BERITA TERBARU
Harris Turino Minta Batas Defisit APBN Tetap 3 Persen Elvy Sukaesih Meriahkan HUT ke-70 Muba, Ribuan Warga Padati Lapangan Sekayu Tegaskan Pentingnya Suara Masyarakat, Pemerintah Perbarui Komitmen Sinergi SP4N-LAPOR! KAI Kooperatif dalam Proses Hukum dan Pastikan Pendampingan bagi Masinis Terkait Insiden Bekasi Timur KAI Kooperatif dalam Investigasi Keselamatan dan Tindak Lanjuti Rekomendasi KNKT Bawa Sport Tourism Indonesia ke Panggung Dunia, BRI Dukung Penuh Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) 2026 Melalui BAZNAS RI, MINISO Salurkan Bantuan Rp62,4 Juta untuk Warga Terdampak Gempa NTT dan Ajak Perusahaan Lain Turut Berkolaborasi Lima Kabupaten/Kota Sumut Dipulihkan, Kementerian PU Percepat Layanan Air Minum dan Sanitasi Pascabencana BAZNAS RI Perkuat Legalitas Aset Hibah Muzaki, Optimalkan Manfaat bagi Umat Kemnaker Manfaatkan AI untuk Verifikasi Mitra Penyelenggara dan Peserta MagangHub
TREN

BRIN dan Inovasi Keripik: Mengangkat Hasil Bumi Menjadi Produk Bernilai Tinggi

BRIN dan Inovasi Keripik: Mengangkat Hasil Bumi Menjadi Produk Bernilai Tinggi
dok. Pngtree

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tak hanya bergerak di bidang teknologi canggih atau penelitian besar, namun juga menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk lewat inovasi pengolahan pangan lokal. Salah satu yang menarik perhatian adalah upayanya menyempurnakan pembuatan keripik—makanan ringan yang sangat akrab di lidah orang Indonesia, namun selama ini sering menghadapi kendala seperti cepat melempem, kandungan minyak berlebih, dan kualitas yang belum seragam. Lewat riset terpadu, BRIN membuktikan bahwa inovasi sains bisa mengubah keripik sekadar jajanan pasar menjadi produk unggulan yang kompetitif, sehat, dan bernilai ekonomi tinggi.

Selama ini, keripik biasanya dibuat dengan cara digoreng rendam dalam minyak panas dalam waktu lama. Cara ini membuat kandungan lemaknya tinggi, mudah tengik, dan kurang ramah bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan. Melalui penelitian di Pusat Riset Pangan dan Gizi, tim BRIN mengembangkan teknik penggorengan vakum dan pengaturan suhu bertingkat. Metode ini memungkinkan penggorengan berlangsung pada tekanan rendah sehingga titik didih minyak turun. Hasilnya, keripik matang sempurna dengan kandungan minyak yang jauh lebih rendah—bisa turun hingga 30-40 persen dibanding cara biasa—tetapi tetap renyah, warnanya alami, dan rasa asli bahan baku tidak rusak. Selain itu, umur simpannya menjadi jauh lebih lama tanpa perlu menambahkan bahan pengawet buatan yang berlebihan.

Inovasi tak berhenti pada proses pembuatan saja. BRIN juga mengembangkan ragam keripik dari bahan baku yang sebelumnya kurang dimanfaatkan atau hanya dianggap limbah pertanian. Mulai dari singkong, pisang, ubi jalar, talas, hingga buah-buahan lokal seperti nangka, sukun, dan bahkan sayuran seperti buncis dan wortel. Dikembangkan pula keripik dengan nilai gizi lebih tinggi, misalnya yang diperkaya serat, protein nabati, atau zat gizi mikro yang sering kurang dalam makanan sehari-hari. Teknik pemotongan, pengolahan awal, hingga pencampuran bumbu pun disesuaikan agar cita rasa khas daerah tetap terjaga namun tampilannya lebih menarik dan seragam.

Yang paling penting, hasil riset ini tidak disimpan begitu saja, melainkan disebarluaskan kepada masyarakat luas, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). BRIN mengadakan pelatihan, pendampingan teknis, hingga membantu penyusunan standar mutu dan kemasan yang baik. Banyak pengusaha keripik rumahan yang awalnya hanya mengandalkan perasaan dan pengalaman turun-temurun, kini mulai memahami pentingnya menjaga kebersihan, mengukur takaran yang pas, dan memilih kemasan yang benar agar produknya tahan lama dan layak dipasarkan lebih luas, bahkan hingga ke luar negeri.

Dampak dari inovasi ini sangat terasa. Petani mendapatkan pasar yang lebih pasti karena bahan bakunya terserap lebih banyak. Pelaku usaha memiliki produk yang lebih sehat, awet, dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Masyarakat pun semakin bangga karena jajanan tradisional kita ternyata bisa dikembangkan dengan ilmu pengetahuan agar setara dengan produk makanan ringan impor.

Lewat inovasi keripik ini, BRIN memberikan pesan sederhana namun bermakna: kemajuan teknologi dan riset bukanlah hal yang jauh dari kehidupan kita. Justru tujuannya adalah untuk mempermudah, meningkatkan kualitas, dan memberi manfaat nyata bagi banyak orang. Keripik yang kita nikmati setiap hari kini bukan sekadar camilan, melainkan bukti nyata kolaborasi antara kearifan lokal dan ilmu pengetahuan modern yang mampu mengangkat martabat produk dalam negeri.