BERITA TERBARU
GAYA

Stres Bisa Picu Berat Badan Naik Drastis, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Stres Bisa Picu Berat Badan Naik Drastis, Ini Penjelasan Ilmiahnya
dok. capt: Stress meningkatkan risiko kegemukan (Foto/Pixabay)

Banyak orang merasa sulit menjaga berat badan meski sudah berolahraga dan mengatur pola makan dengan disiplin. Ternyata, penyebab utamanya sering kali bukan pada makanan atau aktivitas fisik semata, melainkan stres. Tekanan hidup yang berlangsung terus-menerus terbukti secara ilmiah dapat memicu kenaikan berat badan secara drastis dan sulit diatasi.

Fenomena ini dapat menimpa siapa saja, baik pekerja kantoran, pelajar, ibu rumah tangga, maupun siapa pun yang berada di bawah tekanan emosional berkepanjangan. Penelitian menunjukkan perempuan lebih rentan mengalami perubahan metabolisme akibat stres dibandingkan laki-laki.

Saat seseorang merasa tertekan, tubuh melepaskan hormon bernama kortisol atau sering disebut hormon stres. Peningkatan kortisol ini bekerja dengan dua cara: pertama, meningkatkan nafsu makan secara signifikan, terutama keinginan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak yang berkalori padat. Kedua, kortisol menurunkan kemampuan tubuh membakar lemak dan menurunkan laju metabolisme, sehingga kalori yang masuk lebih banyak daripada yang dibakar.

Jika stres berlangsung sesekali, dampaknya belum terlalu terasa. Namun saat stres terjadi secara kronis atau berkelanjutan dalam hitungan minggu hingga bulan, kadar kortisol tetap tinggi terus-menerus. Kondisi inilah yang memicu penumpukan lemak secara perlahan namun pasti, hingga terlihat kenaikan berat badan yang cukup signifikan.

Lemak akibat stres cenderung menumpuk di bagian perut atau rongga perut, yang dikenal sebagai lemak viseral. Jenis lemak ini jauh lebih berbahaya dibandingkan lemak di bagian paha atau pinggang karena berdekatan dengan organ penting tubuh.

Selain makan berlebih karena dorongan emosional, kortisol juga meningkatkan kadar insulin dalam darah. Hal ini membuat tubuh lebih mudah menyimpan lemak dan lebih sulit mengubahnya menjadi energi. Selain itu, orang yang stres cenderung kurang tidur dan kurang bergerak, dua faktor yang semakin memperberat penumpukan kalori.

Sebuah penelitian dari Universitas Negeri Ohio yang dimuat pada Medical Xpress menjelaskan mekanisme gandanya. Dalam laporan tersebut dikutip pernyataan peneliti bahwa rata-rata, perempuan yang mengalami satu atau lebih tekanan emosional dalam 24 jam sebelumnya membakar 104 kalori lebih sedikit dibandingkan perempuan yang tidak stres dalam tujuh jam setelah makan makanan berlemak. Selisih ini jika terus berulang dapat menyebabkan kenaikan berat badan hampir 5 kilogram dalam satu tahun. Selain itu, perempuan yang mengalami stres memiliki kadar insulin lebih tinggi dan kemampuan pembakaran lemak yang lebih rendah.

Artinya, stres membuat tubuh tidak hanya makan lebih banyak, tetapi juga membakar lebih sedikit kalori. Inilah kombinasi yang menyebabkan berat badan naik drastis dan sulit turun meski sudah berdiet.

Oleh karena itu, menjaga berat badan tidak cukup hanya dengan mengatur makan dan olahraga. Mengelola stres, menjaga kualitas tidur, dan meluangkan waktu untuk relaksasi adalah bagian penting dari pola hidup sehat yang seharusnya tidak boleh diabaikan.