BERITA TERBARU
Harris Turino Minta Batas Defisit APBN Tetap 3 Persen Elvy Sukaesih Meriahkan HUT ke-70 Muba, Ribuan Warga Padati Lapangan Sekayu Tegaskan Pentingnya Suara Masyarakat, Pemerintah Perbarui Komitmen Sinergi SP4N-LAPOR! KAI Kooperatif dalam Proses Hukum dan Pastikan Pendampingan bagi Masinis Terkait Insiden Bekasi Timur KAI Kooperatif dalam Investigasi Keselamatan dan Tindak Lanjuti Rekomendasi KNKT Bawa Sport Tourism Indonesia ke Panggung Dunia, BRI Dukung Penuh Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) 2026 Melalui BAZNAS RI, MINISO Salurkan Bantuan Rp62,4 Juta untuk Warga Terdampak Gempa NTT dan Ajak Perusahaan Lain Turut Berkolaborasi Lima Kabupaten/Kota Sumut Dipulihkan, Kementerian PU Percepat Layanan Air Minum dan Sanitasi Pascabencana BAZNAS RI Perkuat Legalitas Aset Hibah Muzaki, Optimalkan Manfaat bagi Umat Kemnaker Manfaatkan AI untuk Verifikasi Mitra Penyelenggara dan Peserta MagangHub
DAERAH

Gempa M7,7 di Timur Laut Nagekeo, Badan Geologi Ingatkan Warga Patuhi Jalur Evakuasi

Gempa M7,7 di Timur Laut Nagekeo, Badan Geologi Ingatkan Warga Patuhi Jalur Evakuasi
dok. Biro Komunikasi Publik Kementerian ESDM

Sabtu dini hari, guncangan gempa dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur hingga Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan. Setelah gempa di Timur Laut Nagekeo itu, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta masyarakat tetap tenang dan waspada, mengikuti arahan BPBD setempat, memeriksa kondisi bangunan, serta mematuhi rambu dan jalur evakuasi.

Masyarakat juga diminta untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait gempa bumi dan tsunami. Kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan tetap perlu dijaga, sementara warga diimbau menghindari area tebing yang berpotensi mengalami pergerakan tanah, terutama saat kondisi hujan.

Gempa bumi terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58.23 WIB. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episentrum berada pada koordinat 8,33 LS-121,32 BT di Timur Laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, dengan magnitudo awal M7,0 dan kedalaman 10 kilometer.

Data GeoForschungsZentrum (GFZ) mencatat episentrum pada koordinat 8,375 LS-121,545 BT dengan magnitudo M6,25 pada kedalaman 10 kilometer. Parameter gempa kemudian diperbarui menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan, lokasi episenter berada di laut. Daerah terdekat memiliki morfologi yang beragam, mulai dari dataran, berombak, bergelombang, perbukitan, hingga pegunungan. Wilayah tersebut tersusun atas batuan gunung api berumur Tersier serta batuan sedimen berumur Kuarter.

Kondisi geologi itu menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memahami kuatnya guncangan di permukaan.

“Batuan yang telah mengalami pelapukan maupun sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi. Berdasarkan data tapak lokal Vs30, daerah sekitar episenter terklasifikasi dalam Kelas Tanah C (tanah sangat padat/batuan lunak), Kelas Tanah D (tanah sedang), dan Kelas Tanah E (tanah lunak). Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak ini berarti potensi guncangan gempa bumi di area tersebut terasa lebih intens,” ujar Lana Saria.

Berdasarkan parameter sumber, gempa tersebut memiliki mekanisme sesar naik yang berasosiasi dengan Zona Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust. Badan Geologi menyatakan daerah tersebut berada dalam Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi Menengah hingga Tinggi.

Berdasarkan informasi BMKG, intensitas guncangan tercatat IV-V MMI di Ruteng, V MMI di Kota Bima dan Kabupaten Dompu, serta IV-V MMI di Ende, Labuan Bajo, Maumere, dan Sumba Timur.