BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara
NASIONAL

Monitoring dan Evaluasi TEP 2026, Wamen Viva Yoga: Harus Tetap Bermuara Pada Transformasi Transmigrasi

Monitoring dan Evaluasi TEP 2026, Wamen Viva Yoga: Harus Tetap Bermuara Pada Transformasi Transmigrasi
dok. Humas Kementerian Transmigrasi/Antonius A.Giovanni dan Ahmad Mustopa

Meski di lapangan ada dinamika program tetapi hal itu tidak boleh menyimpang dari output dan target yang telah disepakati dalam Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Dinamika program dikarenakan banyak faktor seperti aspirasi masyarakat, kondisi sosiologi, klimatologi, topografi, dan faktor lainnya.

Ungkapan demikian disampaikan oleh Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi di hadapan 150 peserta ‘Monitoring dan Evaluasi Kegiatan TEP 2026’, Jakarta, (23/9/2026). Di antara 150 peserta, hadir Ketua TEP dan Reviewer proposal yang berasal dari UI, IPB, ITB, Universitas Padjadjaran, UGM, Universitas Diponegoro, ITS, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin. Kesepuluh perguruan tinggi negeri itu merupakan mitra Kementerian Transmigrasi (Kementrans) dalam program TEP.

Sebagaimana diketahui, akhir Juli atau awal Agustus, Kementrans melepas 1.476 peserta TEP yang terbagi dalam 246 tim ke 53 kawasan transmigrasi. Peserta yang terdiri dari guru besar, doktor, magister, dan sarjana dari sepuluh perguruan tinggi di atas mempunyai tugas untuk menghasilkan model, prototipe, desain, dan pendampingan yang dapat diterapkan di kawasan transmigrasi dan menyusun rekomendasi kebijakan berbasis kondisi lapangan.

Dalam perjalanan waktu, dari 246 program, akan di evaluasi dan dimonitor. 

“Program-program ini perlu ditelaah secara holistik karena menyangkut banyak aspek. Dinamika program bisa terjadi karena alasan kondisi sosial dan faktor lain sehingga perlu kajian lebih lanjut,” kata Wamen Viva Yoga.

Dalam monitoring dan evaluasi inilah program yang terjadi perlu dibahas, didiskusikan, dan di-review. 

“Hasil dari kegiatan ini nantinya akan menjadi keputusan bersama,” ujar Viva Yoga. 

Ia berharap implementasi program dari civitas akademika di lapangan mampu mengembangkan kawasan transmigrasi dengan berbagai spektrum untuk industrialisasi, meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan pusat-pusat perkembangan ekonomi, bisa tercipta sesuai dengan target dari Kementrans.

“Dari kegiatan ini Saya harap ada pandangan baru,”tuturnya. 

Viva Yoga mendorong hadirnya TEP bisa berkesinambungan untuk berkolaborasi, transfer knowledge, dan menghadirkan sumber daya manusia yang mempunyai ilmu, inovasi dalam rangka untuk mempercepat eskalasi transformasi transmigrasi. 

“Di lapangan membuktikan ketika ada manusia-manusia unggul di kawasan transmigrasi di sana ada transfer ilmu pengetahuan, semangat, energi, inovasi, kreasi, dan memberikan nilai yang berbeda dari sebelumnya,” ujarnya.

Kategori: Nasional