BERITA TERBARU
Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara Tantangan Belajar Agama di Era Digital Israel Cabut Status Diplomatik Diplomat Belanda, Hubungan Kedua Negara Memanas BAZNAS Bangun Huntara untuk Penyintas Gempa NTT Kementerian PU Buka Alur Sungai dan Perkuat Tebing Pascabanjir Terjang Tapanuli Tengah Kementerian PU Operasikan Tiga Pompa untuk Tangani Kekeringan Sawah di Bekasi Yang Seung Hye, Fencer Korea yang Viral di Asian Games 2026 karena Disebut Mirip AI Sekjen ATR/BPN Tekankan Penyusunan Anggaran 2027 Harus Terukur dan Berdampak bagi Masyarakat 66 Tahun Peringatan UUPA, Kementerian ATR/BPN Akselerasi Sejumlah Program Strategis di Bidang Pertanahan dan Tata Ruang
OPINI

Rivalitas Amerika dan Cina di Selat Malaka: SebuahPeluang bagi Indonesia ?

Rivalitas Amerika dan Cina di Selat Malaka: SebuahPeluang bagi Indonesia ?
dok. Ilustrasi

A. Latar Belakang

Selat Malaka telah menjadi jalur laut tersibuk dalam aktivitasekspor dan impor pada perdagangan internasional. Secarageografis Selat merupakan jalur laut sempit yang memotong rutedari Samudera Hindia menuju Laut Cina Selatan dan SamuderaPasifik. Posisi strategis Selat Malaka membuat negara super power seperti Amerika dan Cina berkontestasi untuk menguasaiwilayah tersebut. Faktor lainnya yang membuat rivalitas keduanegara menguat di Selat Malaka yakni intensitas kekuatanmiliter dan potensi sumber ekonomi maritim.

Sesuai hukum internasional, wilayah ini dikendalikan olehIndonesia, Malaysia, dan Singapura. Wilayah pantai terpanjangdimiliki oleh Indonesia sehingga berpotensi penting dalampengendalian Selat Malaka. Indonesia secara historis hinggasekarang menjadi kontestasi pengaruh Amerika dan Cinakhususnya Selat Malaka. Cina memperkuat kerjasama ekonomidengan Indonesia melalui the Maritime Silk Road dan PorosMaritim Dunia. Sebaliknya, Amerika meningkatkan kerjasamamiliter Indonesia untuk mengendalikan Selat Malaka. Amerikamenggunakan Selat Malaka sebagai negosiasi terhadap Cinauntuk menjamin eksistensi Taiwan di Asia Timur.

Singkatnya, Indonesia diantara Amerika dan Cina memilikikepentingan nasional, begitupun kedua negara superpower berusaha memengaruhi Indonesia dengan tujuan mengendalikanSelat Malaka. Pertanyaan mendasar pada dinamika ini adalah‘apakah Indonesia bisa memaksimalkan peluang diantararivalitas Amerika dan Cina melalui Selat Malaka’.

B. Rivalitas Amerika dan Cina

Kebijakan Pivot to Asia adalah landasan utama kehadiranAmerika di Selat Malaka. Tidak sendiri, Amerika bersamaJepang dan India memainkan peranan di Selat Malaka untukmembangun keamanan laut khususnya ancaman pembajakan.Meskipun kebijakan Amerika bukan menjamin keterbukaannavigasi melainkan upaya mencegah perluasan Cina di Asia Tenggara. Tiga negara pengendali Selat Malaka yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Apabila dipetakan Indonesia danMalaysia berada di pihak Cina meskipun kedua negaraterkadang netral. Sedangkan Singapura secara penuh berada di pihak Amerika terbukti Singapura memiliki program emergensiuntuk intersepsi pasokan minyak ke Cina. Amerika juga terdapatakses penuh atas angkatan militer Singapura dalam pengawasanpasokan energy ke Cina.

Perspektif Cina melihat geopolitik Selat Malaka sebagaiMalacca Dilemma yang diperkenalkan oleh Presiden Hu Jintao pada 2023. Cina sangat bergantung pada jalur Selat Malakadalam memasok kebutuhan energi domestik. Sebanyak 60 persen pasokan energi Cina melalui rute tersebut sehinggamembutuhkan jaminan kelancaran proses impor energi. Ketergantungan Cina memunculkan ketakutan apabila Amerikamengendalikan penuh melalui Singapura. Realitas inimengharuskan Cina memperkuat mitra strategis di Indonesia dan Malaysia dalam rangka menyeimbangkan kekuatanAmerika.

Rivalitas Amerika dan Cina di Selat Malaka disebabkankepentingan berbeda serta bertolak belakang. Amerika berupayauntuk menguasai Selat Malaka bukan hanya keberbasanbernavigasi melainkan mengendalikan rute pasokan energy Cina. Sedangkan, Cina berkepentingan agar jalur Selat Malakatetap terbuka, terjamin, dan kebebasan navigasi tanpa adanyaintervensi Amerika.

C. Peluang Indonesia di Selat Malaka

Indonesia sebagai negara middle power memiliki pendekatandalam memengaruhi atau penengah (mediator) pada rivalitasAmerika dan Cina. Respon Indonesia terhadap rivalitas Amerikadan Cina melalui prinsip bebas aktif dengan diplomasimultilateral. Prakteknya, Indonesia berusaha di tengah atau tidakmemihak salah satu negara dengan kepentingan memaksimalkanpeluang geopolitik Selat Malaka. Ketergantungan Cina padajalur laut Selat Malaka dipandang peluang bagi Indonesia dalampembangunan infrastruktur domestik. Indonesia berhasilmembangun Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara danPelabuhan Bitung di Sulawesi Utara melalui investasiinfrastruktur Cina.

Gagasan Indonesia tentang Poros Maritim Dunia mendapatkandukungan penuh Cina atas dasar kesamaan visi The Maritime Silk Road. Pembangunan infrastruktur melalui investasi Cinadan daya tawar geopolitik Selat Malaka menjadi peluang besarIndonesia dalam bentuk berbagai keuntungan. Keuntunganekonomi berupa investasi infrastruktur, tidak hanya pelabuhanmelainkan jalan raya, jembatan, dan proyek strategis lainnya.Cina memberikan investasi infrastruktur berharap Indonesia memperjuangkan kebebasan navigasi di Selat Malaka. Sebanyak60 persen impor energi Cina melalui Selat Malaka sehinggasangat bergantung terhadap keterbukaan jalur tersebut.    

Di sisi lain, Indonesia memaksimalkan peluang kerjasamamiliter dengan Amerika melalui pendirian Pusat PelatihanMaritim di Batam. Kerjasama ini bertujuan penguatan militerbersama untuk menciptakan keamanan di Selat Malaka dan LautCina Selatan. Wilayah ini harus mendapatkan jaminankeamanan dari perompak, human trafficking, dan illegal fishing, sehingga dibutuhkan peningkatan kapasitas militer Indonesia.Indonesia secara tidak langsung memanfaatkan kerjasamamiliter Amerika sebagai strategi balancing terhadap Cina atasklaim sepihak di Pulau Natuna dan Laut Cina Selatan.Pemerintah Cina akan lebih berpikir panjang dan tidak bisamengklaim sepihak atas kedaulatan Indonesia.

D. Kesimpulan

Rivalitas Amerika dan Cina di Asia Tenggara memunculkanDilema Malaka yang berdampak pada stabilitas regional.Indonesia sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di SelatMalaka berperan menjadi navigasi diantara rivalitas Amerikadan Cina. Aspek geopolitik Indonesia memberikan keuntunganbargaining terhadap kepentingan Amerika dan Cina. Indonesia seperti ‘mendayung diantara dua karang’ memperolehkeuntungan ekonomi dan militer secara bersamaan. Keuntunganekonomi berasal dari investasi infrastruktur Cina danpeningkatan kapasitas militer Amerika. Investasi Cina sesuaiprioritas kebijakan pembangunan infrastruktur di Indonesia.Sedangkankerjasama militer Amerika tidak hanya mencegahaktivitas ilegal di laut melainkan upaya mencegah Cinamengklaim Pulau Natuna kembali. Dengan kata lain, prinsipbebas aktif, diplomasi multilateral, dan netralitas menjadistrategi Indonesia untuk memaksimalkan peluang pada rivalitasAmerika dan Cina di Selat Malak.

Kategori: Opini