (SKAM RT) berbasis sistem informasi geografis (GIS) ke lebih dari 100 rumah untuk memetakan dari mana air tiap keluarga berasal, mulai dari sungai, air hujan, sumur gali, hingga sumur bor dangkal maupun dalam.

Dari data itu, penentuan titik sumur bor dilakukan secara cermat. Mereka mempertimbangkan wilayah mana yang paling membutuhkan, sekaligus bermusyawarah dengan kepala kampung agar lokasi yang dipilih tidak menimbulkan gesekan sosial.

Satu titik sumur kini telah dibor lebih dari 10 meter, dengan target kedalaman 40–50 meter agar air bisa mengalir secara artesis tanpa perlu pompa. Bagi keluarga Ishak Krey, kehadiran sumur ini bukan sekadar soal akses air.

“Saya sekeluarga merasa terbantu dengan adanya sumur bor karena di sini airnya kuning dan harus mengambil sungai di belakang untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya air kami juga bisa menyediakan kamar mandi untuk petani yang biasanya menyelep padi di belakang rumah, jadi tidak bingung kalau harus BAB/BAK, tidak perlu lari ke kali lagi,” ujarnya pada (9/8/2026).

Upaya Tim Unair ini sejalan dengan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap pemerataan akses air bersih hingga ke pelosok negeri.

“Tahun ini, di 8 bulan pertama tahun 2026, sudah 3.000 titik air desa yang dibangun oleh TNI,” kata Presiden Prabowo Subianto dalam pidato Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026 di Jakarta, Jumat (14/8).

Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan air bersih sebagai kebutuhan paling mendasar bagi masyarakat transmigrasi.

“Air bersih ini sumber hidup. Tanpa air bersih kita semua sulit untuk hidup,” Menko AHY (17/09/2026).

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara turut menekankan bahwa setiap program pendampingan di kawasan transmigrasi, termasuk Prafi, harus benar-benar memberi dampak nyata bagi warga.

“Kita harus memikirkan bagaimana anggaran ini memberikan multiplier effect yang maksimal,” ujar Mentrans (28/4/2026).