Rektor UNPAM Tegaskan Komitmen “Peradaban Religius-Humanis”: Kampus Diukur dari Banyaknya Orang Miskin yang Sukses Kuliah
Tangerang Selatan, DARIM.ID – Universitas Pamulang (UNPAM) menegaskan arah besarnya dalam 5 tahun ke depan dengan mengusung nilai “Peradaban Religius-Humanis” sebagai kompas seluruh civitas akademika. Hal itu disampaikan Rektor UNPAM, Nurzaman, diruang kerjanya saat ditemui Tim Redaksi darim.id belum lama ini.
Menurutnya, “Peradaban Religius-Humanis” versi UNPAM bisa diringkas dalam satu kalimat: “Kita bisa kuat, bertumbuh dan berkembang bukan hanya karena persamaan tapi juga karena perbedaan yang kita satukan.” tegasnya
Lebih lanjut, Nurzaman menjelaskan, yang membedakan UNPAM dari perguruan tinggi lain di Indonesia adalah komitmen membuka aksesibilitas pendidikan tinggi seluas-luasnya bagi semua lapisan masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan finansial, prestasi akademik, waktu, fisik termasuk disabilitas, dengan biaya terjangkau tanpa uang gedung atau uang bangunan. “Maka kami punya moto ‘berbagi untuk negeri,” jelasnya.
fungsi utama kampus, UNPAM akan tetap menjadikan Tridharma sebagai prioritas berkelanjutan. “Kami concern dan berkelanjutan dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya.
Kebijakan yang Tetap Dipegang, Menjaga nilai religiositas dan humanisme, Rektor mengaku siap mengambil kebijakan yang konsisten dengan misi Yayasan Sasmita Jaya sebagai penyelenggara UNPAM.
Nurzaman menegaskan bahwa UNPAM tetap concern melayani orang-orang ‘kecil’ yang memiliki hak yang sama terhadap akses pendidikan tinggi agar kehidupannya kelak lebih sejahtera, tentu tanpa menutup kesempatan bagi mereka yang memiliki kemampuan lebih. “Kami yakin, semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin besar akses terhadap informasi, pilihan-pilihan pekerjaan dan dengan demikian memiliki peluang hidup lebih sejahtera,” tegasnya.
Ia juga menegaskan tolak ukur keberhasilan kampus bukan dari kemewahan. Kemuliaan kampus UNPAM tidak diukur dari berapa banyak deretan mobil mahasiswa yang parkir, tapi diukur dari seberapa banyak orang ‘miskin’ yang bisa kuliah dan meraih sukses.
Untuk memastikan misi berjalan, Nurzaman menetapkan KPI bagi Dekan, Kaprodi, dan Kepala Lembaga berbasis kepercayaan masyarakat. Merawat dan menjaga kepercayaan masyarakat kepada UNPAM.
Kepercayaan itu antara lain dibuktikan dengan animo masuk UNPAM yang tinggi, sehingga jumlah mahasiswa UNPAM saat ini begitu banyak, mencapai angka di atas 100.000 orang.
Di samping itu jangan mengecewakan Yayasan Sasmita Jaya yang telah menyediakan fasilitas gedung dan sarana pembelajaran yang sangat baik tanpa memberatkan beban biaya kepada para mahasiswa.
Yayasan Sasmita Jaya sendiri didirikan dan dipimpin oleh almarhum Dr. (Hc) Drs. H. Darsono. Saat ini yayasan dipimpin oleh putra pertamanya, Dr. Paranoto, SE, MM.
Untuk dosen, evaluasi tidak hanya berbasis publikasi. UNPAM juga mengukur akhlak dan dampak sosial. Kampus mendorong dosen mengikuti pelatihan, workshop, dan seminar.
Selain itu ada Lembaga Kajian Keagamaan (LKK) yang menjalankan program UNPAM Mengaji, ceramah keagamaan, UPZ, peduli lingkungan sosial, program qurban di kampus, santunan yatim dan duafa, hingga pelatihan pemulasaran jenazah.
“Tentu kami memberlakukan standar etik bagi civitas akademika UNPAM. Jika melanggar maka kami berikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku,”tegas Rektor.
“Laboratorium Peradaban” di Desa
UNPAM juga siap berkomitmen membina desa/kelurahan sebagai laboratorium pengabdian. “Alhamdulillah, di berbagai prodi ada program desa binaan yang telah berjalan. Kegiatannya selain dilakukan oleh para dosen juga melibatkan para mahasiswa,”ujarnya.
Sinergi yang dilakukan fokus pada penguatan kapasitas SDM desa atau kelurahan, UMKM, pendidikan, dan literasi hukum. Indikator keberhasilannya diukur dari kemampuan warga menggunakan aplikasi IT, meningkatnya animo terhadap pendidikan, dan administrasi UMKM yang lebih tertib.
Nurzaman berharap UNPAM terus eksis dan menjadi kampus yang paling mudah diakses masyarakat tanpa menurunkan kualitas.
“Tentu UNPAM harus tetap eksis dan semakin memudahkan masyarakat untuk mengakses pendidikan tinggi dengan tetap menjaga dan meningkatkan kualitas. Untuk menambah kepercayaan masyarakat, suatu saat UNPAM diharapkan meraih akreditasi Unggul,” pungkasnya.


