4 Tahun Tragedi Kanjuruhan, Keluarga Korban Masih Menanti Keadilan
Empat tahun Tragedi Kanjuruhan diperingati pada Kamis (1/10/2026). Peristiwa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, pada 1 Oktober 2022 itu menewaskan sedikitnya 135 orang dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban serta masyarakat Indonesia.
Hingga empat tahun berlalu, tuntutan keadilan bagi para korban masih menjadi perhatian. Tragedi yang terjadi setelah pertandingan sepak bola tersebut menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah persepakbolaan nasional.
Dikutip dari Radar Cirebon, penggiat media sosial Willy Alfarius turut mengenang peristiwa tersebut melalui unggahannya. Dia mengingatkan bahwa tragedi itu tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga meninggalkan luka yang belum sepenuhnya pulih.
“Tepat 4 tahun yang lalu, tragedi Kanjuruhan merenggut 135+ nyawa dan menyisakan luka yang tak pernah benar-benar sembuh,” tulis Willy Alfarius.
Empat tahun setelah kejadian, Stadion Kanjuruhan telah menjalani renovasi. Namun, ingatan tentang tragedi tersebut tetap hidup, terutama bagi keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta.
Penggunaan gas air mata oleh aparat di dalam stadion setelah pertandingan menjadi salah satu sorotan utama dalam peristiwa tersebut. Insiden itu juga memicu desakan evaluasi menyeluruh terhadap pengamanan pertandingan sepak bola di Indonesia.
Selain kehilangan anggota keluarga, tragedi tersebut meninggalkan persoalan kepercayaan masyarakat terhadap aparat keamanan.
Penggiat media sosial Rifqy Setiyanto menyoroti dampak sosial yang dirasakan warga Malang setelah kejadian. Menurutnya, kekecewaan terhadap penanganan kasus dan sikap aparat membuat masyarakat menyuarakan protes serta tuntutan agar kasus tersebut diusut tuntas.
Dia juga mengenang suasana ketika sejumlah pos aparat dipasangi poster berisi kecaman dan tuntutan keadilan. Situasi itu memperlihatkan besarnya kekecewaan masyarakat setelah tragedi terjadi.
Rifqy mempertanyakan makna kehadiran aparat apabila masyarakat belum sepenuhnya merasakan keamanan. Baginya, Tragedi Kanjuruhan bukan hanya tentang hilangnya nyawa, melainkan juga rusaknya kepercayaan publik terhadap pihak yang bertugas memberikan perlindungan.
“Tidak ada sepak bola seharga nyawa,” menjadi pesan yang kembali digaungkan dalam peringatan empat tahun tragedi tersebut.
Peringatan ini menjadi pengingat bahwa keselamatan suporter harus menjadi prioritas dalam setiap pertandingan. Masyarakat berharap penegakan hukum dan evaluasi pengamanan terus mendapat perhatian agar tragedi serupa tidak kembali terulang.


