Dari Gurih Hingga Menyatukan Keluarga! Ini Alasan Bubur Jadi Raja Sarapan Orang Indonesia
Di meja makan warga Indonesia, bubur tak pernah absen dari daftar menu sarapan pagi. Mulai dari bubur ayam, bubur sumsum, hingga bubur kacang hijau, hidangan bertekstur lembut ini hadir di hampir setiap sudut negeri, dari warung pinggir jalan hingga restoran ternama pada Senin (14/9/2026).
Hidangan berbahan dasar beras yang dimasak dengan air berlebih hingga teksturnya lunak dan mudah hancur. Bisa disajikan gurih dengan suwiran ayam, kerupuk, dan kacang kedelai, maupun manis dengan gula merah dan santan. Teksturnya yang ringan membuatnya mudah dicerna dan cocok untuk segala usia, mulai dari balita hingga lansia.
Hampir seluruh lapisan masyarakat. Ibu rumah tangga menyukainya karena praktis disiapkan, anak-anak menyukainya karena lembut di lidah, pekerja menyukainya karena mengenyangkan namun tidak membuat perut terasa berat saat beraktivitas. Penjual bubur keliling pun sudah menjadi pemandangan akrab di pagi hari.
Tidak hanya di rumah, bubur dijual di warung pagi, gerobak yang berkeliling perumahan, kantin sekolah, kantor, hingga acara syukuran dan ibadah. Bahkan saat hari raya, bubur sering menjadi hidangan pembuka yang dibagikan kepada tetangga.
Pertama, mudah dicerna tubuh tidak bekerja keras memproses makanan di pagi hari. Kedua, hangatnya kuah bubur memberi kenyamanan dan energi yang lembut. Ketiga, harganya terjangkau semua kalangan. Keempat, fleksibel: bisa dipadukan dengan lauk apa saja sesuai selera dan kemampuan.
“Bubur itu makanan yang memeluk perut. Tidak peduli kaya atau sederhana, bubur selalu ada di meja makan orang Indonesia. Ia bukan sekadar makanan, melainkan kebiasaan yang mewariskan kehangatan pagi dari generasi ke generasi,” ujar ahli kuliner Indonesia, Bondan Winarno, sebagaimana dikutip Kompas pada Juli 2026.
Bubur dimasak dengan api sedang hingga beras mekar dan lunak. Untuk versi gurih, ditambahkan kaldu agar lebih sedap, lalu diberi suwiran ayam, cakwe, daun bawang, dan kecap. Versi manis biasanya dimasak bersama gula merah atau santan. Cukup disantap selagi hangat, sendok demi sendok, memberi kenyamanan yang menenangkan sebelum memulai hari.Bubur bukan sekadar sarapan, ia adalah bagian dari identitas kuliner yang menyatukan rasa, kehangatan, dan kebersamaan setiap pagi.


