BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara
OPINI

Senjakala TV “Masa Kini” dan Arsitektur Baru Ruang Publik

Senjakala TV “Masa Kini” dan Arsitektur Baru Ruang Publik
dok. Pinterest

Ketika Televisi Tidak Lagi Menjadi Pusat, Melainkan Salah Satu Simpul Ekosistem Media

Ada masa ketika televisi merupakan pusat gravitasi ruang publik Indonesia. Berita, hiburan, olahraga, sinetron, hingga perdebatan politik hadir melalui layar televisi dan dikonsumsi secara relatif serempak oleh masyarakat. Televisi bukan sekadar perangkat teknologi, melainkan institusi sosial yang memiliki kemampuan menentukan apa yang dilihat, dibicarakan, bahkan diperdebatkan publik. Namun, lanskap tersebut kini berubah secara fundamental. Televisi masih hidup, tetapi ia tidak lagi sendirian mengendalikan arus perhatian masyarakat.

Perubahan tersebut dapat dibaca melalui apa yang disebut Henry Jenkins (2006) sebagai convergence culture. Konvergensi bukan sekadar perpindahan konten dari televisi ke internet, melainkan pertemuan berbagai teknologi, industri, budaya, dan perilaku audiens dalam sebuah ekosistem baru. Audiens tidak lagi harus menunggu pukul tertentu untuk menyaksikan sebuah program. Mereka dapat menonton melalui televisi, telepon pintar, YouTube, media sosial, maupun platform streaming. Konten pun tidak lagi bergerak satu arah dari produsen kepada khalayak, tetapi beredar, dipotong, dikomentari, dibagikan, direkomendasikan algoritma, dan diproduksi ulang oleh pengguna.

Di sinilah paradoks industri televisi Indonesia muncul. Digitalisasi seharusnya menjadi jalan keluar dari krisis televisi konvensional. Namun, digitalisasi ternyata tidak otomatis menyelamatkan perusahaan media. Kasus NET TV merupakan salah satu ilustrasi paling menarik. NET TV pernah hadir dengan identitas yang sangat kuat: “Televisi Masa Kini”. Ia mencoba memosisikan diri sebagai televisi modern yang dekat dengan generasi muda dan sejak awal relatif agresif memanfaatkan YouTube serta media sosial. Ironisnya, televisi yang membawa semangat “masa kini” tersebut kemudian menghadapi tekanan bisnis yang serius, berujung pada perubahan kepemilikan dan transformasi menjadi MDTV.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah televisi mampu melakukan digitalisasi. Hampir semua perusahaan televisi telah melakukan digitalisasi. Pertanyaannya adalah: siapa yang mampu mengubah digitalisasi menjadi model ekonomi yang berkelanjutan?

Kasus NET TV memperlihatkan bahwa memiliki konten digital dan hadir di media sosial belum tentu berarti memiliki ekosistem ekonomi digital. Inilah perbedaan yang sering luput dalam pembicaraan mengenai transformasi media. Perusahaan media dapat memiliki akun YouTube dengan jutaan penonton, tetapi belum tentu memiliki mekanisme monetisasi, data audiens, distribusi, teknologi, hak kekayaan intelektual, dan diversifikasi pendapatan yang cukup kuat untuk menopang biaya operasionalnya.

Dalam perspektif ekonomi media, persoalannya bukan sekadar jumlah penonton, tetapi bagaimana perhatian audiens dikonversi menjadi nilai ekonomi. Picard (2010) menjelaskan bahwa perubahan teknologi telah mengubah struktur ekonomi industri media, terutama karena media harus berhadapan dengan perubahan pola konsumsi, fragmentasi audiens, dan perubahan mekanisme penciptaan nilai. Media tidak lagi hanya menjual ruang iklan, tetapi harus mengelola perhatian, data, konten, hak distribusi, komunitas, dan hubungan dengan konsumen.

Karena itu, krisis NET TV sebaiknya tidak dibaca secara sederhana sebagai “televisi kalah oleh internet”. Persoalannya jauh lebih kompleks. NET TV menghadapi perubahan struktur industri yang membuat biaya produksi televisi tetap tinggi, sementara sumber pendapatan tradisional semakin terfragmentasi. Audiens berpindah dari televisi linear menuju layanan on-demand dan platform yang menggunakan algoritma untuk mempertahankan perhatian pengguna. Dalam ekonomi seperti ini, kompetitor televisi bukan hanya stasiun televisi lain, melainkan YouTube, TikTok, Netflix, Vidio, Instagram, dan berbagai platform yang memperebutkan waktu serta perhatian pengguna.

Perubahan distribusi iklan memperlihatkan arah pergeseran tersebut. Data yang dirangkum Katadata dari Sensor Tower menunjukkan bahwa estimasi belanja iklan digital media sosial di Indonesia pada kuartal IV 2025 mencapai US$143 juta, meningkat 33,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut hanya mencakup sejumlah platform media sosial, tetapi cukup menunjukkan bahwa pusat gravitasi ekonomi perhatian semakin kuat berada di ruang digital. ([Databoks][1])

Dengan demikian, “senjakala televisi” tidak berarti televisi akan mati. Justru istilah tersebut perlu dipahami secara lebih hati-hati. Yang mengalami senjakala adalah model televisi sebagai medium tunggal dan sebagai pusat distribusi utama. Televisi tidak menghilang; televisi mengalami re-posisi.

Transformasi tersebut dapat dilihat secara kontras melalui Grup EMTEK. Jika NET TV memperlihatkan bagaimana digitalisasi tanpa ekosistem bisnis yang cukup kuat dapat menghasilkan tekanan, EMTEK menunjukkan bagaimana televisi dapat ditempatkan sebagai salah satu simpul dalam ekosistem media yang jauh lebih besar.

EMTEK tidak sekadar membawa SCTV dan Indosiar ke internet. Perusahaan membangun hubungan antara televisi free-to-air, Vidio, rumah produksi, konten digital, media online, olahraga, dan berbagai sumber monetisasi lainnya.

Laporan Tahunan EMTEK 2024 menyebutkan bahwa Vidio telah menjadi platform OTT nomor satu di Indonesia berdasarkan jumlah pelanggan dan pengguna aktif bulanan pada kuartal III 2024 menurut Media Partners Asia. Pada akhir 2024, Vidio juga telah memiliki lebih dari 90 judul original series lokal. ([Emtek][2])

Di titik inilah terdapat perbedaan fundamental antara “digitalisasi televisi” dan “transformasi ekonomi media”. Digitalisasi televisi berarti konten televisi dipindahkan atau didistribusikan melalui kanal digital.

Transformasi ekonomi media berarti perusahaan mengubah keseluruhan arsitektur penciptaan nilai: bagaimana konten diproduksi, siapa audiensnya, bagaimana audiens diperoleh, bagaimana konten didistribusikan, bagaimana data dimanfaatkan, bagaimana hak intelektual dikelola, dan bagaimana seluruh aktivitas tersebut dimonetisasi.

Vidio menjadi contoh penting karena platform tersebut tidak hanya berfungsi sebagai “televisi melalui internet”. EMTEK mengembangkan model AVOD atau Advertising-based Video on Demand, sekaligus menyediakan konten berbayar, olahraga premium, serial orisinal, dan berbagai bentuk konten lainnya. Bahkan, EMTEK menyatakan bahwa Vidio dikembangkan dengan dukungan lebih dari 200 engineer lokal. ([Emtek][2])

Model tersebut memperlihatkan bahwa masa depan televisi mungkin bukan berada pada televisi sebagai perangkat, melainkan pada televisi sebagai aset konten, IP, komunitas, dan jaringan distribusi.

SCTV dan Indosiar, misalnya, tetap memiliki nilai karena memiliki basis audiens, program populer, hak siar, dan kemampuan menghasilkan konten. Tetapi konten tersebut dapat memperoleh “kehidupan kedua” melalui Vidio. Sebuah pertandingan olahraga dapat ditonton melalui televisi sekaligus streaming.

Sinetron dapat memperoleh audiens melalui siaran linear sekaligus layanan digital. Serial original dapat dikembangkan khusus untuk OTT. Dengan demikian, satu produk konten dapat menghasilkan beberapa titik kontak dan beberapa kemungkinan monetisasi.

Inilah yang dalam perspektif platformisasi media dapat disebut sebagai pergeseran dari logika “channel” menuju logika “ecosystem”. Van Dijck, Poell, dan de Waal (2018) menunjukkan bahwa platform tidak hanya menjadi teknologi perantara, tetapi membentuk kembali hubungan antara produsen, pengguna, data, dan institusi. Platform mengubah cara nilai diciptakan dan didistribusikan. Dalam industri media, siapa yang menguasai platform, data, distribusi, dan perhatian memiliki posisi strategis yang semakin besar.

Karena itu, persaingan industri media Indonesia ke depan tidak akan semata-mata ditentukan oleh siapa yang memiliki stasiun televisi dengan rating tertinggi. Pertanyaan yang lebih menentukan adalah siapa yang memiliki ekosistem paling kuat.

Ekosistem tersebut setidaknya memiliki lima komponen: konten, audiens, platform, data, dan monetisasi.

Pertama, konten. Media membutuhkan intellectual property yang kuat. Konten tidak boleh diperlakukan sebagai produk sekali tayang, melainkan sebagai aset yang dapat didistribusikan berulang kali melalui berbagai kanal.

Kedua, audiens. Perusahaan media harus mengetahui siapa yang mengonsumsi kontennya, kapan mereka menonton, melalui perangkat apa, dan bagaimana perilaku mereka.

Ketiga, platform. Memiliki distribusi sendiri memberikan posisi strategis karena perusahaan tidak sepenuhnya bergantung pada platform pihak ketiga.

Keempat, data. Dalam ekonomi digital, data audiens menjadi sumber daya strategis. Data memungkinkan perusahaan memahami perilaku pengguna sekaligus melakukan personalisasi konten dan iklan.

Kelima, monetisasi. Audiens yang besar belum tentu menghasilkan perusahaan yang sehat apabila tidak terdapat model monetisasi yang efektif. Karena itu, perusahaan harus mampu menggabungkan advertising, subscription, sponsorship, licensing, commerce, event, merchandise, dan model bisnis lainnya.

Dalam konteks ini, kasus NET TV dan EMTEK menjadi dua sisi dari sebuah paradoks besar. Keduanya sama-sama berhadapan dengan digitalisasi. Keduanya sama-sama memproduksi konten televisi. Keduanya sama-sama beroperasi di tengah perubahan perilaku audiens. Tetapi hasil ekonominya tidak identik.

Paradoks tersebut menunjukkan bahwa teknologi bukanlah determinan tunggal keberhasilan media. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi ditempatkan dalam strategi organisasi dan ekonomi perusahaan.

Dengan kata lain, problem industri televisi bukan sekadar “kurang digital”. Problem utamanya adalah bagaimana membangun arsitektur bisnis yang sesuai dengan karakter ekonomi digital.

Di sinilah konsep “ruang publik” juga mengalami perubahan. Habermas (1989) melihat ruang publik sebagai ruang sosial tempat masyarakat bertemu, bertukar gagasan, dan membentuk opini. Dalam era televisi, ruang publik tersebut sangat dipengaruhi oleh institusi penyiaran karena televisi memiliki kemampuan luar biasa untuk menentukan agenda dan mendistribusikan informasi kepada massa.

Namun ruang publik digital jauh lebih terfragmentasi. Tidak ada lagi satu layar yang menyatukan semua orang. Masyarakat berada dalam ruang publik yang terdiri atas berbagai platform, komunitas, algoritma, influencer, media online, televisi, podcast, dan kanal personal. Publik tidak lagi hanya menjadi penonton; mereka sekaligus menjadi komentator, distributor, kreator, dan produsen informasi.

Akibatnya, arsitektur ruang publik mengalami pergeseran dari model “broadcasting” menuju model “networked platform”. Castells (2009) menjelaskan bahwa kekuasaan komunikasi dalam masyarakat jaringan sangat dipengaruhi oleh kemampuan mengelola jaringan, pesan, dan konektivitas. Dalam konteks media kontemporer, perusahaan yang mampu menghubungkan konten, audiens, platform, dan jaringan distribusi memiliki posisi yang lebih strategis dibandingkan perusahaan yang hanya memiliki saluran siaran.

Karena itu, masa depan televisi Indonesia sesungguhnya tidak berada pada pertanyaan “apakah televisi akan mati?”, melainkan “televisi akan berubah menjadi apa?”

Jawabannya mungkin bukan lagi televisi dalam pengertian lama. Televisi masa depan akan menjadi bagian dari sebuah ekosistem media yang lebih luas. Layar televisi mungkin tetap berada di ruang keluarga, tetapi kontennya dapat berasal dari platform OTT. Program televisi dapat dipotong menjadi konten pendek untuk media sosial. Sinetron dapat berkembang menjadi IP digital. Pertandingan olahraga dapat menjadi produk televisi sekaligus produk streaming. Berita dapat hadir melalui televisi, aplikasi, media sosial, podcast, dan newsletter.

Dengan demikian, yang sedang berakhir bukan televisi, melainkan monopoli televisi atas perhatian publik.

Kasus NET TV bahkan dapat dibaca secara lebih optimistis. Akuisisi dan perubahan menjadi MDTV tidak harus dipahami sebagai pemakaman televisi “masa kini”, melainkan sebagai bukti bahwa aset televisi masih memiliki nilai apabila ditempatkan dalam konfigurasi bisnis yang baru. MD Entertainment sendiri kemudian meluncurkan MDTV dengan strategi yang menekankan konten drama. Pada Februari 2025, MDTV memperkenalkan sejumlah serial baru secara simultan sebagai bagian dari strategi barunya di industri televisi. ([M Entertainment][3])

Artinya, televisi tidak mati; ia sedang dinegosiasikan ulang.

Di sisi lain, keberhasilan EMTEK juga harus dibaca secara kritis. Ekosistem yang semakin terintegrasi memang menciptakan efisiensi dan diversifikasi, tetapi sekaligus meningkatkan konsentrasi kepemilikan media. Ketika semakin banyak saluran televisi, platform digital, rumah produksi, portal berita, dan distribusi konten berada dalam kelompok usaha yang terintegrasi, muncul pertanyaan penting mengenai keberagaman kepemilikan, keberagaman konten, dan kesehatan ruang publik.

Di sinilah penelitian mengenai ekonomi media menjadi penting. Kita tidak cukup bertanya siapa yang memiliki jumlah penonton terbesar. Kita perlu bertanya siapa yang memiliki infrastruktur distribusi, siapa yang memiliki data, siapa yang mengendalikan IP, siapa yang menentukan algoritma, siapa yang memperoleh nilai ekonomi terbesar dari perhatian audiens, dan bagaimana konsentrasi tersebut memengaruhi keberagaman ruang publik.

Transformasi industri media akhirnya menghadirkan sebuah paradoks: teknologi digital membuat produksi dan distribusi informasi semakin mudah, tetapi pada saat yang sama dapat membuat kekuasaan ekonomi media semakin terkonsentrasi pada perusahaan yang mampu menguasai ekosistem.

Oleh karena itu, kasus NET TV dan EMTEK tidak sekadar menarik sebagai cerita mengenai jatuh dan bangunnya perusahaan televisi. Keduanya merupakan laboratorium penting untuk memahami perubahan kapitalisme media Indonesia. NET TV menunjukkan bahwa inovasi konten dan kehadiran digital belum cukup tanpa fondasi ekonomi yang kuat. EMTEK menunjukkan bahwa televisi dapat tetap kompetitif apabila diintegrasikan dengan platform, konten, teknologi, data, dan diversifikasi bisnis.

Pada akhirnya, slogan “Televisi Masa Kini” mungkin memang telah memasuki senjakala. Tetapi senjakala tersebut bukan berarti kegelapan. Ia adalah masa peralihan menuju arsitektur media baru.

Televisi mungkin tidak lagi menjadi pusat ruang publik. Namun televisi masih dapat menjadi salah satu simpul paling penting dalam jaringan media baru—sepanjang ia mampu melepaskan diri dari logika lama dan bertransformasi dari sekadar “channel” menjadi bagian dari “ecosystem”.

Pertarungan industri media masa depan bukan lagi antara televisi versus internet. Pertarungannya adalah antara ekosistem media versus ekosistem media.

Dan dalam pertarungan tersebut, pemenangnya bukan semata-mata mereka yang paling cepat mengadopsi teknologi, melainkan mereka yang paling mampu mengubah perhatian publik menjadi ekosistem nilai yang berkelanjutan—tanpa kehilangan fungsi sosial media sebagai fondasi ruang publik demokratis.

Referensi

  1. Castells, M. (2009). Communication Power. Oxford University Press.
  2. Habermas, J. (1989). The Structural Transformation of the Public Sphere. MIT Press.
  3. Jenkins, H. (2006). Convergence Culture: Where Old and New Media Collide. New York University Press.
  4. Picard, R. G. (2010). A Business Perspective on Challenges Facing Journalism. In Levy & Nielsen (Eds.), The Changing Business of Journalism and Its Implications for Democracy. Reuters Institute.
  5. Pavlik, J. V. (2013). Journalism and New Media. Columbia University Press.
  6. Van Dijck, J., Poell, T., & de Waal, M. (2018). The Platform Society: Public Values in a Connective World. Oxford University Press.
  7. Elang Mahkota Teknologi. (2025). Annual Report 2024. Laporan Tahunan EMTEK
  8. Elang Mahkota Teknologi. (2026). Annual Report 2025. Investor Relations – Annual Reports
  9. Katadata. (2026). “Estimasi Pengeluaran dan Impresi Iklan Digital Medsos RI hingga Akhir 2025.” ([Databoks][1])
  10. MD Entertainment. (2025). “MDTV Launching Ready to Air 3 Series Simultaneously on February 28.” ([M Entertainment][3])