BERITA TERBARU
Data Center AI 640 MW Dibangun di Jatiluhur, Ditargetkan Beroperasi 2027 Harris Turino Minta Batas Defisit APBN Tetap 3 Persen Elvy Sukaesih Meriahkan HUT ke-70 Muba, Ribuan Warga Padati Lapangan Sekayu Tegaskan Pentingnya Suara Masyarakat, Pemerintah Perbarui Komitmen Sinergi SP4N-LAPOR! KAI Kooperatif dalam Proses Hukum dan Pastikan Pendampingan bagi Masinis Terkait Insiden Bekasi Timur KAI Kooperatif dalam Investigasi Keselamatan dan Tindak Lanjuti Rekomendasi KNKT Bawa Sport Tourism Indonesia ke Panggung Dunia, BRI Dukung Penuh Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) 2026 Melalui BAZNAS RI, MINISO Salurkan Bantuan Rp62,4 Juta untuk Warga Terdampak Gempa NTT dan Ajak Perusahaan Lain Turut Berkolaborasi Lima Kabupaten/Kota Sumut Dipulihkan, Kementerian PU Percepat Layanan Air Minum dan Sanitasi Pascabencana BAZNAS RI Perkuat Legalitas Aset Hibah Muzaki, Optimalkan Manfaat bagi Umat
NASIONAL

Monitoring dan Evaluasi TEP 2026, Wamen Viva Yoga: Harus Tetap Bermuara Pada Transformasi Transmigrasi

Monitoring dan Evaluasi TEP 2026, Wamen Viva Yoga: Harus Tetap Bermuara Pada Transformasi Transmigrasi
dok. Humas Kementerian Transmigrasi/Antonius A.Giovanni dan Ahmad Mustopa

Meski di lapangan ada dinamika program tetapi hal itu tidak boleh menyimpang dari output dan target yang telah disepakati dalam Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Dinamika program dikarenakan banyak faktor seperti aspirasi masyarakat, kondisi sosiologi, klimatologi, topografi, dan faktor lainnya.

Ungkapan demikian disampaikan oleh Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi di hadapan 150 peserta ‘Monitoring dan Evaluasi Kegiatan TEP 2026’, Jakarta, (23/9/2026). Di antara 150 peserta, hadir Ketua TEP dan Reviewer proposal yang berasal dari UI, IPB, ITB, Universitas Padjadjaran, UGM, Universitas Diponegoro, ITS, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin. Kesepuluh perguruan tinggi negeri itu merupakan mitra Kementerian Transmigrasi (Kementrans) dalam program TEP.

Sebagaimana diketahui, akhir Juli atau awal Agustus, Kementrans melepas 1.476 peserta TEP yang terbagi dalam 246 tim ke 53 kawasan transmigrasi. Peserta yang terdiri dari guru besar, doktor, magister, dan sarjana dari sepuluh perguruan tinggi di atas mempunyai tugas untuk menghasilkan model, prototipe, desain, dan pendampingan yang dapat diterapkan di kawasan transmigrasi dan menyusun rekomendasi kebijakan berbasis kondisi lapangan.

Dalam perjalanan waktu, dari 246 program, akan di evaluasi dan dimonitor. 

“Program-program ini perlu ditelaah secara holistik karena menyangkut banyak aspek. Dinamika program bisa terjadi karena alasan kondisi sosial dan faktor lain sehingga perlu kajian lebih lanjut,” kata Wamen Viva Yoga.

Dalam monitoring dan evaluasi inilah program yang terjadi perlu dibahas, didiskusikan, dan di-review. 

“Hasil dari kegiatan ini nantinya akan menjadi keputusan bersama,” ujar Viva Yoga. 

Ia berharap implementasi program dari civitas akademika di lapangan mampu mengembangkan kawasan transmigrasi dengan berbagai spektrum untuk industrialisasi, meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan pusat-pusat perkembangan ekonomi, bisa tercipta sesuai dengan target dari Kementrans.

“Dari kegiatan ini Saya harap ada pandangan baru,”tuturnya. 

Viva Yoga mendorong hadirnya TEP bisa berkesinambungan untuk berkolaborasi, transfer knowledge, dan menghadirkan sumber daya manusia yang mempunyai ilmu, inovasi dalam rangka untuk mempercepat eskalasi transformasi transmigrasi. 

“Di lapangan membuktikan ketika ada manusia-manusia unggul di kawasan transmigrasi di sana ada transfer ilmu pengetahuan, semangat, energi, inovasi, kreasi, dan memberikan nilai yang berbeda dari sebelumnya,” ujarnya.

Kategori: Nasional