Warga Iran Sorak Kemenangan Demokrat di Pemilu AS, Trump Kena Pukulan Politik
Warga Iran menyambut gembira kekalahan Partai Republik dalam pemilihan umum sela Amerika Serikat (AS) yang digelar Selasa (3/11). Hasil pemilu tersebut menjadi pukulan politik bagi Presiden Donald Trump setelah Partai Demokrat berhasil merebut mayoritas di dua kamar Kongres AS.
Kemenangan Demokrat dinilai dapat menghambat agenda politik Trump selama dua tahun terakhir masa jabatannya. Namun, kendali baru Demokrat di Kongres baru berlaku ketika anggota parlemen terpilih mulai bertugas pada Januari 2027.
Kegembiraan atas hasil pemilu tersebut juga disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. Ia menilai kemenangan Demokrat mencerminkan penolakan masyarakat Amerika terhadap perang dengan Iran.
“Warga Amerika mengatakan TIDAK UNTUK PERANG, dan kami mendukung pesan ini,” tulis Qalibaf melalui akun X miliknya, seperti dikutip ABC News, Kamis (5/11).
Ia juga memperingatkan pemerintah AS agar tidak mengabaikan kehendak rakyatnya. Menurut Qalibaf, keputusan Washington yang bertentangan dengan suara pemilih dapat berujung pada konsekuensi serius.
Dikutip dari Al Jazeera, Rabu (4/11), Qalibaf sebelumnya memimpin delegasi Iran dalam perundingan dengan Washington yang menghasilkan nota kesepahaman sementara pada Juni lalu.

Di tengah perkembangan politik AS, warga Iran pendukung pemerintah juga menggelar demonstrasi di Teheran pada Rabu (4/11). Aksi tersebut berlangsung untuk memperingati pengambilalihan Kedutaan Besar AS oleh mahasiswa Iran pada 1979.
Dalam demonstrasi tersebut, massa menyampaikan kecaman terhadap AS dan Israel. Aksi serupa juga berlangsung di sejumlah kota lain, termasuk Bandar Abbas, Mashhad, dan Qom.
Kemarahan Iran terhadap AS dan Israel semakin meningkat setelah kedua negara melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan pembuka dalam perang tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, ayah dari pemimpin tertinggi saat ini, Mojtaba Khamenei.
Iran kemudian membalas serangan dan terlibat konflik berkepanjangan dengan AS serta Israel. Situasi semakin memanas setelah Teheran membatasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, sementara Washington memberlakukan blokade dan sanksi ekonomi terhadap Iran.
Meski hasil pemilu AS menjadi angin segar bagi Teheran, kemenangan Demokrat belum otomatis mengakhiri konflik. Trump masih memiliki kewenangan sebagai panglima tertinggi militer AS sebelum Kongres baru mulai bertugas.


