BERITA TERBARU
Harga Emas Hari Ini Rebound Tipis Usai Anjlok, Level US$4.100 Jadi Sorotan Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran
NASIONAL

Kementerian PU Hadirkan JIAT di Tengah Kekeringan, Petani Kalobo dan Waibu Tetap Produktif

Kementerian PU Hadirkan JIAT di Tengah Kekeringan, Petani Kalobo dan Waibu Tetap Produktif
dok. Kementerian PU

Di tengah kondisi kekeringan yang dapat mengancam ketersediaan air untuk lahan pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus memperkuat infrastruktur sumber daya air guna memastikan kebutuhan air bagi masyarakat tetap terpenuhi. Salah satunya melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) bagi petani di Kampung Kalobo dan Waibu Papua Barat Daya tetap dapat menjaga produktivitas pertanian.

Penyediaan jaringan irigasi air tanah ini menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan aktivitas pertanian, khususnya pada wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air permukaan dan menghadapi tantangan akibat kondisi cuaca kering.

Menteri PU, Dody Hanggodo menegaskan pembangunan JIAT merupakan langkah strategis untuk menjamin ketersediaan air, terutama saat musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino. Dengan sistem irigasi yang lebih andal, produktivitas pertanian diharapkan meningkat signifikan.

“Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat,” kata Menteri Dody. 

Selain itu, Menteri Dody juga menekankan agar pengembangan JIAT tidak hanya berfokus pada pembangunan sumur dan pompa air tanah, tetapi juga dilengkapi dengan jaringan saluran tersier sehingga mampu mengalirkan air secara lebih efektif hingga ke lahan pertanian. JIAT sendiri merupakan sistem irigasi yang memanfaatkan air tanah melalui sumur bor/pompa untuk mengairi lahan pertanian, terutama pada daerah yang tidak terjangkau jaringan irigasi permukaan.

Melalui pemanfaatan sumber air tanah, JIAT di Kampung Kalobo dan Waibu dirancang untuk memberikan suplai air yang lebih andal bagi lahan pertanian dengan luas layanan sekitar 100 hektare. Infrastruktur tersebut diproyeksikan memberikan manfaat kepada sekitar 90 petani di wilayah tersebut.

Dalam kondisi kekeringan, ketersediaan air menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas pertanian. Karena itu, infrastruktur irigasi air tanah menjadi salah satu upaya untuk memastikan lahan pertanian tetap mendapatkan pasokan air.

.

Secara teknis, jaringan irigasi tersebut memiliki panjang sekitar 10 kilometer dan dilengkapi 80 bangunan pendukung. Untuk mendukung penyediaan air, terdapat 10 titik sumur bor dengan kapasitas debit sekitar 12 liter per detik pada setiap titik. Air kemudian dialirkan melalui jaringan untuk memenuhi kebutuhan irigasi dengan debit layanan sekitar 2,5 liter per detik per titik.

Sistem tersebut juga dilengkapi dengan bak penampung berkapasitas 50 m³ sebagai bagian dari infrastruktur pendukung distribusi air ke kawasan pertanian. Keberadaan JIAT diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap curah hujan. Dengan tersedianya sumber air alternatif, lahan pertanian tetap memiliki dukungan pasokan air saat terjadi periode kering sehingga kegiatan budidaya dapat berlangsung secara lebih berkelanjutan.

Selain menjaga produktivitas pertanian, pembangunan JIAT juga diharapkan memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Meningkatnya keandalan air irigasi dapat membuka peluang peningkatan produksi dan pendapatan petani di Kampung Kalobo dan Waibu.

*Menjangkau Wilayah dengan Akses Terbatas*

Pembangunan infrastruktur air di Kalobo juga menghadapi tantangan geografis dan aksesibilitas. Dari Kota Sorong, perjalanan menuju Kampung Kalobo ditempuh menggunakan speedboat dengan jarak sekitar 26,3 kilometer dan waktu tempuh kurang lebih 1 jam.

Kondisi tersebut tidak mengurangi upaya pemerintah dalam menghadirkan infrastruktur dasar bagi masyarakat. Justru, penyediaan jaringan irigasi air tanah menjadi bagian dari komitmen Kementerian PU untuk memastikan pembangunan infrastruktur sumber daya air dapat menjangkau masyarakat hingga wilayah yang memiliki tantangan akses.

Kementerian PU terus mendorong pembangunan dan pengelolaan infrastruktur sumber daya air sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan air dan ketahanan pangan, terutama dalam menghadapi ancaman kekeringan dan perubahan kondisi iklim.

Melalui JIAT pemerintah hadir memastikan air tetap tersedia, pertanian tetap produktif, dan masyarakat tetap memiliki sumber penghidupan, meskipun menghadapi kondisi kering.