BERITA TERBARU
Harris Turino Minta Batas Defisit APBN Tetap 3 Persen Elvy Sukaesih Meriahkan HUT ke-70 Muba, Ribuan Warga Padati Lapangan Sekayu Tegaskan Pentingnya Suara Masyarakat, Pemerintah Perbarui Komitmen Sinergi SP4N-LAPOR! KAI Kooperatif dalam Proses Hukum dan Pastikan Pendampingan bagi Masinis Terkait Insiden Bekasi Timur KAI Kooperatif dalam Investigasi Keselamatan dan Tindak Lanjuti Rekomendasi KNKT Bawa Sport Tourism Indonesia ke Panggung Dunia, BRI Dukung Penuh Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) 2026 Melalui BAZNAS RI, MINISO Salurkan Bantuan Rp62,4 Juta untuk Warga Terdampak Gempa NTT dan Ajak Perusahaan Lain Turut Berkolaborasi Lima Kabupaten/Kota Sumut Dipulihkan, Kementerian PU Percepat Layanan Air Minum dan Sanitasi Pascabencana BAZNAS RI Perkuat Legalitas Aset Hibah Muzaki, Optimalkan Manfaat bagi Umat Kemnaker Manfaatkan AI untuk Verifikasi Mitra Penyelenggara dan Peserta MagangHub
NASIONAL

BAZNAS RI Perkirakan Kerugian Bencana Gempa di NTT Capai Rp2,2 Triliun, Optimalkan Pemulihan Mustahik

BAZNAS RI Perkirakan Kerugian Bencana Gempa di NTT Capai Rp2,2 Triliun, Optimalkan Pemulihan Mustahik
dok. Baznas

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI memperkirakan total kerugian akibat bencana gempa bumi di delapan kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai Rp2,2 triliun. Dari jumlah tersebut, terdapat ruang bagi lembaga filantropi untuk ikut mendukung pemulihan pascabencana.

Perkiraan itu berdasarkan kajian Damage and Loss Assessment (DALA) yang dilakukan Direktorat Riset, Kajian, dan Pengembangan BAZNAS RI. Kajian tersebut menggunakan data hingga 18 Agustus 2026 atau lima hari setelah gempa terjadi.

Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., menyampaikan, kerugian tersebut mencakup kerusakan rumah warga, fasilitas umum, infrastruktur, hingga kerugian akibat terganggunya aktivitas ekonomi.

“Kerusakan terbesar berasal dari sektor perumahan yang diperkirakan mencapai Rp1,42 triliun dengan 19.317 unit rumah rusak. Selain itu, kerusakan fasilitas umum dan infrastruktur mencapai Rp275,1 miliar,” jelas Sodik dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (21/8/2026).

“Sementara itu, kerugian akibat hilangnya aktivitas ekonomi diperkirakan mencapai Rp334,1 miliar. BAZNAS juga menghitung biaya tambahan akibat bencana sebesar Rp191,7 miliar,” lanjutnya.

Sodik mengatakan, besarnya dampak tersebut membuat proses pemulihan membutuhkan kerja sama banyak pihak. Pemerintah, lembaga filantropi, dunia usaha, dan masyarakat perlu bergerak bersama untuk memastikan kebutuhan warga terdampak dapat dipenuhi, terutama pada masa pemulihan pascabencana.

“BAZNAS tidak menggantikan peran pemerintah. Kami hadir untuk melengkapi upaya pemulihan, terutama membantu masyarakat yang berada dalam kondisi rentan dan membutuhkan dukungan untuk kembali bangkit,” kata Sodik.

Sodik menjelaskan, salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian dalam proses pemulihan adalah pembangunan kembali rumah warga. Kajian BAZNAS menunjukkan adanya kesenjangan antara biaya penggantian rumah dengan plafon bantuan yang tersedia dalam skema pemerintah.

Sodik menjelaskan, selisih kebutuhan tersebut diperkirakan mencapai Rp366 miliar hingga Rp593 miliar. Menurutnya, kesenjangan pembiayaan itu dapat menjadi salah satu ruang bagi lembaga filantropi untuk ikut berkontribusi dalam pemulihan masyarakat terdampak, terutama kepada mustahik.

“Di Kabupaten Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus. Manggarai Timur sendiri menyumbang 54 persen dari total kerugian mustahik. Wilayah tersebut menyumbang 38,7 persen kerusakan rumah dari total delapan kabupaten terdampak. Di sisi lain, pangsa PDRB-nya hanya 9,6 persen dan tingkat kemiskinannya mencapai 23,5 persen,” jelas Sodik.

Lebih lanjut, Sodik menegaskan, dari kondisi tersebut BAZNAS menempatkan zakat, infak, sedekah, dan Dana Sosial Keagamaan Lainnya (DSKL) sebagai salah satu sumber dukungan untuk membantu proses pemulihan. 

“Dana tersebut diarahkan pada kebutuhan masyarakat yang belum sepenuhnya terjangkau oleh skema pembiayaan pemerintah,” ujarnya. 

Sodik mengatakan BAZNAS akan terus membuka ruang kerja sama dengan pemerintah dan berbagai pihak untuk memastikan proses pemulihan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat. 

Sebelumnya, sejak awal masa tanggap darurat setelah gempa melanda NTT, BAZNAS telah menerjunkan berbagai personel BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) dan Rumah Sehat BAZNAS (RSB) untuk membantu penanganan bencana. 

Selain dukungan personel dan layanan kesehatan, BAZNAS juga mendirikan dapur umum, dapur air serta posko pengungsian sementara.