BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara
GAYA

Bukan Tanda Kekuatan! Memendam Emosi Diam-diam Dapat Menggerogoti Tubuh dan Pikiran

Bukan Tanda Kekuatan! Memendam Emosi Diam-diam Dapat Menggerogoti Tubuh dan Pikiran
dok. Capt: Memendam Emosi Diam-diam Dapat Menggerogoti Tubuh dan Pikiran (Foto/Pinterest)

Fenomena ini dialami oleh siapa saja yang terbiasa menyembunyikan perasaan—baik karena didikan sejak kecil, takut dinilai lemah, ingin menjaga keharmonisan hubungan, atau merasa tidak ada yang peduli. Para ahli kesehatan mental menegaskan, kebiasaan ini bukan kedewasaan, melainkan beban yang ditanggung tubuh sepenuhnya.

Memendam emosi adalah tindakan menekan, menolak, atau menyembunyikan perasaan marah, sedih, kecewa, takut—seolah tidak terjadi apa-apa. Emosi yang dipendam tidak hilang, melainkan menumpuk. Dampaknya nyata: tekanan darah tinggi, gangguan tidur, sakit kepala, kelelahan kronis, risiko penyakit jantung, hingga kecemasan dan depresi. Studi dari National Institutes of Health menunjukkan mereka yang kerap menahan emosi memiliki risiko kematian dini lebih tinggi, termasuk karena kanker.

Dampak ini tidak muncul seketika, melainkan terakumulasi berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Sering kali disadari setelah tubuh mengirimkan sinyal jelas: sakit yang berulang, suasana hati yang datar, atau hubungan yang perlahan menjauh.

Dampaknya menyebar ke seluruh aspek: di dalam tubuh, otak, hingga hubungan dengan orang terdekat. Orang di sekitar pun akhirnya merasakan jarak, meski tidak selalu tahu alasannya. Seseorang memendam emosi karena merasa ekspresi perasaan tidak aman, takut ditolak, atau percaya bahwa “menjadi kuat” berarti tidak boleh rapuh. Padahal, menutup emosi sama saja menutup jalan bagi perasaan bahagia juga untuk masuk.

Saat emosi ditekan, tubuh tetap memproduksi hormon stres seolah menghadapi ancaman nyata. Sistem imun melemah, pembuluh darah tegang, tidur terganggu. Lama-kelamaan, perasaan yang disembunyikan bisa meledak secara tiba-tiba atau berubah menjadi penyakit fisik yang sulit ditemukan penyebabnya . Mengelola emosi bukan berarti meluapkannya sembarangan, melainkan mengenali, menamai, dan menyalurkannya secara sehat—berbicara, menulis, bergerak, atau beristirahat.

Dikutip dari media RRI, bahwa kebiasaan selalu terlihat kuat dan jarang mengungkapkan perasaan bisa memberi tekanan tersendiri; kondisi emosional yang terpendam lama berhubungan erat dengan penurunan daya tahan tubuh, sehingga risiko berbagai penyakit, termasuk gangguan autoimun, ikut meningkat.

Memahami bahwa merasakan emosi adalah wajar, dan mengekspresikannya dengan bijak bukan kelemahan, adalah langkah pertama menjaga diri. Kesehatan seutuhnya berarti memelihara tubuh sekaligus membiarkan perasaan mengalir.

Kategori: Gaya