Memukau Panggung Vietnam! Kostum Nasional Miss World 2026 Penuh Makna Budaya
Kostum nasional adalah salah satu momen paling dinanti dalam ajang Miss World 2026, di mana 111 perwakilan negara dari berbagai benua mempersembahkan busana yang sarat dengan makna budaya, sejarah, dan identitas bangsa masing-masing. Di panggung terbuka Pantai Nha Trang, Vietnam, kostum-kostum luar biasa itu tampil memukau mulai dari keanggunan burung bangau putih dari Kazakhstan, keagungan burung kalao dari Pantai Gading, hingga kelembutan nuansa pegunungan dan tenun etnik dari Vietnam. Setiap helai kain dan ornamen yang dipajang bukan sekadar busana, melainkan kisah yang dipakai di atas tubuh.
Kostum-kostum tersebut dipersembahkan oleh 111 peserta Miss World 2026 yang didampingi oleh perancang busana ternama dari negara asalnya. Beberapa kostum yang paling mencuri perhatian antara lain: kostum burung bangau putih karya perwakilan Kazakhstan, kostum burung kalao yang melambangkan pelindung tradisi dari Pantai Gading, kostum bernuansa tenun etnik Vietnam, serta kostum berhias motif zellige dari Maroko. Perwakilan Indonesia, Audrey Bianca Calista, juga tampil memukau dengan kostum yang mengangkat kekayaan budaya Nusantara.
Penampilan kostum nasional digelar dalam rangkaian acara menjelang malam puncak Grand Final, yang berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026 Sebelumnya, para peserta telah memperkenalkan kostum nasional mereka melalui berbagai sesi pemotretan dan pameran budaya sejak akhir Agustus 2026.
Seluruh penampilan kostum nasional Miss World 2026 dipentaskan di Panggung Terbuka Lapangan 2 April, Nha Trang, Provinsi Khánh Hòa, Vietnam. Panggung yang dibangun tepat di tepi pantai ini menjadi saksi bagaimana keindahan budaya dari 111 negara bersanding dengan keindahan alam pesisir Vietnam.
Kostum nasional dipentaskan agar dunia dapat mengenal kekayaan budaya, seni, dan tradisi yang dimiliki setiap negara. Lebih dari sekadar adu indah, kostum ini menjadi jendela yang memperkenalkan nilai-nilai luhur, kearifan lokal, serta keterampilan tangan pengrajin yang diwariskan turun-temurun. Melalui kostum, peserta bercerita tentang siapa mereka, dari mana asalnya, dan apa yang menjadi kebanggaan bangsanya.
Setiap kostum dirancang dengan riset mendalam tentang simbol dan warisan budaya negara tersebut. Kazakhstan menampilkan gaun putih bersih dengan sayap lebar dan hiasan kepala berbentuk burung bangau yang melambangkan kesucian dan kesetiaan. Pantai Gading menghadirkan kostum merah-emas dengan sayap terbentang lebar, terinspirasi burung kalao yang dianggap suci dan pelindung tradisi. Vietnam menyuguhkan gaun yang menyatu dengan alam pegunungan dan motif tenun etnik yang memikat. Maroko tampil dengan jubah biru tua bersulam emas bergaya ubin zellige yang ikonik. Semua dipentaskan dengan gerakan yang memancarkan kebanggaan dan keanggunan, seolah-olah budaya mereka sedang hidup dan berbicara kepada dunia.
Dikutip dri Kompas.com, menyatakan bahwa biasanya wanita Kazakhstan digambarkan kuat dan berjiwa pejuang. Itulah sebabnya burung bangau menjadi simbol utamanya. Malam itu, panggung Vietnam bukan sekadar tempat bertanding. Ia menjadi panggung dunia di mana 111 budaya tampil berdampingan, saling memuliakan, dan membuktikan bahwa meski berbeda warna dan bentuk, keindahan yang lahir dari hati dan akar budaya akan selalu mampu menyentuh jiwa siapa pun yang melihatnya.


