Muhammadiyah Perkuat Gerakan Kemanusiaan, dari Infak Jumat hingga Pemulihan Bencana
Yogyakarta, DARIM.ID – Muhammadiyah memperkuat gerakan kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak bencana di berbagai daerah. Gerakan tersebut dilakukan melalui penghimpunan infak, pengerahan relawan, layanan kesehatan, penyediaan kebutuhan dasar, hingga pendampingan dalam masa pemulihan.
Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah M. Izzul Muslimin menyampaikan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah mengeluarkan edaran agar infak Jumat di masjid-masjid Muhammadiyah dihimpun dan disalurkan untuk membantu masyarakat terdampak bencana, terutama gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurutnya, penggalangan dana tersebut tidak harus berhenti setelah satu pekan. Warga Muhammadiyah masih dapat melanjutkan pengumpulan infak untuk membantu para penyintas bencana. Selain NTT, perhatian juga diarahkan kepada masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan.
“Artinya edaran itu tidak berarti satu pekan berhenti, tapi kalau seandainya ada yang ingin melanjutkan lagi juga enggak apa-apa,” ujar Izzul dalam acara Ruang Publik TVMu, Sabtu (05/09).
Izzul mengajak warga Muhammadiyah menyalurkan kepedulian melalui infak Jumat maupun Lazismu yang tersedia di berbagai tingkatan persyarikatan.
“Kita berharap warga Muhammadiyah untuk bisa menyalurkan rezekinya, baik melalui infak Jumat, bisa juga melalui Lazismu di masing-masing tempat,” katanya.
Dari Penghimpunan hingga Distribusi
Gerakan tersebut melibatkan sejumlah unsur dalam Muhammadiyah. Lazismu menjalankan fungsi penghimpunan dana, sedangkan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) berperan dalam asesmen dan pelaksanaan penanganan di lapangan.
Bendahara MDMC Dede Haris Sumarno mengatakan, gotong royong untuk membantu masyarakat terdampak bencana telah menjadi bagian yang melekat dalam gerakan Muhammadiyah.
Dede mengingatkan kembali kisah KH Ahmad Dahlan yang mengajak warga untuk membiayai persyarikatan. Semangat tersebut, menurutnya, terus hidup dalam bentuk partisipasi warga Muhammadiyah saat terjadi bencana.
“Kalau di Persyarikatan Muhammadiyah ini adalah sesuatu yang saya kira sudah sangat mendarah daging,” kata Dede.
Dalam penanganan bencana, MDMC melakukan asesmen untuk mengetahui kebutuhan masyarakat sebelum bantuan didistribusikan. Bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kondisi lapangan, mulai dari hunian darurat, makanan, kesehatan, kebutuhan anak-anak, pendidikan darurat, hingga tempat ibadah.
Di Flores, misalnya, MDMC telah mengerahkan tim kesehatan dan membangun rumah sakit lapangan serta layanan kesehatan bergerak. Langkah tersebut dilakukan karena para pengungsi tersebar di berbagai titik.
Bantuan juga mencakup hunian darurat karena gempa susulan masih membuat masyarakat merasa khawatir. Pendidikan anak-anak tetap menjadi perhatian agar proses belajar tidak terhenti akibat bencana.
“Adik-adik kita boleh saja mengalami kejadian seperti ini, tapi pendidikannya tidak boleh ditinggalkan,” ujar Dede.
Di Kalimantan, MDMC juga mempertahankan tim yang membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan. Sementara itu, untuk Flores, tim kesehatan dari sejumlah rumah sakit Muhammadiyah dikerahkan secara bergiliran.
Dede menegaskan, Muhammadiyah menempatkan diri sebagai mitra pemerintah dalam penanganan bencana.
“Posisi membantu, tidak menggantikan pemerintah. Kita berkoordinasi mana rumah yang rusak berat, rusak sedang dan sebagainya,” jelasnya.
Muhammadiyah One Response
Penanganan bencana Muhammadiyah tidak berhenti pada masa tanggap darurat. Setelah fase tersebut selesai, penanganan berlanjut menuju pemulihan ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga kehidupan sosial masyarakat.
Dede menjelaskan, setiap tahapan melibatkan unsur Muhammadiyah sesuai bidang masing-masing. Majelis ekonomi dapat mengambil peran dalam pemulihan ekonomi, Majelis Pendidikan Dasar Menengah dalam pemulihan pendidikan, sementara perguruan tinggi dan rumah sakit juga terlibat sesuai kebutuhan.
Pola tersebut disebut sebagai Muhammadiyah One Response, yaitu keterlibatan berbagai elemen persyarikatan dalam satu rangkaian penanganan bencana.
“Tidak hanya satu atau dua lembaga, tapi seluruh elemen yang ada di persyarikatan bergerak bersama sesuai dengan tahapannya masing-masing,” kata Dede.
Menurutnya, penanganan bencana memang membutuhkan waktu panjang. Karena itu, dukungan masyarakat juga dibutuhkan setelah perhatian media terhadap sebuah bencana mulai berkurang.
Direktur Fundraising Lazismu Mochammad Sholeh Farabi menegaskan hal serupa. Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa penanganan bencana berlangsung jauh lebih lama daripada masa pemberitaan di media.
“Jangan biarkan kepedulian itu berhenti walaupun kabar tentang bencana mulai menghilang dari televisi,” ujar Farabi.
Farabi mengatakan, Muhammadiyah biasanya hadir sejak masa awal bencana dan terus mendampingi masyarakat hingga proses pemulihan.
“Jadi jalan bencana itu panjang. Biasanya memang Muhammadiyah itu tim yang biasanya pertama datang tapi pulang paling terakhir,” katanya.
Rp7,4 Miliar dan 20 Ribu RendangMu
Gerakan penghimpunan dana juga menunjukkan respons cepat dari masyarakat. Farabi menyampaikan, dana yang dihimpun Lazismu berdasarkan instruksi Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk penanganan bencana NTT telah mencapai sekitar Rp7,4 miliar.
“Menurut data yang terkumpul di Lazismu, berdasarkan surat PP Muhammadiyah untuk menghimpun itu sampai saat ini sudah masuk sekitar 7,4,” kata Farabi.
Dana tersebut akan disalurkan sesuai kebutuhan dan hasil asesmen tim di lapangan. Untuk bencana lain seperti kebakaran hutan dan lahan serta erupsi, proses penghimpunan masih berlangsung.
Lazismu juga menyiapkan bantuan yang memperhatikan kebutuhan kelompok rentan. Dalam respons darurat, bantuan mencakup family kit, woman kit, dan hygiene kit.
Untuk kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, kebutuhan bantuan juga disesuaikan dengan hasil asesmen MDMC. Saat ini, antara lain telah tersedia donasi berupa uang, masker, dan kebutuhan kesehatan.
Keterlibatan masyarakat juga datang dari perguruan tinggi Muhammadiyah. Sivitas akademika, mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan ortom turut menggalang bantuan serta mengajak masyarakat berdonasi.
Selain dana, Lazismu mendistribusikan makanan siap saji melalui program RendangMu. Farabi menyebut sekitar 20.000 kaleng RendangMu telah disalurkan kepada penyintas bencana di NTT melalui posko-posko Muhammadiyah.
“Saat ini kami sudah menyalurkan kurang lebih ada 20.000 kaleng,” ungkapnya.
Bantuan tersebut memanfaatkan daging kurban agar dapat segera dikonsumsi oleh masyarakat terdampak bencana.
Besarnya dana yang dihimpun diikuti dengan tuntutan transparansi dan akuntabilitas. Farabi memastikan Lazismu akan melaporkan penghimpunan dan penggunaan dana kepada masyarakat.
“Dana yang terhimpun di Lazis itu akan kita kelola dengan prinsip amanah dan profesional. Itu sudah menjadi SOP kami,” tegasnya.
Menurut Farabi, masyarakat dan para donatur akan mendapatkan informasi mengenai jumlah dana yang dihimpun, penggunaannya, serta bentuk bantuan yang disalurkan. Pelaporan dilakukan melalui berbagai kanal, termasuk media dan media sosial.
Dalam pelaksanaannya, Lazismu terus berkoordinasi dengan MDMC yang memperoleh informasi langsung mengenai kondisi dan kebutuhan di lapangan.
Model tersebut membuat penghimpunan dana tidak berjalan terpisah dari operasi kebencanaan. MDMC melakukan asesmen dan menentukan kebutuhan, sementara Lazismu menyiapkan dukungan pendanaan dan mengomunikasikan kebutuhan tersebut kepada masyarakat.
Menggagas Dana Abadi Kemanusiaan
Dede juga mengusulkan penguatan kesiapsiagaan melalui pembentukan dana abadi kemanusiaan. Gagasan ini dinilai penting karena respons bencana membutuhkan kecepatan, sementara penghimpunan dana biasanya baru dimulai setelah bencana terjadi.
“Namun apabila kita telah memiliki dana abadi kemanusiaan, insyaallah maka bahasa anak mudanya akan lebih gercep,” ujar Dede.
Menurutnya, dana abadi tersebut dapat membuat Muhammadiyah memiliki sumber daya yang siap digunakan ketika bencana terjadi sehingga respons awal tidak harus menunggu proses penghimpunan.
Dede mengaitkan gagasan tersebut dengan semangat Al-Maun yang menjadi salah satu ruh gerakan sosial Muhammadiyah. Bantuan kemanusiaan, menurutnya, diberikan kepada siapa pun yang membutuhkan tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang.
“Bencana kemanusiaan itu melampaui segalanya. Ada tidak ada agama, tidak ada suku dan lain sebagainya, semua kita bantu hanya karena rasa kemanusiaan,” katanya.
Semangat tersebut menjadi alasan Muhammadiyah terus terlibat dalam penanganan bencana hingga masa pemulihan. Dede menyebut kader Muhammadiyah memiliki tanggung jawab menjadi bagian dari solusi atas persoalan kemanusiaan di Indonesia.
“Kita merasa bahwa ini adalah tugas kita sebagai khalifah, tugas kita sebagai warga bangsa dan tugas kita sebagai kader persyarikatan untuk menjadi bagian daripada solusi terhadap berbagai persoalan yang ada di Republik ini, khususnya terkait dengan kebencanaan atau kemanusiaan,” ujarnya.
Farabi menambahkan, kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan dalam seluruh tahapan penanganan bencana. Dukungan tersebut berupa dana, tenaga, maupun barang.
Menurutnya, para penyintas membutuhkan pendampingan hingga benar-benar pulih. Karena itu, dukungan publik perlu dipertahankan meskipun bencana sudah tidak lagi menjadi berita utama.
“Kami semua elemen di Muhammadiyah akan mendampingi para penyintas bencana sampai mereka pulih,” kata Farabi.
Gerakan kemanusiaan Muhammadiyah dengan demikian bergerak dari masjid, Lazismu, relawan, rumah sakit, kampus, hingga berbagai majelis dan lembaga. Semuanya diarahkan dalam satu kerja bersama agar bantuan yang diberikan sesuai kebutuhan dan dapat menjangkau masyarakat sejak masa tanggap darurat hingga pemulihan.


