BERITA TERBARU
Harris Turino Minta Batas Defisit APBN Tetap 3 Persen Elvy Sukaesih Meriahkan HUT ke-70 Muba, Ribuan Warga Padati Lapangan Sekayu Tegaskan Pentingnya Suara Masyarakat, Pemerintah Perbarui Komitmen Sinergi SP4N-LAPOR! KAI Kooperatif dalam Proses Hukum dan Pastikan Pendampingan bagi Masinis Terkait Insiden Bekasi Timur KAI Kooperatif dalam Investigasi Keselamatan dan Tindak Lanjuti Rekomendasi KNKT Bawa Sport Tourism Indonesia ke Panggung Dunia, BRI Dukung Penuh Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) 2026 Melalui BAZNAS RI, MINISO Salurkan Bantuan Rp62,4 Juta untuk Warga Terdampak Gempa NTT dan Ajak Perusahaan Lain Turut Berkolaborasi Lima Kabupaten/Kota Sumut Dipulihkan, Kementerian PU Percepat Layanan Air Minum dan Sanitasi Pascabencana BAZNAS RI Perkuat Legalitas Aset Hibah Muzaki, Optimalkan Manfaat bagi Umat Kemnaker Manfaatkan AI untuk Verifikasi Mitra Penyelenggara dan Peserta MagangHub
EKONOMI

Muhadjir Effendy Tegaskan Kemandirian Ekonomi Muhammadiyah sebagai Keniscayaan

Muhadjir Effendy Tegaskan Kemandirian Ekonomi Muhammadiyah sebagai Keniscayaan
dok. Muhammadiyah

Besarnya kepercayaan masyarakat kepada Muhammadiyah perlu dijawab dengan membangun kekuatan ekonomi yang mandiri. Persyarikatan tidak dapat terus-menerus menggantungkan pengembangan organisasi pada sumbangan, hibah, maupun aset wakaf.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Muhadjir Effendy dalam acara Hari Bermuhammadiyah (HBM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta pada Sabtu (5/9) di Aula Ir. Djuanda, Lt.5 Kantor PWM DKI Jakarta.

Muhadjir mengatakan, Muhammadiyah memperoleh kepercayaan yang sangat besar dari masyarakat. Kepercayaan tersebut terlihat dari banyaknya tanah dan aset yang diserahkan untuk dikelola Persyarikatan, termasuk oleh masyarakat nonmuslim.

“Kita bersyukur Muhammadiyah memiliki trust yang sangat baik. Tidak sedikit orang nonmuslim yang mewakafkan tanahnya untuk Muhammadiyah. Umat Islam yang bukan warga Muhammadiyah juga banyak yang berwakaf,” ungkapnya.

Namun, menurut Muhadjir, Muhammadiyah tidak boleh merasa cukup hanya menjadi pihak yang menerima wakaf. Sebagai gerakan Islam berkemajuan, Persyarikatan juga harus memiliki kemampuan untuk memberi dan menghadirkan manfaat yang lebih luas.

“Kita suka diberi wakaf, tetapi kita sendiri tidak pernah berwakaf. Saya kira itu tidak sesuai dengan prinsip Muhammadiyah, al-yadul ‘ulya khairun minal yadis-sufla, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” ujarnya, mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

Atas dasar itu, Muhadjir menegaskan bahwa pembangunan kemandirian ekonomi Muhammadiyah merupakan kebutuhan mutlak. Kekuatan ekonomi akan membuat Persyarikatan semakin mandiri, disegani, dan mampu memperluas jangkauan dakwah serta pelayanan kepada masyarakat.

“Kita tidak bisa membangun Muhammadiyah ke depan hanya dengan mengandalkan sumbangan, wakaf, hibah, dan seterusnya. Kita harus mandiri dan mampu membangun kekuatan ekonomi sendiri agar semakin disegani serta semakin bisa berekspansi,” tegasnya.

Kemandirian tersebut dapat dibangun melalui pengembangan jaringan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pendirian fasilitas produksi, serta pembentukan jaringan ritel. Jakarta dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat awal yang menghubungkan berbagai unit usaha Muhammadiyah.