BERITA TERBARU
OPINI

Ironi Administrasi di Konoha*)

Ironi Administrasi di Konoha*)
dok. Gemini

Di Negeri Konoha, para pemimpin memiliki satu kemampuan yang sangat dihormati: kemampuan menciptakan kesan bahwa semuanya berjalan baik.

Setiap awal bulan, para kepala wilayah dan pimpinan unit berkumpul di sebuah ruangan besar dengan meja panjang berbentuk persegi. Di ruangan itu tergantung foto para pendiri negeri, lengkap dengan slogan tentang kebersamaan, integritas, dan pelayanan rakyat.

“Kita adalah satu keluarga besar,” ujar pemimpin tertinggi dalam setiap rapat.

Semua kepala unit mengangguk serempak.

“Kita harus saling mendukung.”

Semua kembali mengangguk.

“Kita tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.”

Tepuk tangan terdengar memenuhi ruangan.

Bagi orang yang melihat dari luar, Konoha tampak seperti negeri dengan organisasi paling harmonis di dunia. Para pemimpinnya duduk bersama, tersenyum bersama, bahkan sesekali berfoto bersama sambil menunjukkan wajah penuh persatuan.

Namun, setelah pintu ruang rapat tertutup, cerita berubah.

Di luar ruangan itu, setiap kepala unit mulai berjalan dengan arah masing-masing. Ada yang mengejar target agar namanya tercatat sebagai pemimpin paling berhasil. Ada yang sibuk mengumpulkan penghargaan. Ada yang berlomba menunjukkan bahwa keberhasilan lembaga adalah hasil dari kepemimpinannya.

Masalahnya, dalam perlombaan mendapatkan cahaya panggung, beberapa orang mulai lupa bahwa cahaya tersebut berasal dari banyak tangan yang bekerja dalam diam.

Di salah satu sudut lembaga Konoha, hiduplah seorang pegawai bernama Raka. Ia bukan orang yang memiliki hubungan dekat dengan pejabat tinggi. Ia tidak pandai berbicara di depan pemimpin. Ia tidak memiliki banyak teman di lingkaran kekuasaan. Baginya, bekerja dengan baik sudah cukup menjadi bentuk pengabdian.

Setiap hari, Raka datang lebih awal. Ia menyelesaikan pekerjaan yang sering tidak terlihat oleh banyak orang. Ia memperbaiki kesalahan administrasi, membantu pekerjaan rekan-rekannya, dan memastikan berbagai urusan berjalan meskipun namanya tidak pernah disebut dalam laporan keberhasilan.

Namun, di Konoha, kerja keras tidak selalu berjalan beriringan dengan penghargaan.

Suatu hari, kepala unitnya mengadakan presentasi besar tentang keberhasilan program lembaga. Di layar besar terpampang berbagai capaian yang membuat para pejabat mengangguk bangga.

“Ini adalah hasil kerja keras kepemimpinan kami,” ujar sang kepala unit.

Ruangan kembali dipenuhi tepuk tangan.

Tidak ada yang bertanya siapa yang bekerja hingga malam agar program itu selesai. Tidak ada yang menyebut orang-orang yang memperbaiki kesalahan ketika rencana awal hampir gagal. Tidak ada yang mengingat para pegawai kecil yang bekerja tanpa kamera dan tanpa panggung.

Di Konoha, terkadang keberhasilan memiliki banyak orang yang ingin mengambil namanya, tetapi kegagalan selalu mencari seseorang untuk dijadikan tersangka.

Suatu hari, Raka melakukan sebuah kesalahan. Ia tidak hadir dalam sebuah kegiatan yang dianggap penting karena terjadi miskomunikasi dalam penyampaian informasi. Ia mengakui kesalahannya. Ia meminta maaf. Ia siap menerima evaluasi.

Namun, bagi kepala unitnya, kesalahan itu menjadi kesempatan untuk menunjukkan ketegasan.

“Orang seperti ini tidak memiliki komitmen terhadap lembaga,” katanya dalam sebuah pertemuan.

Satu kesalahan kecil kemudian menjadi ukuran atas seluruh perjalanan pengabdian seseorang.

Di Konoha, berlaku sebuah hukum tidak tertulis: satu titik nila dapat menodai sebelanga susu yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun.

Tidak peduli berapa banyak pekerjaan yang telah diselesaikan. Tidak peduli berapa banyak kontribusi yang telah diberikan. Sebuah kesalahan dapat menghapus seluruh catatan kebaikan.

Raka mencoba mengadu kepada pemimpin yang lebih tinggi. Ia membawa penjelasan. Ia membawa bukti bahwa masalah tersebut terjadi karena kurangnya koordinasi, bukan karena kelalaian semata.

Namun, pemimpin besar hanya mendengarkan sebentar.

“Kita harus menjaga wibawa pimpinan unit,” katanya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi memiliki arti yang dalam. Di Konoha, terkadang menjaga wibawa seorang pemimpin lebih penting daripada mencari kebenaran sebuah persoalan.

Raka pulang dengan perasaan kosong. Bukan karena ia menerima teguran. Ia memahami bahwa setiap pekerjaan memiliki tanggung jawab. Namun yang membuatnya kecewa adalah tidak adanya ruang untuk menjelaskan, tidak adanya keinginan untuk memahami, dan tidak adanya keberanian pemimpin untuk melihat masalah dari dua sisi.

Sebab pemimpin sejati bukanlah mereka yang hanya mampu menghukum ketika terjadi kesalahan. Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu membedakan antara orang yang sengaja lalai dengan orang yang jatuh karena sistem yang tidak berjalan.

Konoha sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Banyak pemimpinnya memiliki gelar tinggi, pengalaman panjang, dan kemampuan berbicara yang luar biasa. Namun, organisasi tidak runtuh karena kekurangan kecerdasan. Organisasi runtuh ketika kepemimpinan kehilangan hati.

Pemimpin yang hanya mengejar pujian akan menciptakan bawahan yang takut berbicara. Pemimpin yang hanya mencari kesalahan akan melahirkan budaya saling menyalahkan. Dan pemimpin yang hanya dekat dengan mereka yang memiliki kekuatan politik akan semakin menjauh dari orang-orang kecil yang sebenarnya menopang lembaga.

Pada akhirnya, masalah terbesar Konoha bukanlah kurangnya pemahaman. Negeri itu memiliki banyak aturan. Bukan pula kurangnya rapat. Mereka bahkan terlalu sering rapat.

Masalahnya adalah jarak antara apa yang dikatakan di meja rapat dengan apa yang dilakukan setelahnya.

Di depan semua orang, mereka berbicara tentang keluarga besar. Namun di belakang pintu, sebagian orang dibiarkan berjuang sendirian.

Dan mungkin itulah ironi terbesar Konoha: para pemimpinnya selalu terlihat kompak ketika difoto, tetapi sering kehilangan arah ketika harus berjalan bersama.

*) Konoha ini bukan seperti yang digambarkan oleh Masashi Kishimoto dalam karya agungnya, Naruto. Mungkin, Konoha, du univers lain.