Enny Arrow dan Imaji Erotis
Ada nama-nama yang tidak pernah masuk ke halaman resmi sejarah sastra, tetapi diam-diam tinggal lama di ingatan pembacanya. Enny Arrow barangkali salah satunya. Namanya beredar dari tangan ke tangan, dari kamar ke kamar, dari warung ke rumah, dari saku celana seorang pemuda ke laci meja yang tak boleh dibuka sembarang orang. Pada dekade 1980-an hingga 1990-an, ketika televisi belum memenuhi setiap sudut rumah dan telepon genggam belum menjadi benda yang melekat di telapak tangan, bacaan memiliki cara sendiri untuk menemukan pembacanya.
Bagi sebagian anak muda masa itu, novel-novel Enny Arrow bukanlah sesuatu yang ditemukan melalui pencarian di layar. Ia hadir sebagai benda: tipis, kusam, terkadang tanpa sampul yang meyakinkan, dan sering kali berpindah tangan tanpa banyak pertanyaan. Ada rasa ingin tahu yang menyertainya. Ada pula rasa malu. Membacanya mungkin dilakukan sembunyi-sembunyi, dengan telinga yang lebih peka terhadap suara langkah kaki daripada mata terhadap kalimat di halaman.
Namun di balik segala kontroversinya, keberadaan Enny Arrow menunjukkan sesuatu yang menarik tentang sebuah generasi: mereka membaca. Mereka membaca apa saja yang tersedia. Bacaan populer, roman, majalah, cerita silat, komik, hingga novel-novel erotis dapat menjadi bagian dari pengalaman membaca sehari-hari. Tidak semuanya dianggap bermutu, tentu saja. Tetapi buku dan tulisan tetap memiliki daya tarik yang kuat. Ia adalah hiburan, rasa ingin tahu, pelarian, sekaligus ruang imajinasi.
Diedarkan Diam-Diam
Enny Arrow hidup dalam ekosistem penerbitan yang jauh dari kemewahan percetakan modern. Novel-novel erotis semacam itu dikenal beredar dalam bentuk stensilan: dicetak sederhana, diperbanyak dengan teknologi yang relatif murah, lalu diedarkan melalui jaringan yang tidak selalu terang-benderang. Tidak ada algoritma yang mempertemukan buku dengan pembacanya. Tidak ada toko aplikasi, tautan, atau notifikasi. Buku harus menemukan jalannya sendiri.
Dan ia memang menemukan jalan itu.
Sebuah naskah dapat berpindah dari seorang pembaca kepada pembaca lain. Dari teman sekolah ke teman sekolah. Dari tetangga ke tetangga. Dari satu kota ke kota lain. Sirkulasinya memiliki watak yang hampir seperti cerita lisan: tidak resmi, tetapi bertahan karena orang-orang terus mengingat dan mencarinya.
Tentu saja, tidak semua orang melihat fenomena ini dengan romantis. Bagi sebagian kalangan, bacaan erotis adalah bacaan cabul yang dianggap merusak moral. Membacanya dikhawatirkan hanya akan menyeret pembaca ke dalam fantasi seksual yang tidak menghasilkan apa-apa. Imajinasi semacam itu dipandang sebagai kerja pikiran yang sia-sia: menyita waktu, menjauhkan orang dari produktivitas, bahkan dianggap dapat merusak cara seseorang memandang seksualitas.
Pandangan tersebut tidak sepenuhnya dapat dilepaskan dari konteks zamannya. Ketika bacaan menjadi salah satu sumber utama hiburan, pertanyaan tentang apa yang boleh dibaca menjadi sekaligus pertanyaan tentang bagaimana seseorang seharusnya menggunakan waktunya. Buku tidak hanya dinilai dari ceritanya, tetapi juga dari moralitas yang dianggap dibawanya.
Namun justru di situlah ironi Enny Arrow menjadi menarik. Bacaan yang dianggap rendah, cabul, dan tidak berguna itu tetap dibaca. Bahkan, ia dicari. Ada kebutuhan manusia yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh ukuran moral ataupun produktivitas. Manusia membaca karena ingin tahu. Karena penasaran. Karena ingin berkhayal. Karena ingin memasuki dunia yang tidak tersedia dalam kehidupan sehari-hari.
Habitat yang Hilang
Barangkali yang paling menarik dari Enny Arrow hari ini bukan lagi isi novelnya, melainkan kenyataan bahwa karya semacam itu pernah menjadi bagian dari budaya baca masyarakat. Ia mengingatkan kita pada sebuah masa ketika kegiatan membaca tidak selalu berarti membaca sesuatu yang dianggap penting oleh sekolah, kampus, atau negara. Orang membaca karena ingin membaca.
Di situlah kita menemukan potret kecil masyarakat kelas bawah dan kelas menengah pada masa itu. Di sela pekerjaan, perjalanan, dan kehidupan sehari-hari, membaca menjadi salah satu bentuk hiburan yang murah dan mudah dibawa ke mana-mana. Sebuah buku dapat menemani seseorang di kamar, di angkutan umum, di warung kopi, atau di sudut rumah ketika malam mulai sepi.
Hari ini, situasinya terasa berbeda. Gawai telah mengambil alih sebagian besar waktu senggang kita. Imajinasi tidak lagi harus menunggu halaman berikutnya. Ia datang dalam bentuk video pendek, gambar, komentar, notifikasi, dan aliran informasi yang tidak pernah benar-benar selesai. Kita tidak lagi harus mencari bacaan; bacaan, gambar, dan hiburan justru terus mencari kita.
Karena itu, mengingat Enny Arrow tidak harus berarti menghidupkan kembali novel erotis sebagai bacaan. Yang layak kita kenang adalah kebudayaan yang mengitarinya: budaya ketika sebuah tulisan bisa menjadi benda yang ditunggu, dicari, dipinjam, disembunyikan, lalu dibaca sampai halaman terakhir. Bahkan bacaan yang dianggap buruk pun memiliki pembacanya sendiri.
Mungkin di situlah letak pelajaran kecil dari Enny Arrow. Sebuah masyarakat pernah memiliki hubungan yang begitu intim dengan tulisan, sampai-sampai bacaan yang dianggap tidak bermutu sekalipun sanggup membangun jaringan pembacanya sendiri. Hari ini kita memiliki lebih banyak informasi daripada generasi mana pun sebelumnya. Tetapi belum tentu kita memiliki waktu dan kesabaran yang sama untuk membaca.
Dulu, sebuah novel harus berpindah dari tangan ke tangan agar sampai kepada pembacanya. Kini, jutaan teks dapat sampai ke tangan kita dalam hitungan detik. Perbedaannya sederhana, tetapi penting: dulu orang mencari bacaan; sekarang bacaan yang mencari orang. Dan mungkin, di antara kedua zaman itu, kita kehilangan sesuatu yang tidak mudah ditemukan kembali—kenikmatan menunggu sebuah tulisan, membuka halamannya perlahan, lalu tenggelam di dalamnya tanpa diganggu oleh dunia yang terus berbunyi


