BERITA TERBARU
Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara Tantangan Belajar Agama di Era Digital
OPINI

September, Kekalutan dan Neruda

September, Kekalutan dan Neruda
dok. Gemini

Setiap pagi, jutaan manusia berjalan menuju gedung-gedung tinggi dengan langkah yang hampir seragama. Mereka membawa tas kerja, secangkir kopi, dan wajah yang menyimpan kelelahan yang sering kali tidak sempat mereka akui. Di balik layar komputer yang menyala sepanjang hari, terdapat manusia yang perlahan kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.

Dunia modern menciptakan sebuah ilusi bahwa manusia harus selalu bergerak. Berhenti dianggap sebagai kelemahan, beristirahat dianggap sebagai kemunduran, dan kelelahan sering kali dipandang sebagai bukti bahwa seseorang sedang berjuang mencapai sesuatu. Padahal, di balik angka produktivitas dan laporan keberhasilan, terdapat banyak manusia yang diam-diam mengalami kehampaan.

Mereka hadir secara fisik, tetapi perlahan menghilang secara batin. Mereka menyelesaikan pekerjaan, tetapi lupa mempertanyakan untuk apa semua itu dilakukan. Mereka berbicara dengan banyak orang setiap hari, tetapi tetap merasakan kesendirian yang tidak mudah dijelaskan.

Sunyi di Meja Kerja

Kantor yang dahulu dianggap sebagai ruang untuk berkembang perlahan berubah menjadi arena pertarungan eksistensial manusia. Di sana, seseorang tidak hanya menjual tenaga dan waktu, tetapi juga menyerahkan sebagian besar identitasnya. Nilai seorang manusia sering kali diukur dari seberapa cepat ia menyelesaikan pekerjaan, seberapa banyak target yang dicapai, dan seberapa besar kontribusi yang dapat ditunjukkan kepada organisasi.

Namun, manusia bukanlah mesin yang hanya membutuhkan bahan bakar untuk terus berjalan.

Ada titik ketika tubuh masih hadir di depan meja kerja, tetapi pikiran telah lama meminta pulang. Ada saat ketika seseorang tersenyum dalam rapat, tetapi menyimpan kelelahan yang tidak terlihat oleh siapa pun. Ada momen ketika keberhasilan yang diraih justru terasa kosong karena manusia kehilangan kesempatan untuk menikmati kehidupannya sendiri.

Inilah paradoks manusia modern: semakin banyak cara untuk terhubung, semakin banyak manusia yang merasa terasing. Teknologi membuat komunikasi semakin mudah, tetapi tidak selalu membuat manusia merasa dipahami. Ruang kerja dipenuhi percakapan, tetapi banyak hati tetap berada dalam kesunyian.

Burnout bukan sekadar persoalan kelelahan fisik. Ia adalah tanda bahwa manusia telah terlalu lama hidup dalam ketidakseimbangan. Ia muncul ketika tuntutan eksternal menjadi lebih besar daripada kemampuan manusia untuk merawat dirinya sendiri. Dalam kondisi tersebut, manusia perlahan berubah menjadi seseorang yang hanya mengejar kewajiban, tetapi kehilangan makna.

Barangkali pertanyaan terbesar manusia hari ini bukan lagi “bagaimana menjadi lebih produktif?”, tetapi “apakah kehidupan yang sedang dijalani masih terasa sebagai kehidupan?”

Alam Berbisik

Kegelisahan manusia modern ternyata tidak berhenti di dalam ruangan kantor. Dunia luar juga sedang menunjukkan luka yang serupa. September datang dengan kabar-kabar yang membuat manusia kembali mengingat bahwa bumi yang mereka tinggali tidak sedang baik-baik saja.

Berbagai bencana alam di Indonesia kembali menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam semakin rapuh. Banjir, longsor, kebakaran hutan, dan berbagai kerusakan ekologis menunjukkan bahwa alam memiliki batas kesabaran. Manusia selama ini terlalu sering memandang bumi sebagai ruang kosong yang dapat digunakan tanpa batas, bukan sebagai rumah yang harus dirawat.

Hutan berubah menjadi angka dalam laporan ekonomi. Sungai berubah menjadi jalur pembuangan. Tanah berubah menjadi objek perebutan kepentingan. Pembangunan sering kali dipahami hanya melalui pertumbuhan, tanpa cukup mempertanyakan apa yang hilang di balik kemajuan tersebut.

Ironisnya, penderitaan manusia akibat tekanan pekerjaan dan penderitaan alam akibat eksploitasi manusia memiliki akar yang sama: kehilangan keseimbangan.

Manusia yang memaksa dirinya bekerja tanpa batas akhirnya mengalami kehancuran batin. Alam yang dipaksa menghasilkan tanpa batas akhirnya mengalami kehancuran ekologis. Keduanya menunjukkan hukum yang sama: sesuatu yang terus dieksploitasi tanpa pemulihan akan kehilangan kemampuan untuk bertahan.

Bencana alam bukan hanya tentang fenomena geologi atau perubahan cuaca. Ia juga menjadi cermin moral yang menunjukkan bagaimana manusia memperlakukan dunia tempat ia hidup. Alam tidak sedang membalas manusia, tetapi memberikan tanda bahwa hubungan yang rusak harus diperbaiki.

Manusia sering lupa bahwa dirinya bukan penguasa mutlak bumi. Ia hanyalah bagian kecil dari jaringan kehidupan yang jauh lebih besar. Ketika manusia menghancurkan alam, sebenarnya ia sedang menghancurkan ruang kehidupannya sendiri.

Kehilangan

Di tengah dunia yang penuh kecemasan ini, suara Pablo Neruda terasa kembali menemukan tempatnya. Penyair asal Chile tersebut tidak hanya berbicara tentang cinta, tetapi juga tentang kesendirian manusia, keindahan alam, kehilangan, dan hubungan mendalam antara manusia dengan bumi.

Dalam puisi-puisinya, alam bukan sekadar dekorasi kehidupan manusia. Laut, tanah, bunga, dan langit memiliki jiwa tersendiri. Alam menjadi bagian dari perjalanan manusia untuk memahami dirinya. Ketika manusia kehilangan hubungan dengan alam, ia juga kehilangan bagian dari dirinya.

Neruda memahami bahwa kesedihan manusia bukan hanya berasal dari kehilangan seseorang atau sesuatu, tetapi juga dari keterasingan. Perasaan ketika manusia berada di tengah dunia yang ramai, tetapi tetap merasa sendiri. Perasaan ketika seseorang memiliki banyak hal, tetapi tidak lagi memahami makna dari apa yang dimilikinya.

Bukankah itu pula yang terjadi pada manusia hari ini?

Mereka mengejar karier, tetapi kehilangan waktu. Mereka membangun kota, tetapi kehilangan ruang hijau. Mereka menciptakan kemajuan, tetapi sering lupa bertanya apakah kemajuan itu membuat manusia lebih bahagia.

Mungkin September bukan hanya tentang hujan yang turun atau bencana yang datang. Ia adalah sebuah pengingat bahwa manusia perlu berhenti sejenak dan mendengarkan kembali suara yang selama ini diabaikan.

Mendengarkan dirinya sendiri. Mendengarkan manusia lain. Dan mendengarkan alam yang perlahan berbicara melalui luka-lukanya.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari bumi yang melahirkannya. Ketika alam terluka, manusia ikut kehilangan tempat berpijak. Dan ketika manusia kehilangan arah, mungkin alam sedang mencoba mengingatkan bahwa perjalanan pulang masih mungkin dilakukan.