BERITA TERBARU
Como Tegaskan Nico Paz Milik Mereka, Real Madrid Masih Punya Klausul Pembelian Kembali Rusia Siapkan 90 Peluncur Rudal Canggih untuk Iran, Senjata Ini Dipakai Perang Ukraina Pasien Obesitas Hadapi Beban Mental, Stigma dan Body Shaming Hambat Pemulihan Apple Peringatkan Bahaya Agen AI, Bisa Picu Tuntutan Hukum dan Rusak Reputasi Persija Jakarta dan PSM Makassar Masuk Daftar Klub Penunggak Gaji Pemain Dukung Visi Pangan Presiden, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya Datangkan Ribuan Bibit & Bangun Rumah Bibit Tangguh Iklim Wamenaker Tekankan Kolaborasi Pemerintah dan Kampus Jembatani Kesenjangan Keterampilan Lulusan Roler Koster AC Milan Warga Iran Sorak Kemenangan Demokrat di Pemilu AS, Trump Kena Pukulan Politik Wamen Ossy Laporkan Progres Dukungan Kementerian ATR/BPN dalam Percepatan Pembangunan KSPEAN di Empat Provinsi Prioritas
DAERAH

Dukung Visi Pangan Presiden, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya Datangkan Ribuan Bibit & Bangun Rumah Bibit Tangguh Iklim

Dukung Visi Pangan Presiden, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya Datangkan Ribuan Bibit & Bangun Rumah Bibit Tangguh Iklim
dok. Kementrans

Hampir 3.000 bibit Tanaman Hortikultura (Buah-buahan) dan Tanaman Kayu, didatangkan ke Papua Barat. Agar bibit tidak mudah mati, Rumah Bibit Tangguh Iklim dibangun di kampung persiapan Klawosom, Kawasan Transmigrasi Klamono – Segun, kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Ini dilakukan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IV Universitas Brawijaya guna memecahkan persoalan masyarakat setempat.

“Sejak ada program Tim Patriot, kami baru mengenal pembibitan seperti ini. Kami juga belajar bahwa jarak tanam perlu diatur dalam sistem agroforestri. Kami sangat merasakan manfaat program ini dan berharap tim dapat kembali lagi,” ujar Lorentius G. Ile Kolin, warga transmigran Klawosom, saat pelatihan teknik grafting bibit unggul (19/09/2026) lalu .

Rumah bibit Nursery ini dilengkapi tiga profile tank berkapasitas total 3.350 liter, sistem pengairan, rumah produksi, gudang penyimpanan, mesin pencacah, tiga tong biochar, serta peralatan pendukung lainnya. Fasilitas ini disiapkan agar kegiatan pembibitan tetap berjalan setelah masa pendampingan tim berakhir.

Selain perawatan bibit, warga mendapat pelatihan pengolahan media tanam, perbanyakan bibit melalui grafting atau sambung pucuk, pembuatan kompos dari bahan lokal, serta produksi biochar sebagai pembenah tanah.

Keberlanjutan program didukung pembentukan dua kelompok tani, yaitu Kuk Mala Fai Tunas Muda dan Olom Fagu, serta satu Kelompok Wanita Tani (KWT) Sinagi. Ketiganya disiapkan untuk mengelola rumah bibit dan mengembangkan agroforestri bersama masyarakat.

Program ini menyasar lebih dari 600 kepala keluarga, termasuk 60 anggota kelompok tani dan KWT. Pengiriman bibit dimulai pada 7 Oktober 2026, sementara pendampingan dan pengembangan program berlangsung hingga penarikan tim pada akhir November 2026.

“Besar harapan kami program ini terus berlanjut melalui penerapan sistem agroforestri intensif yang sesuai dengan pola bertani masyarakat Klawosom,” ujar Syamsul Arifin, Ketua TEP IV UB (27/10/2026) lalu.

Pengembangan rumah bibit ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperbanyak pusat pembibitan pohon. “Bikin nursery-nursery, saya butuh benih-benih pohon yang bagus untuk semua kota dan kabupaten kita,” ujar Prabowo saat peresmian akad massal rumah subsidi dan KUR Perumahan di Batang (30/07/2026) lalu.

Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan AHY menekankan pentingnya keseimbangan ekonomi dan kelestarian lingkungan. “Prosperity saja tidak cukup, harus diimbangi dengan sustainability,” ujarnya dalam Lestari Summit 2026 (22/07/2026) lalu.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara juga menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat harus menjadi prioritas melalui transfer pengetahuan dan teknologi. “Kata kuncinya adalah pemberdayaan dan keberdayaan, yang jauh lebih penting daripada bantuan yang sifatnya instan,” ujarnya saat meninjau Kawasan Transmigrasi Klamono–Segun (31/10/2026).

Dengan rumah bibit, keterampilan baru, dan kelompok pengelola yang telah terbentuk, masyarakat Klawosom memiliki modal untuk melanjutkan pembibitan dan mengembangkan pertanian yang produktif sekaligus ramah lingkungan.