BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara
DAERAH

Soal Tentara Bantu Petani Banyak Dipertanyakan, Ini Penjelasan Mentan Amran

Soal Tentara Bantu Petani Banyak Dipertanyakan, Ini Penjelasan Mentan Amran
dok. Humas Kementan

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa keterlibatan prajurit TNI membantu petani di tengah upaya memperkuat produksi pangan merupakan bentuk pengabdian untuk membantu petani, terutama dalam menghadapi kondisi El Niño ekstrem yang membutuhkan respon cepat di lapangan.

Mentan Amran menjelaskan, prajurit TNI yang membantu kegiatan pertanian tidak memperoleh tambahan honor atas pekerjaan yang dilakukan di luar tugas rutinnya. Prajurit tetap menerima gaji sebagai anggota TNI, sementara berbagai aktivitas membantu petani, seperti mendorong traktor, mengolah lahan hingga mengangkat dan memasang pompa, dilakukan sebagai bentuk pengabdian.

“Ini selalu ditanyakan mahasiswa, wartawan, dan ditanyakan juga di Komisi IV. Inilah membantu siang malam. Jadi bukan tidak ada tambahan honor, membantu mendorong traktor, mengolah lahan, mengangkat pompa, itu tidak ada,” ujar Mentan Amran, Rabu (12/8). 

Mentan Amran menegaskan, tidak ada tambahan pembayaran bagi prajurit yang bekerja pada Sabtu, Minggu, hari libur, maupun pada waktu malam untuk membantu percepatan pekerjaan pertanian di lapangan.

“Jadi gajinya ada, tapi gaji TNI-nya. Tapi untuk kerja Sabtu, Minggu, hari libur, siang malam, memasang pompa, itu tidak ada. Tidak ada, tidak diberikan gaji,” tegasnya.

Menurut Mentan Amran, dukungan TNI dibutuhkan karena pemerintah tengah menghadapi tantangan besar dalam menjaga produksi pangan, khususnya memasuki kondisi El Nino ekstrem. Dalam situasi tersebut, kebutuhan terhadap dukungan tenaga di lapangan meningkat, terutama untuk mempercepat pengolahan lahan dan penanganan irigasi dengan pompa.

Di sisi lain, jumlah tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang tersedia masih belum mencukupi kebutuhan. Mentan Amran menyebut kebutuhan ideal tenaga pendamping jauh lebih besar dibandingkan jumlah yang tersedia saat ini.

“PPL kita 37ribu, kita butuh 80 ribu lebih. Kita kurang sekitar 50 ribu,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjut Mentan Amran, menjadi salah satu alasan pemerintah membutuhkan dukungan lintas sektor untuk memastikan kegiatan pertanian tetap berjalan, terutama ketika petani menghadapi ancaman kekeringan akibat El Niño.

“Nah, di saat kondisi El Niño ekstrem seperti sekarang, ke mana kita mau minta tolong dalam waktu sekejap? TNI,” ujarnya.

Mentan Amran menegaskan, keterlibatan TNI dalam membantu sektor pertanian bukan dimaksudkan untuk menggantikan peran petani maupun tenaga penyuluh, melainkan menjadi kekuatan pendukung untuk mempercepat respons pemerintah ketika kondisi di lapangan membutuhkan mobilisasi secara cepat.

Mentan Amran pun mengajak masyarakat melihat keterlibatan prajurit dalam membantu petani sebagai bagian dari semangat gotong royong dan pengabdian untuk menjaga ketahanan pangan nasional.

“Jadi tolong netizen, ini yang membantu kita menjaga pangan. Kita mengabdi, ini kan pengabdian,” pungkasnya.