BERITA TERBARU
Harris Turino Minta Batas Defisit APBN Tetap 3 Persen Elvy Sukaesih Meriahkan HUT ke-70 Muba, Ribuan Warga Padati Lapangan Sekayu Tegaskan Pentingnya Suara Masyarakat, Pemerintah Perbarui Komitmen Sinergi SP4N-LAPOR! KAI Kooperatif dalam Proses Hukum dan Pastikan Pendampingan bagi Masinis Terkait Insiden Bekasi Timur KAI Kooperatif dalam Investigasi Keselamatan dan Tindak Lanjuti Rekomendasi KNKT Bawa Sport Tourism Indonesia ke Panggung Dunia, BRI Dukung Penuh Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) 2026 Melalui BAZNAS RI, MINISO Salurkan Bantuan Rp62,4 Juta untuk Warga Terdampak Gempa NTT dan Ajak Perusahaan Lain Turut Berkolaborasi Lima Kabupaten/Kota Sumut Dipulihkan, Kementerian PU Percepat Layanan Air Minum dan Sanitasi Pascabencana BAZNAS RI Perkuat Legalitas Aset Hibah Muzaki, Optimalkan Manfaat bagi Umat Kemnaker Manfaatkan AI untuk Verifikasi Mitra Penyelenggara dan Peserta MagangHub
DAERAH

Dari Sungai Berjarak 350 Meter ke Air di Depan Rumah: Sumur Bor Ubah Rutinitas Harian Warga Bowi Subur

Dari Sungai Berjarak 350 Meter ke Air di Depan Rumah: Sumur Bor Ubah Rutinitas Harian Warga Bowi Subur
dok. Kementrans

Setiap hari keluarga Ishak Krey di Kampung Bowi Subur, SP6, harus menyusuri jalan sekitar 350 meter menuju sungai di belakang rumah bukan untuk mencari ikan. Melainkan sekadar mengambil air untuk minum, memasak, dan mandi, karena air di rumah mereka berwarna kuning dan tak layak pakai.

Kondisi itulah yang membuat Tim 8 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (Unair) turun ke lapangan. Mereka menyusuri satu per satu rumah warga, melakukan survei kesehatan air minum rumah tangga (SKAM RT) berbasis sistem informasi geografis (GIS) ke lebih dari 100 rumah untuk memetakan dari mana air tiap keluarga berasal, mulai dari sungai, air hujan, sumur gali, hingga sumur bor dangkal maupun dalam.

Dari data itu, penentuan titik sumur bor dilakukan secara cermat. Mereka mempertimbangkan wilayah mana yang paling membutuhkan, sekaligus bermusyawarah dengan kepala kampung agar lokasi yang dipilih tidak menimbulkan gesekan sosial.

Satu titik sumur kini telah dibor lebih dari 10 meter, dengan target kedalaman 40–50 meter agar air bisa mengalir secara artesis tanpa perlu pompa. Bagi keluarga Ishak Krey, kehadiran sumur ini bukan sekadar soal akses air.

“Saya sekeluarga merasa terbantu dengan adanya sumur bor karena di sini airnya kuning dan harus mengambil sungai di belakang untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya air kami juga bisa menyediakan kamar mandi untuk petani yang biasanya menyelep padi di belakang rumah, jadi tidak bingung kalau harus BAB/BAK, tidak perlu lari ke kali lagi,” ujarnya pada (9/8/2026).

Upaya Tim Unair ini sejalan dengan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap pemerataan akses air bersih hingga ke pelosok negeri.

“Tahun ini, di 8 bulan pertama tahun 2026, sudah 3.000 titik air desa yang dibangun oleh TNI,” kata Presiden Prabowo Subianto dalam pidato Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026 di Jakarta, Jumat (14/8).

Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan air bersih sebagai kebutuhan paling mendasar bagi masyarakat transmigrasi.

“Air bersih ini sumber hidup. Tanpa air bersih kita semua sulit untuk hidup,” Menko AHY (17/09/2026).

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara turut menekankan bahwa setiap program pendampingan di kawasan transmigrasi, termasuk Prafi, harus benar-benar memberi dampak nyata bagi warga.

“Kita harus memikirkan bagaimana anggaran ini memberikan multiplier effect yang maksimal,” ujar Mentrans (28/4/2026).