BERITA TERBARU
4 Tahun Tragedi Kanjuruhan, Keluarga Korban Masih Menanti Keadilan Silaturahmi Alumni Sunan Drajat, Wamen Viva Yoga Ajak Alumni Santri Kembangkan Perekonomian di Kawasan Transmigrasi Hari Kesaktian Pancasila, Kementan Tegaskan Gotong Royong Jadi Kekuatan Swasembada Pangan Pertamina UMK Academy 2026 Hadirkan Pelatihan dan Pendampingan Pengembangan Usaha Penerapan ESG Diakui Dunia, BRI Jadi Satu-satunya Bank di Indonesia yang Masuk S&P Global Sustainability Yearbook 2026 Ajinomoto dan BAZNAS Hadirkan Dapur Umum Bantu Warga Terdampak Bencana di Flores Banjir Bangkok Ganggu 330 Penerbangan Thai Airways, 5.600 Bagasi Tertahan PT Asahimas Chemical dan 7 SMA/SMK Kunjungi PIPB, Perkuat Sinergi Pengembangan SDM Industri Petrokimia Pengukuran Terjadwal, Warga Kota Bengkulu Rasakan Presisi Waktu Jadwal Ukur Tanah Prabowo Siapkan BSU Rp900 Ribu untuk 13,3 Juta Pekerja
SPORT

4 Tahun Tragedi Kanjuruhan, Keluarga Korban Masih Menanti Keadilan

4 Tahun Tragedi Kanjuruhan, Keluarga Korban Masih Menanti Keadilan
dok. radarcirebon.com

Empat tahun Tragedi Kanjuruhan diperingati pada Kamis (1/10/2026). Peristiwa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, pada 1 Oktober 2022 itu menewaskan sedikitnya 135 orang dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban serta masyarakat Indonesia.

Hingga empat tahun berlalu, tuntutan keadilan bagi para korban masih menjadi perhatian. Tragedi yang terjadi setelah pertandingan sepak bola tersebut menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah persepakbolaan nasional.

Dikutip dari Radar Cirebon, penggiat media sosial Willy Alfarius turut mengenang peristiwa tersebut melalui unggahannya. Dia mengingatkan bahwa tragedi itu tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga meninggalkan luka yang belum sepenuhnya pulih.

“Tepat 4 tahun yang lalu, tragedi Kanjuruhan merenggut 135+ nyawa dan menyisakan luka yang tak pernah benar-benar sembuh,” tulis Willy Alfarius.

Empat tahun setelah kejadian, Stadion Kanjuruhan telah menjalani renovasi. Namun, ingatan tentang tragedi tersebut tetap hidup, terutama bagi keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta.

Penggunaan gas air mata oleh aparat di dalam stadion setelah pertandingan menjadi salah satu sorotan utama dalam peristiwa tersebut. Insiden itu juga memicu desakan evaluasi menyeluruh terhadap pengamanan pertandingan sepak bola di Indonesia.

Selain kehilangan anggota keluarga, tragedi tersebut meninggalkan persoalan kepercayaan masyarakat terhadap aparat keamanan.

Penggiat media sosial Rifqy Setiyanto menyoroti dampak sosial yang dirasakan warga Malang setelah kejadian. Menurutnya, kekecewaan terhadap penanganan kasus dan sikap aparat membuat masyarakat menyuarakan protes serta tuntutan agar kasus tersebut diusut tuntas.

Dia juga mengenang suasana ketika sejumlah pos aparat dipasangi poster berisi kecaman dan tuntutan keadilan. Situasi itu memperlihatkan besarnya kekecewaan masyarakat setelah tragedi terjadi.

Rifqy mempertanyakan makna kehadiran aparat apabila masyarakat belum sepenuhnya merasakan keamanan. Baginya, Tragedi Kanjuruhan bukan hanya tentang hilangnya nyawa, melainkan juga rusaknya kepercayaan publik terhadap pihak yang bertugas memberikan perlindungan.

“Tidak ada sepak bola seharga nyawa,” menjadi pesan yang kembali digaungkan dalam peringatan empat tahun tragedi tersebut.

Peringatan ini menjadi pengingat bahwa keselamatan suporter harus menjadi prioritas dalam setiap pertandingan. Masyarakat berharap penegakan hukum dan evaluasi pengamanan terus mendapat perhatian agar tragedi serupa tidak kembali terulang.