BERITA TERBARU
Harris Turino Minta Batas Defisit APBN Tetap 3 Persen Elvy Sukaesih Meriahkan HUT ke-70 Muba, Ribuan Warga Padati Lapangan Sekayu Tegaskan Pentingnya Suara Masyarakat, Pemerintah Perbarui Komitmen Sinergi SP4N-LAPOR! KAI Kooperatif dalam Proses Hukum dan Pastikan Pendampingan bagi Masinis Terkait Insiden Bekasi Timur KAI Kooperatif dalam Investigasi Keselamatan dan Tindak Lanjuti Rekomendasi KNKT Bawa Sport Tourism Indonesia ke Panggung Dunia, BRI Dukung Penuh Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) 2026 Melalui BAZNAS RI, MINISO Salurkan Bantuan Rp62,4 Juta untuk Warga Terdampak Gempa NTT dan Ajak Perusahaan Lain Turut Berkolaborasi Lima Kabupaten/Kota Sumut Dipulihkan, Kementerian PU Percepat Layanan Air Minum dan Sanitasi Pascabencana BAZNAS RI Perkuat Legalitas Aset Hibah Muzaki, Optimalkan Manfaat bagi Umat Kemnaker Manfaatkan AI untuk Verifikasi Mitra Penyelenggara dan Peserta MagangHub
NASIONAL

KEMENHAM PECAHKAN REKOR DUNIA GUINNESS WORLD RECORDS®️ “LARGEST HUMAN RIGHTS LESSON”

KEMENHAM PECAHKAN REKOR DUNIA GUINNESS WORLD RECORDS®️ “LARGEST HUMAN RIGHTS LESSON”
dok. KemenHAM

Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (KemenHAM RI) melalui Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) HAM, resmi mengukir sejarah global dengan memecahkan rekor dunia untuk kategori “Largest Human Rights Lesson” pada GUINNESS WORLD RECORDS® dengan menggandeng 2.008 peserta yang terdiri atas civitas akademika dan praja di Kampus IPDN Jatinangor. Capaian ini melampaui pemegang rekor sebelumnya, Policía Nacional de Ecuador (Ekuador), pada tahun 2018 dengan jumlah peserta 1.772 partisipan.

Menteri HAM, Natalius Pigai yang didampingi oleh Wakil Rektor II Bidang Administrasi IPDN, Arief M. Edie, mengatakan bahwa pencapaian rekor ini menjadi puncak gerakan edukasi dan penyuluhan HAM yang dilakukan KemenHAM RI secara masif di berbagai pelosok nusantara. Penyerahan rekor dunia ini diberikan langsung oleh Ykh. Guinness World Records Official Adjudicator, Ms. Aynee Toorabally.

“Melalui PPSDM HAM, KemenHAM RI menjadi satu-satunya Kementerian yang berhasil memecahkan rekor dunia dalam pemenuhan salah satu tugas pokok utamanya yakni memberikan pendidikan dan penyuluhan tentang kesadaran HAM kepada masyarakat Indonesia”, ujar Menteri HAM.

Menurutnya, rekor ini memberi pesan kuat bahwa KemenHAM RI mendapat pengakuan dunia internasional dalam menjalankan salah satu amanat Peraturan Presiden (Perpres) 156 tentang KemenHAM RI yaitu tugas pendidikan dan penyuluhan tentang HAM.

“Kami punya tugas berdasarkan Perpres 156 tahun 2024 untuk mendidik dan mengajar tentang HAM. Dan ini diakui dunia internasional. Tentu ini pengakuan yang penting bagi Indonesia dan dunia. Rekor yang tadinya dipegang oleh Ekuador kini Indonesia,” ucap Menteri HAM.

Pada kesempatan ini, Menteri HAM juga menegaskan posisi Indonesia yang makin strategis dalam bidang Hak Asasi Manusia di mata dunia internasional. Termasuk tentunya KemenHAM RI yang berhasil meyakinkan lembaga internasional sehingga menempatkan Indonesia sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB tahun 2026.

Dengan adanya prestasi ini, Menteri HAM optimis Indonesia dapat melangkah menjadi pelopor dan percontohan penegakan serta pendidikan HAM di tingkat global.

Pada kesempatan yang sama, Rektor IPDN, Halillul Khairi yang pada kesempatan ini diwakili oleh Wakil Rektor II Bidang Administrasi, menyambut antusias pelaksanaan kegiatan ini. Menurutnya, pemahaman mengenai hak asasi manusia menjadi bagian yang sangat penting dalam pendidikan kepamongprajaan.

“Seorang aparatur pemerintahan tidak cukup hanya mampu menjalankan program dan kebijakan pemerintah, tetapi juga harus mampu memahami, menghormati, dan menjunjung tinggi martabat serta hak setiap warga negara. Nilai-nilai tersebut harus menjadi bagian dari sikap dan perilaku dalam melaksanakan tugas sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat. Untuk itu, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia beserta jajaran yang telah berkenan memberikan pembekalan dan pelatihan kepada sivitas akademika serta Praja IPDN”, pungkas Wakil Rektor II