BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara
NASIONAL

Produktivitas PM-AAS Tembus Hingga 13 Ton, Mentan Amran: Jadi Solusi Hadapi Alih Fungsi Lahan

Produktivitas PM-AAS Tembus Hingga 13 Ton, Mentan Amran: Jadi Solusi Hadapi Alih Fungsi Lahan
dok. Kementan

Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong peningkatan produktivitas padi melalui metode Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS). Teknologi tersebut mampu meningkatkan produktivitas dari rata-rata 5–6 ton menjadi 10 –13 ton gabah per hektare, sehingga dinilai menjadi salah satu solusi untuk menjaga produksi pangan di tengah tekanan alih fungsi lahan.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan peningkatan produktivitas menjadi kunci agar kebutuhan pangan tetap dapat dipenuhi tanpa harus terus bergantung pada penambahan luas lahan.

“Ini adalah solusi. Pertama adalah meningkatkan kesejahteraan petani, yang kedua adalah keberlanjutan swasembada pangan, ketahanan pangan, kedaulatan pangan. Nah, juga benar alih fungsi lahan, jadi ini dampaknya luar biasa,” ujar Mentan Amran saat meninjau penerapan PM-AAS di Subang, Rabu (2/9). 

Menurut Mentan Amran, PM-AAS telah melalui uji coba selama sekitar dua tahun dan kini mulai diterapkan di 10–11 provinsi. Di masing-masing daerah, penerapannya dilakukan pada lahan percontohan dengan luasan yang bervariasi, mulai dari 10 hektare, 50 hektare, 100 hektare hingga 200 hektare.

Hasilnya menunjukkan peningkatan produktivitas yang signifikan. Jika sebelumnya produksi padi rata-rata berada di kisaran 5–5,5 ton per hektare, penerapan PM-AAS mampu menghasilkan sekitar 11 ton, 12 ton bahkan hingga 13 ton per hektare.

Mentan Amran menjelaskan peningkatan tersebut terutama berasal dari pengaturan populasi tanaman yang lebih rapat. Pada pola sebelumnya, populasi sekitar 360 ribu rumpun per hektare dapat ditingkatkan menjadi sekitar 800 ribu hingga 1 juta rumpun.

“Produktivitas naik karena populasinya bertambah. Dulu ada jarak 25 sentimeter, 20 sentimeter sehingga populasinya 360 ribu. Sekarang karena rapat, populasinya naik 800 ribu sampai 1 juta. Itulah yang menaikkan dua kali lipat,” jelasnya.

Menurut Mentan Amran, peningkatan produktivitas tersebut menjadi penting dalam menghadapi tantangan keterbatasan lahan pertanian akibat alih fungsi lahan.

Dengan produktivitas yang meningkat hampir dua kali lipat, produksi pangan dapat didorong dari lahan yang sama. Artinya, peningkatan produksi tidak semata-mata bergantung pada penambahan luas areal persawahan.

“Bagaimana tingkatkan produktivitas, bagaimana tingkatkan planting index. Ini produktivitas naik karena populasinya bertambah,” kata Mentan Amran.

Lahan yang sebelumnya menghasilkan sekitar 5 ton gabah per hektare dapat menghasilkan sekitar 10 ton dengan penerapan metode tersebut. Bahkan, pada sejumlah lokasi hasil panen telah mencapai 11 hingga 13 ton per hektare.

Mentan Amran menilai pendekatan tersebut penting untuk memperkuat keberlanjutan produksi pangan nasional. Terlebih, peningkatan produktivitas juga dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani.

Dengan produksi yang dapat ditingkatkan secara signifikan dari lahan yang sama, PM-AAS menjadi salah satu pendekatan untuk menjaga pasokan pangan nasional sekaligus mengurangi tekanan kebutuhan ekspansi lahan pertanian.