BERITA TERBARU
OPINI

Menyoal “Islam a la Prabowo”

Menyoal “Islam a la Prabowo”
dok. Gemini

Sebuah buku selalu memiliki perjalanan yang lebih panjang daripada sekadar halaman yang dicetak. Ia lahir dari gagasan, dibaca oleh manusia, lalu diuji oleh kenyataan. Sebuah buku tentang Islam, apalagi yang membawa nama seorang pemimpin negara, tidak hanya akan berhadapan dengan tinta dan kertas, tetapi juga dengan pertanyaan publik: apa makna yang ingin dibawa, nilai apa yang ingin diperjuangkan, dan sejauh mana gagasan tersebut mampu menyentuh kehidupan masyarakat.

Buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam diluncurkan dalam suatu momen yang diinisiasi MUI dan Baznas di Jakarta, pada 5 September 2026 di Jakarta. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya menghadirkan refleksi mengenai hubungan antara nilai Islam, kepemimpinan, serta perjuangan membangun kesejahteraan masyarakat. Buku tersebut tidak sekadar menampilkan sisi personal seorang pemimpin, tetapi juga berupaya menggambarkan bagaimana nilai-nilai Islam dipahami dalam ruang kebangsaan.

Islam Kebangsaan

Di tengah masyarakat yang sering memperdebatkan hubungan antara agama dan negara, kemunculan buku semacam ini menjadi fenomena yang menarik. Sebab Islam tidak hanya hidup di ruang ibadah, tetapi juga hadir dalam persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, dan keadilan. Agama selalu memiliki tantangan yang sama dari zaman ke zaman: bagaimana nilai yang terkandung dalam teks dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam kehidupan manusia.

Secara umum, buku Islam Ala Prabowo membawa tiga tema besar. Pertama, mengenai Islam, perdamaian, dan keadilan. Islam dalam buku tersebut diposisikan sebagai sumber nilai yang mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang damai dan berkeadilan. Gagasan mengenai keadilan sosial menjadi bagian penting karena agama tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan manusia dengan manusia lainnya.

Kedua, buku ini mengangkat sisi spiritualitas Prabowo Subianto. Para kontributor mencoba menggambarkan dimensi moral, integritas, dan nilai keagamaan yang melekat pada sosok pemimpin. Dalam tradisi politik Indonesia, pembicaraan mengenai spiritualitas pemimpin selalu menjadi tema yang sensitif sekaligus penting. Masyarakat tidak hanya menilai pemimpin dari kebijakan yang dibuat, tetapi juga dari nilai moral yang diyakini dan dipraktikkan.

Ketiga, buku ini menghubungkan visi kebangsaan dengan perjuangan kesejahteraan rakyat. Islam tidak dipahami hanya sebagai simbol identitas, tetapi sebagai etos kepemimpinan yang menempatkan kepentingan masyarakat sebagai orientasi utama. Dalam konteks ini, agama menjadi energi sosial yang mendorong keberpihakan kepada kelompok yang membutuhkan.

Sepintas buku ini menyajikan segenap citra paripurna dari sosok presiden kita, namun apakah ini layak untuk dibaca khalayak? Di tengah budaya membaca yang perlahan menurun tajam, hampir sama rendahnya dengan kondisi rupiah kita di mata dolar.

Masih Menunggu

Suatu karya tulis tidak boleh berhenti sebagai dokumen gagasan. Tantangan terbesar dari setiap pemikiran keagamaan adalah bagaimana menghadirkan nilai dalam kehidupan nyata. Sebab sejarah menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan kumpulan kalimat indah tentang kebaikan, tetapi membutuhkan perubahan yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sinilah ujian terbesar buku ini berada. Islam bukan hanya harus hadir sebagai wacana, tetapi juga sebagai solusi kemasyarakatan. Nilai tentang keadilan harus terlihat dalam kebijakan. Pesan tentang kepedulian harus hadir dalam tindakan. Seruan tentang kesejahteraan harus diwujudkan dalam program yang benar-benar menyentuh rakyat.

Sebab membumikan Islam tidak cukup dengan memperbanyak teks tentang Islam. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana teks tersebut menjelma menjadi konteks. Ayat tentang kepedulian sosial harus menemukan bentuknya dalam keberpihakan kepada masyarakat kecil. Pesan tentang keadilan harus menemukan jalannya dalam kebijakan publik. Nilai tentang persaudaraan harus terlihat dalam cara negara memperlakukan seluruh warganya.

Karena itu, jika buku ini kemudian didistribusikan secara luas melalui berbagai lembaga seperti sekolah, perguruan tinggi, hingga taman pendidikan Al-Qur’an, maka langkah tersebut harus diikuti dengan ruang dialog dan pembacaan kritis. Buku tidak boleh hanya menjadi pajangan di rak perpustakaan atau simbol administratif sebuah program. Buku harus menjadi bahan refleksi yang menghidupkan percakapan tentang bagaimana agama berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan bangsa.

Ukuran keberhasilan sebuah buku bukan terletak pada jumlah eksemplar yang tersebar, tetapi pada sejauh mana gagasan di dalamnya mampu mengubah cara manusia melihat dunia. Sebuah buku tentang Islam harus mampu menjawab kegelisahan umat, bukan hanya menjelaskan siapa penulis atau tokoh yang dibicarakan.

Islam selalu memiliki kekuatan besar ketika ia hadir sebagai jalan pembebasan, keadilan, dan kemanusiaan. Tetapi kekuatan itu hanya akan terasa ketika nilai-nilai tersebut keluar dari halaman buku dan berjalan bersama kehidupan masyarakat. Sebab di akhir, agama tidak hanya membutuhkan tempat di rak buku, tetapi memerlukan ruang dalam tindakan manusia.